YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
346


__ADS_3

Pikiran Yumna tidak bisa tenang setelah tadi dia bertemu dengan Vio. Melihat bagaimana tadi raut wajah Haidar yang telah berubah. Dia mengira bahwa Haidar masih menaruh hati kepada wanita itu. Yumna merasa kecewa, karena Haidar tiba-tiba saja diam setelah bertemu dengannya. Semoga saja apa yang dikatakan Haidar tadi bukan sesuatu yang patut untuk dia curigai. Akan tetapi, meskipun begitu tetap saja jika dia masih merasa khawatir.


Haidar telah tertidur dengan sangat lelap, tapi tidak begitu dengan Yumna. Dia masih saja memikirkan Haidar dan juga Vio. Dia menatap Haidar yang telah menutup matanya, menatap suaminya itu dengan tatapan yang lembut.


"Apa kamu bisa dipercaya?" gumam Yumna pelan sambil mengusap pipi Haidar. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan hatinya, hanya saja sekarang ini dia harus lebih menguatkan diri lagi. Semua bisa saja terjadi meskipun dia berusaha untuk menyangkalnya. Lagi pula ini bukanlah untuk yang pertama kali di dalam kehidupannya bersama dengan Haidar, bahkan sebelumnya juga pernah diduakan. Tidak, tapi dia yang menjadi orang ketiga.


***


Setelah pertemuan malam itu dengan Viola, Haidar tidak bisa melupakan wajah wanita itu. Bukan karena dia masih memiliki hati, tapi melihat penampilan Viola membuatnya merasa bingung dan juga kasihan. Bisa jadi jika wanita itu sedang memiliki masalah.


Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang dari luar, membuat Haidar tersentak dan tersedak jika dirinya dosa dari tadi melamun. Tidak lama pintu itu terbuka dan seorang wanita masuk ke dalam sana.


"Ini berkas yang Bapak minta, apakah ada yang lain yang bisa saya bantu lagi?" tanya sang sekretaris kepada Haidar.


Haidar mengambil map yang baru saja disodorkan oleh sekretarisnya, membuka, dan membacanya. Dia lalu mengangkat tangannya. Sang sekretaris mengerti dengan kode dari atasannya tersebut sehingga dia berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Akan tetapi, hal itu tidak cukup membuat Haidar berhenti memikirkan Viola, sampai-sampai dia sendiri merasa kesal akan pemikirannya itu.

__ADS_1


Akhirnya Haidar mengambil hp-nya dan menghubungi seseorang. Dia menunggu beberapa saat lamanya sehingga panggilan tersebut diangkat oleh seseorang.


"Apa kamu tahu sesuatu tentang Vio?" tanya Haidar kepada temannya itu.


"Ada apa? Kenapa kamu bertanya tentang dia?" tanya laki-laki itu dengan bingung.


"Dia sudah kembali ke sini."


"Terus?" tanyanya tidak mengerti.


"Aku nggak tahu soal itu. Aku kira dia masih berada di luar negeri. Kenapa dia tiba-tiba pulang ke sini?" tanya laki-laki itu balik kepada Haidar, lalu tersadar jika Haidar pun telah bertanya kepadanya.


"Aku akan cari tahu soal dia," ucapnya kemudian mematikan telepon. Haidar kembali pada pekerjaannya dan berusaha untuk memfokuskan dirinya.


Dia teringat jika dulu Viola adalah wanita yang anggun dan sangat berseka. Tidak pernah berpenampilan lusuh, apalagi seperti tadi.

__ADS_1


Tidak lama dering telepon yang tadi terdengar kembali, masih dari seseorang yang Haidar kenal.


"Dari informasi yang aku dapat, dia kembali ke sini karena mendapatkan siksaan dari pria yang bersamanya. Hubungan mereka tidak baik, dan dia kabur kembali ke negara ini. Tapi dia tidak bisa kembali ke rumahnya."


"Kenapa?" tanya Haidar.


"Karena semua propertinya sudah disita oleh bank."


Pernyataan laki-laki itu membuat Haidar terkejut. Pasalnya, selama ini dia tidak pernah mendengar kabar yang seperti itu. Dia juga tidak berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi kepada Viola. Biasanya wanita itu akan mencarinya dan menghubunginya jika dia berada dalam masalah.


"Kenapa bisa disita oleh bank?" tanya Haidar penasaran.


"Dia memiliki utang yang cukup banyak setelah kalian berpisah. Dan ... dia juga telah menjadi wanita simpanan dari beberapa pengusaha. Yang terakhir telah melakukan kekerasan fisik kepadanya. Maka dari itu dia kembali pulang."


"Terus sekarang dia tinggal di mana?" tanya Haidar sekali lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi khawatir jika Viola menggelandang di jalanan.

__ADS_1


"Aku akan kirimkan alamatnya nanti," ucap laki-laki itu sebelum menutup panggilannya.


__ADS_2