YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
54. Honeymoon?


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Yumna besok ambil cuti. Kita akan pergi honeymoon ke Lombok lusa!" ucap Haidar tiba-tiba, saat Yumna baru saja masuk ke dalam kamar.


Yumna hanya menatap Haidar tak percaya. Padahal dua hari kemarin dia sampai berdebat dengan mami Mitha karena menganggap honeymoon tak penting!


"Hei Yumna, denger gak?" melambaikan tangannya di depan wajah Yumna. Yumna tersadar. Demi apa pria ini bilang ingin honeymoon?


"Jangan salah sangka! Vio ada pemotretan disana. Sekalian gue juga mau rayain tahun baruan sama dia!" ucap Haidar menerangkan maksudnya.


Yumna melengos. Dia kira Haidar mengatakan itu untuk menyenangkan hati sang mami, tapi nyatanya menyenangkan hatinya sendiri! ckckck...


"Sorry, gue gak tertarik!" ucap Yumna lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Yah kok gitu sih?! Yumna?! Elo juga kan bisa sambil cari-cari cowok disana!" bujuk Haidar mengikuti Yumna.


"No!" ucap Yumna. " Elo kira gue cewek apaan?"


"Yumna!!!"


"Tidak!!" Yumna membuka pintu kamar mandi. Haidar menghalangi pintu itu dengan menggunakan tubuhnya.


"Minggir!" usir Yumna.


"Enggak!" jawab Haidar. "Sebelum elo setuju buat ikut gue honeymoon kesana gue gak akan izinin elo masuk ke kamar mandi!"


"Hehh, denger ya tuan Haidar Ezra Rahadian. Maksud elo nyebut Honeymoon itu apa, huhh??!! Elo fikir gue mau gitu jadi nyamuk elo disana? Jadi lalat yang terus ngikutin elo? Jadi kambing conge dan buta di saat elo sama dia mesra-mesraan. Ogah gue, mendingan dirumah aja! Tidur cantik!" ucap Yumna ngegas lalu mendorong dada Haidar keras hingga Haidar mundur beberapa langkah ke dalam kamar mandi. Yumna menutup pintu kamar mandi. Haidar berteriak dari dalam.


"Silahkan nikmati kamar mandinya!" teriak Yumna lalu pergi dari sana.


Yumna turun ke bawah, menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


"Yumna kok mandi disini?" tanya Mitha yang sedang memotong buah mangga menjadi kotak-kotak. Yumna menoleh saat namanya di sebut.


"Eh, iya mi, tadi kamar mandi macet krannya, jadi Yumna mandi disini!" dustanya.


"Oh, nanti mami bilang ke mang Deden buat benerin kran airnya."


"Gak usah, mi. Tadi Haidar udah benerin kok!"


"Emang anak itu bisa?"


"Gak tahu juga!" ucap Yumna. "Mi, Yumna mau ke atas dulu ya." pamitnya.


"Cepat turun, kita makan malam!" seru Mitha.


"Siap, mi!" Yumna berjalan dengan cepat ke kamarnya.


Makan malam tiba, seperti biasanya mereka makan bersama. Kapan lagi waktu mereka untuk bisa bertemu selain waktu makan malam?


"Kran kamar mandi udah bener, Haidar?" tanya Mitha saat Haidar baru memulai suapannya.


"Kran kamar mandi?" bergumam pelan. Yumna makan dengan diam, tapi kakinya bergerak menyenggol kaki Haidar. Seketika ia ingat mungkin maminya menanyakan hal kenapa sampai Yumna mandi di bawah.


"Udah kok, mi!" jawab Haidar.


"Pi, tolong lusa papi urusin kantor ya. Aku dan Yumna mau honeymoon!" ucap Haidar. Yumna tersedak. Rasanya ingin protes karena dia menolak keras untuk ikut pergi tadi. Dan apa sekarang?

