YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
305


__ADS_3

Pak Dani baru saja masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur. Tidak ada aktivitas apa pun di dalam rumah itu. Dia menyimpan paket yang datang kemarin sore, sebenarnya dia lupa dan menyimpan benda tersebut di mejanya, tanggung sedang melakukan suatu pekerjaan sehingga baru pagi tadi dia melihat benda kotak itu lagi dan membawanya ke dalam rumah.


"Pada belum bangun kali, ya?" ujar Pak Dani seraya melihat jam besar di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Memang sudah biasa jika pada hari Minggu dua orang itu akan bangun sedikit siang. Pak Dani juga memaklumi akan hal itu, bukan hanya Yumna dan Haidar saja, dirinya pun juga sama dulu saat bersama dengan istrinya, apalagi saat belum mempunyai anak.


"Ya lah, mumpung belum punya anak. Puas-puasin berdua, hihi." Tawa kecil keluar dari mulut Pak Dani. Dia lebih baik menyingkir, mengambil satu renteng kopi yang ada di dapur, dan kembali ke posnya.


***


Dua orang itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Mereka telah menyelesaikan ritual mandinya. Hanya mandi, tidak ada tambahan lagi yang lain karena Yumna sudah sangat lelah setelah memompa entah berapa kali, membuat pinggangnya sangat terasa sakit.


Haidar terkekeh melihat cara berjalan Yumna yang aneh, seperti pinguin, tapi lucu menurutnya. Yumna baru keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan.


"Mau aku gendong?" tanya Haidar, dengan cepat Yumna menggelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Haidar yang sudah semakin mendekat.


"Nggak perlu. Aku tau ya maksud kamu apa," ucap Yumna, melihat senyuman Haidar yang meringis dan tatapan menggoda. Haidar terkekeh melihat Yumna mempercepat jalannya.


"Maksud apa, Sayang? Lagian nggak apa-apa, kan, kalau main sekali lagi. Kayaknya aku bakalan ketagihan deh dengan yang tadi tuh," ujar Haidar lagi-lagi membuat Yumna menjadi malu.


"Udah, deh. Jangan ngomong lagi. Gak akan, besok-besok aku nggak akan kayak gitu lagi!" teriak Yumna kesal untuk menutupi rasa malunya. Yumna melemparkan handuk untuk Haidar karena laki-laki itu hanya memakai handuk untuk menutupi pinggangnya saja.


Haidar menangkap handuk itu dan mengusap rambutnya yang basah, sedangkan Yumna pergi ke arah lemari untuk mengambil pakaian mereka berdua.


"Yumna, aku lapar," ujar Haidar di tengah memakai pakaiannya.


"Aku juga lapar, kamu sih kelamaan di dalam sana."


"Aku?" Haidar menunjuk dirinya sendiri. "Perasaan yang tadi mulai duluan tuh kamu deh, kenapa jadi aku?" ujar Haidar santai, seketika tawa yang ada di mulutnya tenggelam saat melihat tatapan maut sang istri.


"Kamu tuh, ya. Dulu aja bilang kalau aku harus punya inisiatif, harus lincah, harus bisa menyenangkan hati suami. Sekarang giliran aku sudah begitu kamu salahin aku," ujar Yumna kesal. Haidar melongo menatap sang istri yang tiba-tiba saja marah. Hal yang tidak pernah Yumna lakukan meski dia membuat usil sekalipun.


"Eh, aku nggak salahin kamu. Aku kan cuma bilang--"


"Bilang apa?" tanya Yumna seraya melotot tajam. Haidar menggelengkan kepala memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya tadi yang telah terpotong oleh Yumna.


"Nggak. Nggak apa-apa. Iya aku yang salah," ujar Haidar mengalah. Seram juga melihat Yumna dengan wajah yang seperti itu.


"Bagus. Memang laki-laki harusnya mengalah sama istri. Mau makan apa?" tanya Yumna setelah selesai memakai pakaiannya, nada suara wanita itu tetap saja terdengar ketus.


"Mie instan aja deh, biar kamu--"


"Mie instan itu nggak baik buat kesehatan. Kan tiga hari yang lalu baru makan mie instan," sambar Yumna lagi-lagi dengan nada yang ketus. Haidar hanya diam, mendengarkan ocehan Yumna. dia seperti anak kecil yang tengah dimarahi ibunya.


"Ya, kan aku minta itu biar kamu nggak usah susah masak, Istriku. Sudah lapar juga kan? Jadi biar yang ada aja dulu," ucap Haidar. Mendengar itu hati Yumna jadi luluh juga.


"Aku masakin, deh," ucapnya lalu berjalan ke luar kamar meninggalkan Haidar.


Haidar menatap kepergian Yumna dengan bingung, menggaruk belakang kepalanya yang jelas tidak gatal sama sekali.


