
Rasa hati tak rela, tapi apa daya jika dia harus melepas gadis itu pergi dari hadapannya. Juan merasa kehilangan. Seorang Yumna yang pandai berbicara, yang tak menjaga imej di saat dia dengan seorang pria. Bukan kah itu luar biasa? Bahkan di saat yang lain mendekati dan menatap matanya, gadis ini malah terkesan cuek dan sering menghindar.
"Semoga saja kita bertemu lagi Yumna!" desis lirih Juan saat Yumna baru saja masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.
Yumna menoleh ke arah Juan yang masih berdiri di depan kafe. Pria itu tersenyum seraya mengangkat tangannya. Tak perlu di balas juga, toh percuma pria itu tak akan tahu Yumna membalas lambaian tangannya atau tidak. Kaca mobil ini gelap, tak akan terlihat isi dalam mobil dari luar.
"Gebetan baru?" Yumna berdecak sebal saat mendengar pertanyaan dengan nada mengejek.
Dia hanya mendelik tak suka lalu lebih memilih mengeluarkan hpnya. Sesekali melirik ke arah belakang. Orang suruhan kakek sudah tak terlihat, dia membawa motor Yumna di tengah hujan yang masih saja lebat. Jalanan sudah banjir oleh air yang mengalir. Entah pria itu sudah mendahuluinya atau bahkan tertinggal jauh di belakang.
"Sejak kapan kau kenal dengan dia?"
"Siapa?"
"Pria yang tadi?"
"Yang mana?"
__ADS_1
"Yang melambaikan tangannya padamu." gigih bertanya untuk mendapatkan jawaban. Rasanya Yumna ingin mengeluarkan pria tukang kepo ini dari mobil dan menyuruhnya pulang jalan kaki.
"Bukan urusanmu! Diam saja jangan banyak bicara! Dan awas saja kalau sampai nenek dan kakek tahu. Jangan jadi mulut ember!" cerca Yumna pada si sopir yang kini malah tertawa terkekeh.
"Aku tidak mulut ember ya. Mulutku ini berfungsi dengan baik. Hanya sedikit bercerita itu kan wajar!" tertawa lagi.
Yumna memutar bola mata malas. Jika saja bukan bukan putra dari sepupu Papa Azka pasti sudah ia robek mulutnya sedari awal dia datang. Pria menyebalkan!
Abian, namanya. Nenek dan kakek meminta pria ini untuk menemani mereka di masa tuanya. Usianya berbeda empat tahun dari Yumna. Ayah Abian adalah keponakan dari nenek Melati. Di antara yang lain, dan mungkin karena ukuran jarak, Nenek Melati lebih dekat dengan ayah Abian. Sedari kecil Abian sering mengunjungi Nenek Melati, Dan sekarang, sebagai bakti karena Abian juga sudah di sekolahan, dia menemani nenek dan Kakek Hadi. Membantu memegang perusahaan yang ada dan tak tahu akan di tujukan pada siapa. Sayang sekali, author membuat tokoh yang satu ini sangat menyedihkan, mati dengan mengenaskan padahal belum merasakan pengalaman indahnya belah duren. Author yang kejam!!
"Sedikit bercerita apa? Lalu kenapa nenek sampai heboh kemarin? Siapa pria itu? Orang mana? Pekerjaannya apa? Kamu pikir aku gak tahu kalau kamu pasti nambah-nambahin cerita, huh?!!" kesal Yumna.
Yumna menendang kursi di depannya dengan kuat hingga tubuh Bian sedikit terdorong ke depan.
"Iya 'mungkin' nya kamu sih apa? Sudah bisa aku tebak!" berkata dengan ketus.
"Iya maaf-maaf. Lagian kalau juga beneran gak apa-apa, kali. Kan bagus tuh, kalau jadi sebentar lagi aku bisa makan sate!"
__ADS_1
Yumna menarik tubuhnya menjauhi sandaran kursi penumpang. Mengulurkan tangannya ke depan, menarik rambut di bagian pelipis Bian dengan sedikit keras hingga pria itu mengaduh. Gemas rasanya!
"Aduh sakit Yumna! Ampun! Aww... Lepaskan!"
"Kalau mau sate gak usah nunggu ada yang nikah. Beli saja sana di jalan!" Yumna kembali duduk di tempatnya. Bian mengusap bagian pelipisnya yang sakit akibat ulah Yumna.
"Lagian yang harusnya nikah tuh kamu. Inget umur sebentar lagi udah masuk kepala tiga! Jangan sampai di cap bujang tua! Lapuk! Hahaaa....." Yumna tertawa dengan keras. Bian mencebikkan bibirnya. pandangannya tak beralih dari jalanan di depan. Dalam hati merasa senang karena Yumna bisa tertawa dengan lepas, tak seperti saat pertama kali dia datang. Gadis ini terlihat sering murung.
"Kalau saja kita bukan saudara. Aku akan lamar kamu saja buat jadi istriku!" ucapan Bian menghentikan tawa Yumna.
"Segitu frustasinya ya di tolak gebetan sampai kamu mau nikah sama aku?" Yumna mendelik kesal. Entah sudah berapa puluh kali mendengar Bian berkata seperti itu semenjak empat bulan yang lalu.
"Di bilang frustasi sih enggak juga. Cuma kan kalau ada yang deket kenapa cari yang jauh? Hahaaa...."
"Cih, Dasar. Tuh berhenti deh di depan, pungut satu mana yang cocok, bawa pulang deh ketemu ayah dan ibu buat nikah besok atau lusa. Hahaa..."
Begitulah keseharian Yumna sekarang. Tawa di bibirnya sering berkembang jika berada di dekat Bian. Cowok slengean, kurang kerjaan, dan selalu saja bisa membuatnya kesal sekaligus bisa membuatnya sedikit melupakan rasa di dalam hatinya. Sedikit!
__ADS_1
Kenyataannya Yumna masih saja teringat dengan Haidar. Dan seperti sekarang ini. Haidar si pria menyebalkan yang nyatanya membuat dia rindu setengah mati. Tahan rindu ini Yumna, Haidar sudah bahagia disana!