
Haidar baru saja turun dari pesawat. Dia memanggil taksi yang kebetulan ada di dekat sana.
"Mau kemana, Pak?" tanya si sopir taksi. Haidar bingung. Yumna bilang rumah papa Bima bukan hanya dua. Masih ada satu lagi yang ia tidak tahu dimana alamatnya. Jadi Yumna ada di rumah yang mana?
"Jalan saja dulu Pak, saya mau telfon menanyakan alamat!" ucap Haidar. Sopir itu mengangguk patuh, segera menjalankan mobilnya.
Tutt... Tutt...
Tak ada jawaban. Haidar merasa kesal. Dia kembali mencoba menghubungi Yumna. Dan pada panggilan ke empat...
"Elo kemana aja sih, gue telfon sedari tadi gak di angkat?!!!" teriak Haidar, pak sopir yang mendengarnya merasa sakit di telinganya.
"Alamat mana?" nadanya masih kesal.
"Alamat rumah elo yang sekarang lah!"
"Oh, ya. Kalau rumah yang itu gue tahu. Hem..!" Haidar menutup telfonnya dan mengatakan tujuannya pada pak sopir.
...***...
"Jadi laki-laki kenapa kasar amat! Gak ada lembut-lembutnya!" Yumna melemparkan hpnya ke atas kasur. Dia duduk di depan cermin dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Dasar! Kenapa juga aku ketemu sama pria ini." Menggelengkan kepalanya lalu meneruskan kegiatannya.
Setelah selesai mengganti baju dan mengeringkan rambutnya, Yumna lantas mengeluarkan sepeda milik Pak Dani.
"Pak Dan!" teriak Yumna sambil menenteng sepedanya. Yang di panggilpun keluar dari pos.
"Sepedanya Yumna pinjam sebentar ya!"
"Mau kemana, mbak?"
"Cari sarapan!"
"Biar saja yang carikan, mbak Yumna mau makanan apa?" Pak Dani lantas mendekat dan hendak merebut sepeda miliknya. Namun, Yumna menjauhkan sepeda itu dari pemiliknya.
"Gak usah, Pak. Sekalian Yumna ingin mainan sepeda. Udah lama gak naik sepeda! Boleh ya dipinjam?" tanya Yumna seraya tersenyum.
"Oh iya. Boleh. Tapi mbak Yumna hati-hati, ya. Inget jangan kebut-kebut pakainya, nanti jatuh!" ujar Pak Dan.
"Sipp, Pak. Yumna pergi dulu ya."
"Iya. Iya silahkan!" Pak Dan membukakan pintu pagar untuk Yumna lewat.
"Trimakasih Pak Dan. Yumna pergi dulu!" Yumna lantas menaiki sepedanya dan segera pergi dari sana. Pak Dani menatap kepagian Yumna sambil menahan nafas. Melihat cara Yumna memakai sepeda, sudah di pastikan kalau Yumna sudah sangat lama tidak pernah memakai kendaraan gowes itu.
"Mang. Kopi nih!" suara Jeje dari belakang pak Dani memanggil. Jejw datang dengan dua gelas kopi di tangannya. Pak Dani menoleh dan kemudian menutup pagar.
"Mbak Yumna kemana?" tanya Jeje yang tadi sempat melihat Yumna pergi dengan sepeda.
"Cari sarapan!" Pak Dani duduk di depan Jeh lalu mengambil gelas kopinya.
"Mbak Yumna itu gak sombong ya. Udah cantik, mandiri lagi. Saya suka!" celetuk Jeje.
"Huss!!! Kamu ini, inget mbak Yumna itu majikan kita, sudah menikah! Jangan coba-coba kamu suka sama dia!" tunjuk Pak Dani tepat di depan hidung Jeje.
"Bukan suka yang itu, Mang! Kagum!" ralat Jeje.
"Awas saja kamu, kalau suka dan ingin lebih!"
"Mana mungkin lah, mang. Saya juga tahu kedudukan saya, mang!" Jeje menyesap kopinya pelan.
