YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
192. Masih Sama Seperti Yang Dulu


__ADS_3

Yumna memutar bola mata malas saat kembali ke meja makan. Dia tahu keluarganya ini pastilah sudah mengintipnya. Terbukti dari cara duduk mereka yang berubah. Mama ada di meja papa, sedangkan Syifa duduk di samping Arkhan, hal yang tidak pernah mereka lakukan di kala normal.


"Ma, Pa. Aku akan berangkat duluan, ya." Pamit Yumna pada kedua orang tuanya.


"Eh, ini gak kamu habiskan makannya?" tanya Lily, menunjuk piring milik Yumna, masih sisa setengah.


"Enggak. Aku ada yang jemput. Boleh, kan aku duluan pergi. Soalnya gak enak juga dia sudah pagi-pagi jemput aku kesini," ujar Yumna seraya mengambil tasnya dan memakainya di pundak.


"Siapa tuh yang jemput?" goda Syifa dengan senyum jahilnya. Azkhan juga sama, dia tersenyum dengan rasa ingin tahu, sedangkan saudara kembarnya hanya memalingkan muka saat Yumna menoleh ke arahnya. Lily dan Bima? Ah entahlah, ekspresi mereka tidak terbaca, sepertinya mereka sudah banyak sekali mengenyam banyak pengalaman soal bersikap.


"Kalian sudah tau, kenapa juga harus berpura-pura gak tau?!" seru Yumna lalu mendekat ke arah Lily dan juga Bima untuk mengecup pipi mereka sebelum pergi dari sana.


"Aku berangkat dulu, bye!" tangan Yumna melambai, tak peduli lagi dengan ekspresi dua orang yang kini menatapnya tak suka. Siapa lagi kalau bukan Bima dan juga Arkhan.


Yumna keluar dari gerbang dan mendekat ke mobil Haidar. Haidar yang kini sedang menyandarkan dirinya pada pintu mobil kini berjalan untuk membukakan pintu. Yumna tersenyum dengan canggung, tapi dia masuk ke dalam mobil itu.


"Jangan lupa, seatbelt-nya." Tunjuk Haidar pada sabuk pengaman yang ada di samping Yumna.


Yumna terlalu canggung satu mobil dengan pria itu hingga dia lupa hal yang penting. Segera Yumna memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.


Mobil pun kini melaju pada jalanan yang mulai ramai. Mereka berdua tidak bicara apapun selama setengah perjalanan itu.

__ADS_1


Yumna lebih banyak menatap telapak tangannya, sedangkan Haidar lebih fokus pada jalanan di depan.


Keduanya menyadari jika akan ada kecanggungan diantara mereka berdua, tapi mungkin lama kelamaan tak akan ada lagi rasa canggung itu jika mereka sering bertemu nantinya.


"Apa ... Mama dan Papa marah aku jemput kamu?" tanya Haidar pada Yumna.


Yumne menoleh pada Haidar, lalu menggelengkan kepalanya.


"Gak ada yang marah," ucap Yumna membuat Haidar menghela napasnya dengan lega.


"Aku gak sebut siapa yang jemput aku, sih." Tambah Yumna lagi, kini membuat pria itu menurunkan kedua bahunya dengan lesu.


"Tapi tadi Mama dan Papa ngintip, sih." ujarya lagi. Haidar refleks menolehkan kepalanya kepada Yumna.


"Hah?" tanya Haidar dengan bingung.


"Tanpa aku bicara, mama dan papa juga sudah tau karena mereka tadi mengintip." Yumna menjelaskan. Dia bagai kembali kepada masa dulu, selalu terbuka dengan pria ini.


Haidar tertawa kecil mendengar ucapan Yumna barusan. "Sepertinya kedua orangtua kita memang sama, ya? Apa memang para orangtua memang seperti itu, ya?" tanya Haidar pada Yumna. Yumna pun sama terkekeh mendengar ucapan Haidar barusan.


"Mungkin saja." Haidar tersenyum senang, bisa melihat tawa Yumna sepagi itu adalah moodbooster baginya. Cukup untuk membuat dirinya bisa semangat di hari ini.

__ADS_1


Yumna menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Ini masih sangat pagi untuk Haidar. Biasanya, dulu, pria ini masih tidur di jam seperti ini, hingga dia harus dibangunkan secara kasar olehnya. Haidar pria yang tidak gampang untuk dibangunkan.


Yumna tertawa terkekeh mengingat hal yang dulu sering dia lakukan saat masih menjadi istri Haidar hingga membuat pria itu mengernyitkan keningnya dengan bingung.


"Kenapa tertawa?" tanya Haidar yang ingin tahu.


"Kepo!" jawab Yumna dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku kan cuma ingin tahu, masa gak boleh. Kamu ketawa sendiri, kayak ...." Haidar sengaja menggantung ucapannya, berharap ....


"Apa?!" seru Yumna sambil memukul lengan Haidar dengan cukup keras.


Ini dia yang Haidar tunggu. Apakah sifat barbar Yumna masih sama seperti dulu?


"Enggak! Aku kan belum selesai bicara kenapa kamu marah?" tanya Haidar dengan tertawa, dia mengangkat satu tangannya, untuk menahan pukulan yang diberikan Yumna lagi.


"Nyebelin! Makanya kalau bicara itu yang jelas. Jangan dipotong-potong seperti itu!" ujar Yumna dengan sambil memanyunkan bibirnya.


Yumna menarik tangannya dengan kasar. Menyebalkan sekali, pagi ini dia sudah disamakan dengan seseorang yang Yumna yakin itu adalah orang gila.


"Haha!" Haidar hanya tertawa. Yumna masih orang yang sama ternyata. Begitu juga dengan Yumna, Haidar masih sama seperti dulu, masih saja suka membuat dirinya kesal. Akan tetapi, kenapa sekarang dia bahagia dibuat kesal seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2