YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
271. Aku Suami Kamu


__ADS_3

"Aku mau mandi dulu, nanti tolong kalau makanan sudah sampai kamu siapkan, ya. Nanti malam kita belanja?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya.


Haidar kembali menyimpan hpnya dan pergi ke arah kamar mandi. Baru saja Yumna akan memakai pakaiannya tiba-tiba saja Haidar kembali ke dekatnya.


"Apa kamu punya handuk baru?" tanya Haidar mengagetkan Yumna. Yumna memegang erat handuknya yang tadi hampir saja dia lepas.


"Eh, itu ...." tunjuk Yumna pada deretan handuk yang ada di bagian atas lemari. Sedikit menyingkir dia untuk memberikan tempat kepada Haidar guna mengambil handuk tersebut.


"Aku mau mandi, kamu mau mandiin aku gak?" tanya Haidar menggoda sang istri sehingga lagi-lagi wajah Yumna memerah.


"Haha, kamu tuh ya. Gemes deh. Aku cuma bercanda. Belum waktunya kamu mandiin aku, tapi besok. Oke?" ujar Haidar. Kini benar-benar pergi sambil tertawa menang melihat istrinya yang hanya diam dan tidak berdaya untuk menjawab.


Yumna melirik ke arah kamar mandi yang benar-benar sudah tertutup dan segera memakai pakaiannya dengan benar.


Makanan yang Haidar pesan sudah sampai, Pak Dani yang membawanya ke dalam rumah.


"Terima kasih, Pak," ucap Yumna sambil menerima kantong kresek tersebut. Pak Dani tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Yumna masih terheran dengan Pak Dani karena laki-laki tersebut tidak menatap ke arahnya, melainkan ke arah lain


"Pak Dani kenapa?" tanya Yumna bingung.


Pak Dani yang sejak tadi diam seperti tersadar. "Ah, gak apa-apa, cuma ... hehe, gak jadi," ujar laki-laki itu.


"Eh, apa Pak Dani belum makan? Ini ...." Yumna membuka kresek tersebut, ada beberapa makanan yang hendak dia keluarkan.


"Eh, gak perlu, Mbak Yumna. Itu bagian Pak Dan sudah ada, kok. Tadi kurir bilang ada bagian Pak Dan juga, sudah diambil," ucap laki-laki paruh baya tersebut.


"Oh, beneran sudah?" tanya Yumna dengan tidak percaya.


"Sudah, Mbak. Mbak Yumna silakan menikmati makanan saja. Kan pastinya juga capek sudah Mas Haidar makan. Kalau begitu, saya pamit, ya. Kalau ada apa-apa telepon saja," ujar Pak Dan masih sambil tersenyum-senyum. Dia pun pergi dari sana meninggalkan Yumna yang terdiam dan mencoba mengartikan ucapan Pak Dani tadi.


"Astaga!" ujar Yumna, lalu berjalan dengan cepat ke arah hpnya dan menyalakan kamera bagian depan dan mengambil gambarnya.


"Aaakkkh!" seru Yumna, dia melihat beberapa bercak merah yang ada di leher. Teriakan Yumna terdengar oleh Haidar yang segera datang ke dapur.


"Ada apa, Sayang?" tanya Haidar khawatir.


Yumna menatap Haidar dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada kecoak?" tanya Haidar lagi sambil menatap Yumna. Yumna tidak menjawab, melainkan menunjuk lehernya yang terdapat ruam merah.


"Kamu ini!!" teriak Yumna dengan kesal sambil memukuli lengan Haidar cukup keras.


"Eh, ada apa? Kok kamu pukul aku?"


"Leher aku merah, Haidar!" teriak Yumna dengan tidak suka. Malu sekali rasanya terlihat oleh Pak Dani tadi.


"Oh, itu. Hehe, itu kan cuma tanda aja, sedikit tanda kalau kamu itu sudha jadi milik aku," ujar Haidar.


Yumna menghentikan pukulannya terhadap laki-laki tersebut dan mendengkus sebal, dia menatap Haidar bak banteng yang sudah siap menanduk laki-laki tersebut.


"Ayo makan, jangan marah lah."


"Aku gak suka kamu klaim di leher, kelihatan orang. Besok gimana aku akan kerja, coba?" tanya Yumna khawatir jika ruam tersebut besok tidak akan menghilang.


"Iya, gak akan di sana. Agak ke bawah dikit deh, aku janji," ujar Haidar dengan santai menarik tangan Yumna dan duduk di meja makan.


"Haidar!" seru Yumna lagi. Haidar menempatkan telunjuknya di depan bibir.