__ADS_1


Dasar Haidar! Mengambil keputusan sendiri! Dia melirik Haidar yang juga menatapnya sedang tersenyum seraya menarik satu alisnya ke atas, seakan dia berkata 'gue bisa kan bawa elo pergi!'


"Waah bagus dong! Pasti papi akan bantuin kamu, iya kan pi?" menoleh pada sang suami, Arya mengangguki ucapan istrinya.


"Mau honeymoon kemana?" tanya Mitha kepo.


"Rahasia! Pokoknya tempat yang romantis, iya kan sayang?" menepuk paha Yumna sedikit keras. Mau tak mau Yumna tersenyum, meski dalam hati ingin sekali dirinya menonjok wajah Haidar tepat di hidungnya!


"Huhh, dasar! Main rahasiaan!" decih Mitha.


"Iya dong, nanti kalau mami tahu bisa-bisa mami dan papi nyusul juga buat honeymoon kesana dan ganggu kita!" ucap Haidar. Mitha mendecih seraya melempar Haidar dengan kerupuk yang ada di atas piringnya. Yumna melongo melihat sikap keduanya yang cepat akrab, padahal dua hari yang lalu mereka saling melayangkan tatapan tajam mematikan bak elang yang mengintai mangsanya!


...★★★...


Pesawat yang di tumpangi Yumna dan Haidar baru saja landing di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok. Yumna terpaksa ikut dengan Haidar karena tidak bisa lagi menolak di hadapan mami dan papi. Haidar keterlaluan!


"Honeymoon apanya?! Yang ada sih dia yang honeymoon sama Vio!" gumamnya pelan, kesal saat melihat Haidar dan Vio saling bergandengan tangan menuju ke arah luar bandara. Yumna berjalan di belakang mereka dengan menarik kopernya sendiri, sedangkan Haidar dia berjalan dengan santai dengan Vio yang bergelayut manja di lengannya. Koper milik Haidar dan Vio sudah di ambil alih oleh asisten Vio.


Siapa yang tidak kesal jika ada di posisi seperti itu! Jauh-jauh kemari hanya untuk melihat mereka pacaran?!


"Sakit mata gue lihatnya!" decih Yumna masih menatap mereka tak suka. Dia menggerakkan jari-jari tangan kanannya, membayangkan dirinya sedang meremas-remas kepala kedua orang di depannya ini yang tidak menghiraukan dirinya.


"Cepetan dong jalannya. Lelet banget sih!" ucap Haidar melirik ke arah Yumna yang sedikit jauh tertinggal. Yumna menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.


"Ya udah sana kalau elo mau duluan, gue pake taksi aja, gampang kok!" ucap Yumna.


"Yakin?" tanya Haidar.


"Hemm..." jawab Yumna kesal.


Yumna melongo melihat Haidar yang telah pergi menjauh dan masuk ke dalam mobil jemputannya bersama dengan Viola.


"Dia benar-benar pergi?!" terus menatap mobil yang perlahan menghilang di keramaian.


"Ckckck... Dasar keterlaluan! Mentang-mentang udah ketemu gebetannya, ya gitu istri sendiri di tinggal! Awas aja elo, Haidar. Gue akan buat perhitungan sama elo udah ninggalin gue!" Teriak Yumna kesal hingga beberapa orang yang berlalu menatapnya dengan pandangan aneh!


Yumna melirik ke kanan dan ke kiri lalu dengan cepat menyetop taksi yang kebetulan lewat. Taksi berhenti. Yumna menaikkan kopernya ke bagasi. Susah payah dia mengangkat koper itu. Seseorang yang melihat Yumna kesusahan datang untuk membantunya.


"Trimakasih!" ucap Yumna seraya hendak mengeluarkan selembar uang berwarna biru. Dia kira pria itu porter yang sering ada di area bandara.


"Yumna ya?" ucap pria itu. Yumna mengangkat kepalanya dan menatap pria di depannya. Beberapa detik dia menatap pria itu mencoba mengingat.


"Seno! Seno Bagaskara!" ucap pria itu seraya menunjuk dirinya


sendiri. Baru Yumna ingat!