"Kalau saja mbak Yumna belum nikah dan saya orang kaya, nih. Saya pasti akan mendekati mbak Yumna. Siapa tahu jodoh, kan?" senyum Jeje mengembang, lalu sedetik kemudian senyum itu menghilang diganti dengan gerutuan kesal karena kepalanya baru saja di pukul oleh pamannya dengan menggunakan gulungan koran.
"Bangun kamu. Jangan mimpi terus!!" cerca Pak Dani.
"Sakit, mang!" mengelus kepalanya.
"Mandi sana, biar bangun!" titah pak Dani.
"Nanti lah. Kopinya keburu dingin, kan gak enak!" jawab Jeje.
"Alasan!!"
"Hehe!"
__ADS_1
...***...
Haidar sudah sampai di depan rumah Yumna. Dia turun dari taksi setelah membayarkan ongkos. Pak sopir membantu mengeluarkan koper milik Haidar.
Pak Dani berdiri dan berlari ke arah pagar setelah melihat siapa yang baru saja turun dari taksi, lantas membukanya sedikit lebar.
"Pak Haidar. Mari saya bantu!" tawar pak Dani, dia mengambil alih koper dari tangan sopir, dan lalu membawanya ke dalam rumah. Haidar mengikuti dari belakang.
"Yumna ada, Pak?" bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Mbak Yumna sedang keluar, pak. Cari sarapan!"
"Oh. Ya, sudah. Dimana kamar Yumna? Saya ingin mandi."
"Itu disana, Pak." tunjuk Pak Dani ke arah kamar Yumna.
"Biar koper saya bawa sendiri. Trimakasih ya." ucap Haidar.
"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya pamit ke depan lagi. Kalau bapak ada apa-apa, panggil saja saya."
"Disini tidak ada asisten rumah?" tanya Haidar.
"Ada, pak. Tapi datangnya tiga hari sekali cuma buat bersih-bersih. Bapak ada butuh apa, biar saya buatkan sesuatu?"
"Tidak usah. Biar saya buat sendiri nanti!" ucap Haidar lalu pergi ke arah kamar Yumna dengan membawa kopernya.
Haidar mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tidur, tidak ada yang istimewa, malah terkesan biasa. Namun, yang paling mencolok adalah foto pernikahan kedua mertuanya. Mama Lily yang cantik, dan Papa Bima yang tampan.
Haidar tersenyum. Dia mendekat dan membandingkan foto itu dengan foto pernikahan yang ada di kamarnya.
"Yumna juga tidak kalah cantiknya." gumamnya bangga. Yumna memang mirip dengan mamanya, tapi ada sesuatu yang membuat Yumna berbeda. Yang membuat spesial.
Haidar membuka satu persatu pakaiannya dan menyimpannya di atas tempat tidur.
(Tumben Haidar. Biasanya lempar ke lantai, author).
Omelan Yumna kini membekas dalam ingatannya, dia terlihat lucu jika memarahi Haidar saat dia sembarangan melemparkan bajunya ke lantai. Meski sesekali dia masih sering melemparkan barangnya di lantai tapi tak jarang juga Haidar memungutnya kembali dan menyimpannya di tempat yang seharusnya.
Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Mbak Yumna, Pak Haidar sudah sampai." Jeje melapor sambil membukakan pintu pagar.
"Oh, sudah sampai ya? Makasih ya A' Jeje." ucap Yumna sambil melewati Jeje. Jeje hanya tersenyum lalu menutup kembali pintu pagar.
Yumna memasukkan sepedanya ke dalam garasi bersandingan dengan motor milik Jeje. Dia terdiam sebentar menatap motor matic itu. Tersenyum sendiri.
"Lain kali boleh juga pinjam motor A' Jeje!" gumamnya pelan.
Yumna masuk ke dalam rumah. Pintu kamarnya sedikit terbuka, terlihat dari tempatnya berdiri sebuah koper hitam yang ia kenali milik Haidar. Dia melongokkan sedikit kepalanya ke dalam kamar. Haidar tidak ada disana, tapi terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Yumna mengangkat kedua bahunya, sekan dia mengatakan -masa bodoh- dengan tindakannya itu, lalu berjalan ke arah dapur. Yumna mengambil piring dan meletakkan bungkusan nasi uduk miliknya disana.
