YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
182. Mendidih Bagai Lahar Gunung Semeru


__ADS_3

Juan melirik ke arah Yumna yang kini sedang tertawa dengan riang bersama dengan pria yang ada di depannya. Hatinya terasa panas melihat apa yang dilakukan oleh mereka. Sangat akrab sekali. Tawa yang menghiasi mereka, perlakuan pria itu yang sangat manis terhadap Yumna sampai-sampai dia mengusap puncak kepala Yumna dan mengacak rambutnya.


Juan merasakan hatinya yang panas mendidih bak air yang sedang di rebus bahkan mungkin sebentar lagi akan seperti Gunung Semeru yang memuntahkan lahar panasnya.


Rani bisa melihat itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya saat wajah Juan menjadi merah dan kesal.


"Sudah lah Juan, mungkin dia memang bukan jodoh kamu. Lupakan saja dia. Mungkin pria itu kekasihnya." Rani berkata dengan santainya sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Juan mengepalkan tangannya, bukan karena ucapan Rani, tapi karena perlakuan pria itu yang sembarangan mengambil makanan milik Yumna dari piringnya, dan lagi pria itu juga menyuapi makanan yang ada pada piringnya pada Yumna.


Tak tahan dengan apa yang dia lihat siang ini. Juan segera bangun dari duduknya dan mulai melangkahkan kaki dengan membawa piring yang ada di tangannya.

__ADS_1


Melihat kemana arah langkah Juan, Rani sampai melongo melihat kelakuan adiknya itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Juan yang tidak ia sangka sebelumnya.


"Hai, kalian sedang makan siang? Boleh aku bergabung disini?" tanya Juan kepada Yumna dan juga Bian.


Yumna terpaku melihat siapa orang yang ada di sampingnya ini, tiba-tiba saja pria itu menyimpan piring dan menarik kursi lalu duduk di samping Yumna.


"Aku boleh kan gabung disini?" tanya Juan lagi. Yumna yang masih terpaku menganggukkan kepalanya, sedangkan Bian menatap bingung kepada pria yang ada di depannya kini. Rasa kesal juga tiba-tiba hinggap kepada pria yang sok kenal dan sok akrab dengan Yumna.


"Heh, siapa kamu? Main sembarangan duduk di meja ini!" seru Bian kepada Juan yang kini menatapnya dengan tajam. Juan dan Bian saling bertatapan dengan rasa tak suka. Jika saja bisa terlihat, maka akan ada cahaya seperti kilatan petir keluar dari mata keduanya.


"Iya, saya teman Yumna. Saya gak ganggu kan ikut duduk disini? Soalnya saya hanya duduk sendirian tadi disana dan melihat ada Yumna disini," ucap Juan kepada Bian.

__ADS_1


Bian yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya kembali duduk terdiam di tempatnya. Dia menatap kesal pada Juan di sebelahnya.


"Hem," jawab Bian dengan tidak peduli. Bian melanjutkan makannya meski kini dia tidak lagi merasakan nikmat pada makanannya itu.


"Yumna, maaf aku mengganggu, ya. Kalau teman kamu ini tidak berkenan aku pindah saja, deh." Juan hendak mengambil piringnya lagi.


"Eh, tidak perlu, ga ganggu kok. Lagian kita juga sedang makan siang aja. Kamu boleh kok gabung dengan kita disini," ucap Yumna menahan Juan. Juan tersenyum sinis kepada pria yang kini memasang wajah sebalnya. Dia kembali mendudukkan dirinya.


Yumna merasa tidak enak hati kepada dua orang yang ada di depannya ini. Dia melihat wajah keduanya yang sangat tidak bersahabat.


"Beruntung sekali aku bertemu dengan wanita secantik ini disini. Aku jadi gak kesepian makan siang sendirian!" Juan sengaja mengatakan hal itu cukup keras hingga beberapa orang yang ada disana menatap ke arah mereka.

__ADS_1


Rani yang mendengar hal itu ingin sekali tertawa. Dia benar-benar malu dengan perlakuan adik sepupunya itu. Untung saja tadi mereka berdua tidak melihatnya datang bersama dengan Juan.


Rani segera menghabiskan makanannya agar bisa segera pergi dari sana.


__ADS_2