"Oh, ya ampun... Seno Bhayangkara!" Seno tersenyum senang karena Yumna tidak lupa akan panggilan itu.


"Apa kabar Yumna?" Seno mengulurkan tangannya, di sambut oleh Yumna.


"Aku baik!" jawab Yumna.


"Kamu ngapain disini? Liburan? Atau bisnis?" menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Liburan!"


"Sendiri?"

__ADS_1


"Iya!" mengangguk sambil tersenyum. "Kamu ngapain disini?" tanya balik.


"Aku mau jemput orang!"


"Pacar?"


"Bukan! Jemput tamu!"


"Tamu?"


"Iya, aku jemput tamu yang mau..."


"Maaf, mbak! Mau jadi naik apa enggak?!" suara sopir taksi mengganggu acara temu mereka.


"Iya, pak!"teriak pada sopir taksi. "Sen, maaf ya aku harus segera pergi, trimakasih atas bantuannya!" pamit Yumna.


"Oh iya! Selamat datang di Lombok ya, semoga liburan kamu menyenangkan!" ucap Seno.


Yumna tersenyum lalu segera berjalan dan masuk ke dalam taksi.


"Kemana tujuannya, mbak?"


"Puri Mas Boutique Resort!" Yumna menyebutkan hotel yang menjadi tujuannya. Segera mobil taksi itu berjalan meninggalkan area bandara.


"Yumna. Lama kita tidak bertemu!" gumam Seno, dia tersenyum, lalu pergi ke tempat tujuannya.


Yumna menatap ke arah belakang, Seno sudah tidak ada lagi disana. Tidak ia sangka bertemu lagi dengan pria itu, meski tofak terlalu dekat, tapi dia hafal dengan teman sedari SD hingga SMP-nya itu. Dia tersenyum sendiri, ingat bagaimana dulu Seno sempat marah saat dirinya salah menyebutkan namanya. Seno Bagaskara menjadi Seno Bhayangkara.


...***...


Yumna telah sampai di salah satu hotel terkenal di Lombok. Hotel yang berdiri megah tak jauh dari pantai Senggigi. Dia berjalan ke arah resepsionis.


"Selamat datang!" Resepsionis menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Kamar atas nama Haidar Ezra Rahadian!" ucap Yumna.


"Sebentar ibu, apakah ini ibu Yumna Azzura?!" Yumna mengangguk. "Bisa tolong lihat identitasnya?" Yumna hanya terdiam dengan perlakuan wanita ini. Tidak seperti biasanya saat ia pergi ke hotel-hotel lain.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda, tapi bapak Haidar yang meminta saya untuk melakukan hal tersebut!"


'Dasar orang aneh! Mau apa sih dia!' batin Yumna, lantas mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya.


Wanita itu membaca nama Yumna disana. Lalu dia menyerahkan kunci pada Yumna.


"Ini kuncinya bu! Bapak Haidar tadi sempat telfon dan berpesan jika ada ibu yang bernama Yumna mohon kami menyerahkan kunci ini. Bapak Haidar belum sampai, beliau sedang makan siang di luar!"


Yumna mengangguk seraya mengucapkan trimakasih. Dia lalu berjalan ke arah kamar yang telah di pesan Haidar.


"Dasar pria itu! Gak punya rasa tanggung jawab. Aku kan istrinya, tapi kenapa yang di ajak makan siang si Vio?" Yumna membanting tasnya ke atas ranjang.


"Iya lah, dia kan pacarnya!" bertanya sendiri menjawab juga sendiri. Dasar Yumna!


"Ya sudah, aku juga mau makan!" Yumna mengambil kembali dompetnya, dia membukanya dan mengeluarkan kartu hitam yang di berikan Haidar sesaat setelah menikah dulu.


Tersenyum penuh maksud menatap kartu itu.


"Hehehe.... Jangan salahkan kalau aku bikin kamu bangkrut!"

__ADS_1


__ADS_2