"Kopi.... dimana kopi?" gumam Yumna membuka lemari di atas kepalanya satu persatu. Mencari-cari kopi instan barang sebungkus saja.
"Apa habis ya? Yang ada malah kopi bubuk." bergumam lagi. Yumna berjalan ke arah luar menuju pos dimana Pak Dani sedang sarapan roti dan Jeje sedang mengangkat barbelnya.
"Pak Dan." panggil Yumna. Pak Dani keluar dari pos dengan mulutnya yang penuh dengan roti. Susah payah mengunyah dan menelannya dengan cepat.
"Iya, mbak?"
"Pak Dan, di dapur gak ada kopi instan?" tanya Yumna.
"Cuma ada kopi bubuk, mbak." jawab Pak Dan.
"Yah..." Yumna mendesah pelan.
"Mbak Yumna mau saya belikan kopi?" tanya Pak Dani.
"Gak usah, deh. Yumna bikin teh manis saja." ucap Yumna lesu, pagi ini Yumna sangat ingin meminum kopi.
"Itu, mang. Di saku jaket Jeje ada kopi lu*ak, kalau mbak Yumna mau!" tawar Jeje.
"Mau. Mau. Buat Yumna, ya A'." Yumna merasa senang. Yang penting dirinya bisa mengopi selain kopi hitam.
Pak Dani kembali masuk ke dalam pos dan mencari kopi di saku jaket Jeje yang menggantung di dinding. Lalu keluar dan menyerahkan dua bungkus pada Yumna.
__ADS_1
"Satu saja pak," ucap Yumna.
"Yang satu buat Pak Haidar, mbak!"
Yumna sungguh melupakan laki-laki itu!
"Oh. Iya." di ambilnya dua bungkus kopi itu dari tangan Pak Dani.
"A' Jeje, trimakasih kopinya, ya. Lain kali Yumna ganti!" ucap Yumna.
"Gak perlu di ganti mbak. Cuma sekedar kopi!"
Yumna tersenyum lalu mendekat ke arah Jeje, laki-laki berperawakan tinggi itu terlihat menawan dengan otot besar di tangannya. Kulitnya yang coklat dan berkeringat membuat Jeje terlihat seksi.
"Waah... Ototnya besar! Bakalan membuat cewek termehek-mehek ini!" Yumna menepuk otot besar itu dengan tangannya. Tak sadar kalau hal itu membuat Jeje akan tidur dalam gelisah nanti malam. Jeje meringis malu, menahan debaran di hatinya.
"Ah, mbak Yumna bisa aja. Ini masih kecil, mbak. Belum seperti Ade Rai!" Yumna terkekeh mendengar Jeje. Lagi, Yumna menepuk dan mencubit lengan berotot itu gemas.
"Ya sudah, A' Jeje lanjutkan lagi. Yumna mau ngopi. Trimakasih kopinya!" ucap Yumna lalu pergi.
Hal itu tak luput dari pandangan seseorang dari balik tirai rumah. Tak sadar tangannya menggenggam gorden hingga kusut. Lalu pergi ke arah dapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa panas dan kering.
"Mang. Jangan bangunkan Jeje, ya!" pinta Jeje dia terus menatap punggung Yumna hingga menghilang ke dalam rumah.
Pak Dani menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang keponakan.
Haidar menyimpan gelasnya dengan kasar di atas meja.
'Apa dia perlu seakrab itu dengan penjaga rumah? Pakai pegang-pegang segala. Ototku juga lebih bagus dari dia!' Haidar menekuk tangannya hingga otot bisepnya terlihat. Menatapnya bangga. Hasil dari olahraga rutin setiap akhir pekan.
Dia merasa kesal, melihat ke arah bungkusan berwarna coklat yang ada di atas piring lalu membukanya. Perutnya lapar. Dia belum sarapan. Haidar menarik kursi lalu duduk di atasnya dan segera melahap nasi duduk dengan telur balado serta sambal di atasnya.
Antara kesal, marah, dan lapar, hanya dengan beberapa suapan besar, kini tinggal tiga suapan terakhir.
