YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
205. Ingat Siapa Diri Kamu


__ADS_3

"Hp Syifa gak ada, Ma!" Seru Syifa pada sang mama. Dia menatap pada Mama Lily sambil tangannya meraih apapun yang ada di dalam tasnya.


"Ha? Kok gak ada? Kemana?" tanya Lily. Syifa menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Padahal dia sangat yakin jika hp itu masih ada bersamanya tadi.


Bima sudah selesai dengan pakaian dan juga jaketnya. Pria yang kini sudah berusia lima puluh tahun lebih ini baru saja ke luar dari rumah itu dan mendapati anak gadisnya sudah pulang.


"Loh, ini Syifa sudah pulang." Tunjuk Bima pada sang putri.


"Iya, Syifa memang sudah pulang," jawab Lily.


"Pa, hp Syifa gak ada!" kini Syifa melapor pada Papanya. Dia mendekat ke arah sang papa dan memeluk Bima dengan erat. Syifa terlihat sangat manja sekali dengan papanya ini.


"Hp kamu hilang?" tanya Bima mengulang. Syifa menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa?" tanya Bima dengan lembut.


"Kayaknya jatuh tadi," jawab Syifa.


"Ya sudah, yang penting kamu sudah pulang. Ayo masuk ke dalam rumah," ajak sang papa pada putrinya.


Syifa mengangguk sedangkan Lily hanya mendengkus kesal karena dia tidak bisa mengomeli sang putri jika sudah bersama dengan ayahnya. Bima dan Syifa meninggalkan Lily seorang diri di luar sana.


Syifa kini sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Dia hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri. Tak ada hp membuat dia hanya terbengong kini.


"Bosan sekali!" gumamnya. Dia menggulingkan lagi tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil memeluk boneka kesayangannya. Biasanya sebelum tidur dia akan menonton film drakor atau sekedar berchating ria dengan teman-teman sebayanya. Kini Syifa hanya bisa menggerakkan tubuhnya sebagai penghilang rasa sepi di kamar itu.


"Akh! Menyebalkan sekali!" Serunya, kesal. Syifa kini duduk bangkit dan mulai melangkah ke luar dari kamarnya menuju ke lantai bawah.

__ADS_1


***


Juan mengendarai mobilnya menuju ke rumah. Ini sudah jam sepuluh malam lebih. Hasrat untuk pergi tak jadi karena dia tadi mengantarkan Syifa untuk pulang. Rasanya mood yang ada pada dirinya kini sudah lebih baik.


Pandangan Juan terpaku pada benda yang ada di bawah dashboard. Menyala dan mati, menyala lagi dan kemudian mati lagi. Dia mencoba meraih benda itu, tapi sulit untuk dia raih karena sedang mengemudi.


Kini Juan menghentikan laju kendaraannya di jalaan yang sepi dan mengambil benda tersebut.


Apa ini hp Syifa? gumamnya dalam hati sambil menatap hp yang telah ada di tangannya. Tak ada lagi panggilan yang masuk ke dalam hpnya itu. Juan mencoba untuk membuka hp yang tidak terkunci hingga kemudian terpampanglah wajah Syifadengan jelas di seluruh layar hp itu. Dia tersenyum seraya menggelengkan kepala atas kecerobohan seorang gadis. Berpikir seharusnya benda penting dengan bersifat pribadi seperti ini dia kunci dengan baik.


Pesan dan panggilan sangat banyak di hp itu, bunyi notifikasi terus saja berdatangan terutama dengan judul film korea yang ada di paling atas layar.


"Apa aku harus mengantar ini?" Juan bergumam seraya berpikir sejenak. Jam yang ada di layar hp itu kini menunjukkan pukul sepuluh lebih. Kini dia terdiam, Syifa pasti sedang mencari hpnya ini di rumah, tapi kalau dia kembali dan mengantarkan benda ini lagi ... ini kan sudah malam, akan sampai jam berapa dia di rumah Syifa?


Dia memasukkan hp milik Syifa ke dalam saku bajunya sebelum kembali melajukan mobilnya menuju pulang. Lebih baik besok saja lagi dia mengantarkan hpnya.


***


"Belum, Ma. Gak bisa tidur," jawab Syifa. Dia ingat tadi sempat tertidur di mobil Juan hingga kini dia tidak bisa tidur lagi.


"Besok bukannya kamu ada kelas pagi?" tanya Lily. Kini dia mendudukkan dirinya di samping sang putri yang sedang asyik memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ada, tapi belum mengantuk, Ma," jawab Syifa dengan malas.


"Kamu itu tadi dari mana?" Lily mencoba untuk bertanya pada Syifa.


"Jalan sama Rani," jawab Syifa singkat.

__ADS_1


"Kenapa bisa semalam itu pulangnya?" tanya Lily lagi.


Syifa terkesiap, dia membenarkan duduknya menjadi tegak.


"Itu ... karena Syifa nunggu ojol, Ma. Kejebak macet ojolnya," jawab Syifa.


"Kenapa juga tidak telepon Mama dan minta kirim kan sopir?" tanya Mama dengan kesal.


"Mama ini khawatir dengan kamu, Syifa! Seharusnya kamu gak boleh pulang seperti tadi, apalagi hp kamu gak aktif. Bikin Mama panik!" Lily memberi peringatan pada sang putri.


Syifa hanya mengerucutkan bibirnya kala mendengar omelan mama yang mengandung nasehat, peringatan, dan juga rasa kesal. Syifa hanya diam mendengarkan dengan patuh, tahu jikalau dia menyela, omelan mama akan lebih pajang lagi melebihi gerbong kereta api.


"Mama itu sedari tadi nungguin kamu. Kamu gak pulang-pulang, bikin khawatir saja! Lagipula kenapa juga kamu harus tutupin identitas kamu kalau kamu adalah anggota keluarga Mahendra sih?" tanya Lily dengan kesal.


Syifa menyimpan makanan yang ada di pangkuannya dan mendekat pada Lily, kemudian memeluk sang mama hingga omelannya kini terhenti.


Syifa merebahkan kepalanya di dada Lily.


"Ma, Syifa hanya ingin mendapatan teman yang tulus berteman dengan Syifa. Bukan karena harta atau kedudukan. Mama tahu sendiri kalau kita ini sedang berada di atas dalam beberapa tahun ini. Perusahaan Papa bukan perusahaan kecil. Mama tahu sendiri kan bagaimana saat SMA mereka tahu kalau Syifa anak Papa Bima Satria Mahendra?" tanya Syifa, kini menatap sang mama dari tempatnya. Lily hanya mengelus rambut Syifa dengan sayang, mengingat dengan jelas bagaimana Syifa sedikit kesulitan saat mendapati hal yang semacam itu. Banyak sekali topeng yang tiba-tiba terpasang di wajah banyak orang di sekitar putrinya.


"Mam juga mengerti, kan?" tanya Syifa lagi. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang mama.


Lily kini mengangguk pelan.


"Tapi setidaknya kamu harus selalu menurut apa kata Mama dan juga Papa. Kamu boleh menutupi siapa diri kamu, tapi kamu juga harus ingat kalau kamu adlah bagian dari keluarga besar Mahendra," ucap Lily. Syifa menganggukkan kepalanya.


"Maafkan Syifa, Ma."

__ADS_1


__ADS_2