YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
139. Haidar Kualat


__ADS_3

"Haidaaarr!" teriak Mami sambil mendekat ke arah Haidar yang kini terbaring lemah.


Haidar tersenyum senang. Mami datang dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia kira mami sudah tidak peduli lagi padanya. Sikap mami setelah dirinya bercerai dengan Yumna masih saja dingin hingga sekarang.


"Mami!" senyum lebar Haidar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Haidar terlihat manja bak anak TK yang meminta diberi perhatian.


Mami datang mendekat dan berdiri di samping brankar tempat Haidar tidur. Air mata mami masih saja mengalir. Mami menyusut air matanya dengan punggung tangan.


"Kau ini .... Kenapa selalu saja menyusahkan ku, huh?! Kenapa kau bandel sekali! Kamu ini anak siapa ,sih? Gak pernah dengerin omongan orang tua! Gak pernah baik sama orang tua. Selalu saja melawan. Selalu saja membuat onar. Tuh, lihat kan sekarang apa yang terjadi sama kamu? Itu karena kamu kualat sama orangtua! Mami kan udah bilang. Jangan suka keluyuran malam-malam!" Mami dengan gemas memukuli lengan putranya yang tidak di perban. Bukan hanya memukul, tapi juga mencubitnya hingga memerah.


Ben, Agnes, dan papi melongo melihat perlakuan bar-bar Mami Mitha pada Haidar.


Haidar meringis kesakitan, ingin menghindar dari amukan sang mama. Namun, apalah daya. Dia tidak bisa bergerak dengan keadaannya yang seperti sekarang ini, yang ada Haidar hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya sedang dianiaya maminya sendiri. Ketiga orang yang lain pun hanya diam tidak berusaha menjauhkan mami yang terus saja menjatuhkan pukulan dan cubitan ala semut merah pada tangannya.


"Aww... Mami, sakit! Mami kok tega? Aku ini lagi sakit loh, Mam. Tulangku patah! Bukannya disayang kenapa aku malah dipukuli?" protes Haidar dengan wajah memelas. Mami berhenti memukuli putranya, dan kini terdiam. Duduk dengan lemas di kursi yang ada di dekatnya. Dipandangnya putranya yang kini tercoreng banyak luka di wajah gantengnya.

__ADS_1


Mami masih terdiam, tidak tahu lagi harus berkata apa. Mami hanya menatap Haidar dengan rasa sedih.


"Mi. Kenapa sih? Kok diam?" tanya Haidar dengan satu tangan melambai di depan wajah mami. Mami menepis tangan Haidar dengan kasar.


"Tidak sopan!" cerca Mami melotot ke arah Haidar.


"Lagian, Mami tadi datang-datang nangis, terus marah-marah, sekarang diam kayak patung. Gak jelas!" ejek Haidar.


"Jangan nambahin kualat kamu! Mau kamu mami kutuk gak nikah lagi?" tunjuk Mami dengan nada kesal karena perilaku anaknya yang sangat kurang sopan.


"Itu bibir kondisikan! Udah jadi duda juga, sok imut!" Mami mencomot wajah Haidar dengan gemas.


Ben, dan Agnes tergelak keras di belakang sana. Sedangkan papi hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan ibu dan anak itu.


"Mami maunya anak kamu sama Yumna! Gak mau yang lain!" seru Mami Mitha.

__ADS_1


Haidar berdecak dan melengoskan pandangan ke arah lain. Yumna dan Yumna. Kalau pun bisa Haidar menemukan Yumna, tidak akan dia lepaskan gadis itu lagi! Eh... Kenapa jadi posesif?


"Yang lain gak mau, Mi?" tanya Haidar.


"Enggak! Apalagi dengan wanita siluman kemarin itu!" cerca mami. Haidar tahu pasti siapa yang mami maksud.


"Kalau bisa kamu harus cari Yumna dan rujuk kembali dengan Yumna. Kamu kan juga belum jatuhkan kata talak sama Yumna, kalian bisa rujuk kembali!" seru mami dengan semangat.


Haidar menatap mami dengan mata membulat. "Bisa, Mi?"


"Ya bisa lah. Kan belum ada pernyataan talak, masih bisa bersatu kembali."


"Iya, Mi. Aku akan cari Yum ... Awww ..." Karena terlalu bersemangat Haidar sampai terbangun, ia lupa jika tangan dan kakinya patah. Rasa sakit seketika menjalar di tubuhnya.


"Bisa hati-hati gak sih? Kamu mau yang patah makin patah lagi?" cerca Mitha.

__ADS_1


Haidar bersungut kesal. Bukannya menenangkan atau mengasihani, malah menyumpahi. Wanita ini benar ibunya bukan sih?


__ADS_2