"Makanan gue!!" ratap Yumna menatap makanan yang hampir tandas. Haidar menggantung suapannya yang hampir mencapai mulutnya, dia menoleh pada asal suara. Yumna terdiam berdiri di ambang puntu dapur.
"Loh. Bukannya ini buat gue?!" tanya Haidar, lalu dengan santai memasukkan makanan itu kedalam mulutnya. Menikmatinya dengan raut wajah yang membuat Yumna ingin menonjoknya.
"Itu punya gue Haidar! Kalau elo mau kenapa gak beli sendiri!" cerca Yumna kesal. Dia memukul pundak Haidar keras hingga pria itu tersedak karena ulahnya.
"Uhukk... Uhukk.. Yumna ... elo ... keterlaluan!!"
"Rasain!!" cercanya kesal.
Haidar menoleh ke kanan dan ke kiri. Gelasnya kosong. Dia segera berlari ke arah dispenser dan mengalirkan air dari sana. Lalu setelah penuh dia menenggaknya hingga habis.
"Gue kira elo gak bakalan pulang!" sindirnya sambil menyalakan api kompor. Sebuah panci kecil berisi air ia taruh di atas sana.
"Pulang lah! Elo kira gue akan biarin elo ngomong sendirian sama mami kalau kita mau cerai?!" ujar Haidar.
Yumna terdiam, perkataan Haidar barusan mengingatkan dirinya tentang pembicaraannya semalam, ada rasa tak nyaman juga di dalam hatinya. Namun, entah apa. Dia menatap uap dari air yang sudah mulai memanas.
Suasana terasa canggung Haidar meneruskan makannya, sedangkan Yumna masih menunggu air panas itu hingga mendidih.
Setelah air mendidih Yumna menyeduh kopi itu, seketika wangi khas dari kopi menyeruak di antara udara. Yumna mengaduknya perlahan. Matanya fokus pada air coklat dengan kepulan asap tipis itu. Namun, fikirannya entah kemana, sampai ia tak sengaja mengaduk minuman itu sedikit kencang dan akhirnya air panas itu mengenai tangannya.
"Awhh..!" Yumna meniup tangannya perlahan, mengusir rasa panas yang terasa disana.
Haidar yang melihat hal itu refleks bangun dan menarik tangan Yumna, membawanya ke arah watafel dan mengucurkan air dari sana, mengguyur tangan Yumna yang sudah terlihat sedikit merah dengan air dingin.
Deg. Deg.
Tanpa bisa di atur dada Yumna berdebar. Jantungnya berlompatan kian kemari. Wangi aroma sabun dari tubuh Haidar membuat hatinya dengan lancang tak ingin berpaling dari kejadian ini. Berharap waktu berhenti saja? Oh. Ayolah. Bukankah itu hal bodoh? Mana bisa waktu berhenti kecuali kau mati Yumna! Bahkan kalau kau mati waktu tidak akan berhenti untuk mereka yang masih hidup! Bangun dari kenyaan Yumna!!!! batinnya berteriak membuat Yumna tersadar dan menarik tangannya.
"Bisa gak sih hati-hati?" cerca Haidar, nada suaranya sedikit tinggi membuat Yumna kesal.
Haidar membawa Yumna duduk, dan membawa kotak p3k yang ia lihat di atas kulkas. Haidar membuka tutup salep untuk luka bakar.
"Jangan, Haidar, gak perlu. Cuma kena sedikit!" tolak Yumna.
"Sudah diam! Luka besar ataupun kecil kalau gak di obati lama sembuhnya!" nada suaranya terdengar kesal. Dengan telaten Haidar mengoleskan salep luka bakar pada kulit dengan ruam merah tersebut. Lembut. Sangat lembut, hingga Yumna tak yakin inilah sosok Haidar yang ia kenal. Inikah sisi lain dari seorang Haidar Ezra Rahadian?
Deg. Deg.
Sadar Yumna... Sadar!!!
__ADS_1
Hatinya menyuruhnya untuk menolak perlakuan lembut Haidar, tapi otaknya sudah berbelok menghianatinya. Dia hanya bisa diam dengan mata tak luput memandang pria di depannya ini yang sedang meniupi tangannya.