"Yumna kenapa, ya?" gumam Haidar tak tahu, kemudian dia mengikuti sang istri yang kini sudah ada di dapur. Tampak wanita itu sedang berkutat dengan beberapa bahan masakan yang ada di atas meja, entah apa yang akan dia buat untuk kali ini. Semoga saja masakannya menjadi lebih baik lagi.


"Sayang, mau aku bantu?" tanya Haidar mendekat ke arah Yumna. Akan tetapi, jawaban dari wanita itu hanya berupa gelengan kepala saja.


"Nggak perlu, aku bisa sendiri. Kamu duduk aja di sana dan tunggu." Tunjuknya ke arah di mana kursi makan berada.

__ADS_1


Haidar menurut saja, melihat wajah istrinya yang masih suram seperti itu, padahal tadi saja saat di dalam kamar mandi wajahnya penuh dengan senyuman yang lembut.


"Kamu ... kenapa? Kayak kelihatan bete gitu?" tanya Haidar dengan hati-hati, jangan sampai dia salah bicara lagi dan membuat Yumna semakin marah.


"Nggak apa-apa," jawabnya singkat. Haidar memilih diam dan memperhatikan sang istri, tapi pandangannya kemudian tertuju pada sesuatu di atas meja di ruang tamu. Haidar tersenyum dan menuju ke arah ruangan itu, mengambil paket tersebut dan melihat untuk siapa paket itu tertuju.


"Aduh, Pak Dani. Lupa pasti nih!" gumam Haidar kesal. Dia melirik ke arah Yumna yang masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur. "Kan, bisa gawat kalau sampai Yumna lihat," ucapnya lagi dengan pelan. Haidar segera berjalan ke arah lemari kecil yang ada di sana dan menyimpan benda tersebut di dalam sana.


"Semoga di sini aman," ucap Haidar sambil mencari tahu keberadaan Yumna. Tak lama, Yumna berteriak dari dapur. Beruntung dia sudah mengamankan benda tersebut.


"Haidar. Ayo makan!" teriak Yumna lagi. Haidar segera kembali ke arah dapur dan melihat hidangan yang ada di atas meja.


"Aku cuma masak ini, nggak apa-apa, kan?" tanya Yumna. Haidar mencium aroma gosong pada makanan yang ada di atas meja, telur ceplok balado dengan tepian putih telur sedikit menghitam.


"Nggak apa-apa, terima kasih, Sayang." Haidar segera mengambil piring, serta nasi.


"Telurnya kenapa nggak diambil?" tanya Yumna saat melihat Haidar masih diam membeku di tempatnya menatap makanan itu.


"Eh, iya. Aku ambil yang ini," ucap Haidar mengambil telur dengan sedikit warna hitam. Dia segera makan dengan nasi yang masih mengepulkan asap tipis.


"Uhuk!" Haidar terbatuk saat merasakan kejutan dari masakan istinya itu. Asin, itu lah yang pertama kali dia rasakan saat lidahnya menyentuh telur. Sungguh tampilan yang cantik memang sangat bisa menipu.


"Kamu kenapa?" Yumna juga sama terkejutnya, mengambilkan air dari dalam dispenser untuk suaminya itu. Segera air yang baru saja Yumna berikan, dia sambar dan tenggak banyak-banyak.


"Aku nggak apa-apa, cuma nggak hati-hati aja makannya," ucap Haidar.


"Oh, aku kira kamu tersedak karena keasinan," ujar Yumna.


Haidar kembali makan, sesekali membuka mulutnya dan menghembuskan napas agar udara panas yang ada di sana keluar. Menahan rasa yang sangat amazing di dalam sana.


"Makan tuh hati-hati, dong. Nggak ada yang rebutan juga," ujar Yumna lagi.


Yumna hanya diam memperhatikan Haidar makan, sesekali memakan timun yang sudah dia siapkan sebagai lalapan mentah. Lapar sebenarnya, padahal tadi dia sangat ingin memasak telur ceplok balado ini, tapi kenapa sudah jadi malah tidak mau makan?


"Kamu nggak makan?" tanya Haidar, Yumna menggelengkan kepalanya dan memakan timun itu hingga sekitar mulutnya sedikit basah.


"Lagi nggak selera makan, nanti aja aku makannya siang," ucap Yumna lagi. "Enak nggak?" tanya Yumna. Haidar menganggukkan kepalanya dengan bersemangat, senyum lebar dia berikan kepada istrinya itu demi untuk membuat Yumna bahagia.


"Enak banget. Enak. Aku habiskan boleh, ya?" tanya laki-laki itu lantas mengambil dua telur lain yang ada di atas piring dan memindahkannya ke piringnya sendiri. Padahal Yumna belum memberikan jawaban untuk itu. Haidar tidak ingin jika istrinya itu memakan telur melebihi telur asin yang dijual di pasaran. Bisa gawat kalau ketahuan berbohong mengatakan enak padahal tidak sama sekali.