"Aku lapar, ayo kita makan dulu," ucap Haidar lagi lalu mengeluarkan makanan tersebut dari dalam kresek.


Sementara di tempat lain, seseorang tengah menghubungi yang lainnya. "Iya, Bu. Aman kok, kayaknya sudah berhasil, deh." Lapor Pak Dani kepada seseorang.


...***...


Setelah makan sore menjelang malam, Yumna dan Haidar pergi untuk berbelanja, meskipun bisa keesokan harinya oleh asisten, tapi Yumna tidak bisa menolak saat Haidar mengajaknya pergi ke supermarket untuk berbelanja.


Dengan menggunakan syal di hari yang panas, Yumna dan Haidar pergi ke supermarket yang tidak jauh dari rumah mereka, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana.


Beberapa orang menatap heran Yumna. "Kamu gak panas gitu pake syal? Orang lihatin kamu, tau." Haidar berjalan sambil mendorong troli berisikan beberapa perlengkapan kamar mandi.


"Aku gak ada kaos leher tinggi," jawab Yumna kesal. Tentu saja kesal karena dirinya memang merasa gerah pada lehernya sekarang ini.


"Ya emang kenapa juga sih mesti ditutupin? Bukan aja kali!" ujar Haidar. Rasanya kasihan dan juga kesal juga mengenai hal itu seakan Yumna menutupi tanda yang telah susah payah dia buat.


"Aku malu ada tanda ini."

__ADS_1


"Kenapa juga malu? Kamu udah sah jadi istri aku," ujar Haidar lagi.


"Udah deh, ah. Jadi, kita belanja ini mau sambil debat soal tanda?" tanya Yumna mulai kesal.


"Aku kan cuma bilang aja kenapa harus ditutupin? harusnya bangga gitu, kan. Kita ini pengantin baru," ujar Haidar lagi.


"Udah ah, kamu ini. Mau belanja belanja aja. Soal tanda nanti kita bahas di rumah," ujar Yumna lalu mengambil beberapa barang dan dia simpan di keranjang.


Hampir dua jam lamanya Yumna dan Haidar berkeliling untuk mencari apa yang mereka butuhkan. Sampai pegal rasanya kaki Haidar menemani Yumna belanja kebutuhan rumah. Tibalah mereka di kasir dan Yumna mengeluarkan kartu yang ada di dompetnya.


"Aku aja yang bayar," ucap Haidar mengeluarkan kartu miliknya.


"Gak apa-apa, aku aja." Yumna menolak halus tangan Haidar.


"Aku suami kamu, aku yang akan bayar belanjaan ini." Haidar berkata dengan tegas dan merebut kartu yang Yumna berikan kepada petugas kasir.


"Bayar pake kartu saya," ucap Haidar pada wanita tersebut.


Kini keduanya kembali ke mobil mereka dengan dua kresek belanjaan yang besar. haidar juga membukakan pintu mobil untuk Yumna masuk.


"Yumna," panggil Haiddar.


"Ya?" Yumna tidak menoleh, pandangannya tertuju pada seat belt yang sedang berusaha dia pakai. Sedikit sulit entah karena apa. Haidar mendekat dan meraih seat belt milik Yumna dan memasangkannya dengan baik.


"Aku bisa minta tolong sama kamu?"


"Minta tolong apa?"


"Aku ini sekarang adalah suami kamu, selama ini kamu tidak pernah pakai kartu yang sudah aku berikan?"


"Aku masih ada uang," jawab Yumna.


Helaan napas terdengar dari bawah hidung Haidar sehingga Yumna menatapnya dengan tidak mengerti. Haidar pun menatap Yumna kini.


"Aku tau, kamu punya banyak uang, mungkin lebih daripada yang ada di dalam kartuku, tapi apa kamu bisa menggunakan yang aku kasih kemarin? Aku suami kamu sekarang. Yang aku punya kamu juga punya, yang aku pakai kamu juga pakai. Bisa gak aku minta kamu seperti itu? meski gak banyak, tapi aku akan senang kalau kamu bisa pakai uang yang aku berikan buat kebutuhan kita," ucap Haidar lagi.


Yumna menangkap pembicaraan yang serius di dalam nada ucapan Haidar kali ini. Dia menatap wajah suaminya itu yang berubah sendu. Dia jadi berpikir jika mungkin apa yang tadi dia lakukan sudah membuat Haidar sebagai seorang suami menjadi tersinggung.

__ADS_1


"Maaf, lain kali aku akan minta sama kamu," ucap Yumna, yang membuat Haidar kini tersenyum senang.


__ADS_2