Yumna hanya menatap Haidar heran, laki-laki itu tidak pernah memakan telur lebih dari dua buah.


"Tumben kamu makan banyak banget? Emang bakalan habis telur segitu?" tanya Yumna heran.


Haidar meringis sambil memotong telur tersebut tepat di tengah. "Habis, dong. Aku lapar banget. Kan kita sudah olah raga dari semalam dan tadi waktu mandi, jadi aku lapar banget."


"Tau gitu tadi aku masak agak banyakan," ujar Yumna, sedikit sebal rasanya jika untuk makan siang dan sore nanti harus berkutat lagi di area dapur.


"Hehe, nggak apa-apa, nanti kalau buat makan, kita beli saja di luar kalau kamu nggak mau masak lagi." Haidar menenangkan Yumna, terpaksa wanita itu menganggukkan kepalanya.


Dengan susah payah, Haidar menelan makanan itu. Tidak jarang pula dia minum sehingga sudah hampir menghabiskan dua gelas besar air.


"Kamu oke? Kalau makan jangan minum terus, nanti kekenyangan," ujar Yumna memberi peringatan. Haidar hanya tersenyum dan memasukkan makanan lagi ke mulutnya dengan porsi yang banyak. Pipinya menggembung membuat tampak lucu di mata Yumna.

__ADS_1


Melihat Haidar yang makan dengan lahap membuat Yumna jadi ingin juga, tergiur dengan saus yang tersisa di piring suaminya. Telur yang ada di sana masih tersisa satu.


Haidar masih bertahan, jangan sampai mengeluarkan makanan itu di depan Yumna. Sesekali dia melirik ke arah istrinya, melihat pandangan wanita itu yang tertuju pada piring miliknya.


Tatapan Yumna masih fokus pada telur, Haidar seakan mengerti dengan apa yang terjadi, tampak Yumna menelan ludahnya dengan susah payah.


Wanita itu berdiri, mengambil piring yang ada di samping wastafel dan mengambil nasi, kemudian duduk di tempatnya tadi.


"Bagi satu tel—" Yumna terdiam, menatap piring Haidar yang kini kosong, telur sudah tidak ada lagi di sana.


"Yaaah, kok habis?" ujar Yumna kesal. Lapar kini melanda dirinya saat memperhatikan Haidar tadi makan dengan lahap.


Telur yang ada di piring, sudah Haidar makan tanpa memotongnya terlebih dahulu, karena dia tahu akan arti pandangan Yumna tadi. Gawat jika Yumna sampai memakannya.


"Loh, kan tadi aku bilang aku mau makan semuanya," ucap Haidar santai, mengunyah makanan itu di dalam mulutnya yang penuh.


"Tapi kan tadi masih ada satu."


"Eh, aku nggak tau kalau kamu mau makan juga. Tadi kan kamu nggak mau makan, berhubung aku lapar banget jadi aku makan semua." Haidar berbicara dengan mulutnya yang masih penuh.


Yumna tidak bisa melakukan apa-apa lagi mendengar Haidar yang berbicara seperti itu. Dia hanya bisa pasrah, hendak mengambil bekas piring telur yang masih terdapat kuah bumbu balado tadi. Lebihi baik daripada tidak sama sekali. Akan tetapi, baru saja akan mengambilnya haidar sudah lebih dulu mengambil piring tersebut dan menyeruputnya langsung di mulut.


"Ah .... enak!" ucap Haidar layaknya menyeruput air kopi. Yumna hanya bisa melongo menatap Haidar dengan kelakuannya yang aneh hari ini.


"Haidar! Aku juga mau makan!" teriak Yumna kesal. Telur sudah dimakan, kuah juga sudah habis oleh suaminya. "Aku makan apa?" teriak Yumna lagi.


Haidar menyimpan piring tersebut di atas piring miliknya tadi dan tersenyum meringis. "Eh, mau makan juga, ya? Aku masakkan yang sama?" tanya Haidar membujuk.


Yumna sudah terlanjur kesal, dia mendorong piringnya yang sudah terdapat nasi hangat. "Nggak usah! Udah nggak mau makan!" ucap Yumna marah.


"Maaf. Aku buatin apa dong? Telur balado juga? Atau, yang lain?" tanya Haidar lagi. Yumna sudah terlanjur kesal membuang wajahnya ke arah lain.


"Nggak usah. Nggak jadi laparnya," ucap Yumna dengan nada merajuk. Haidar jadi serba salah.


"Makan di luar aja? Beli nasi rendang? Ayam goreng? Ayam bakar? Sate cumi?" ajak Haidar seraya memberikan pilihan. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Mau sayur gulai nangka," ucap Yumna.


"Gulai nangka? Beli di mana?" tanya Haidar bingung, dia tidak pernah tahu di mana yang menjual makanan tersebut.


"Biasanya di warung Padang ada, di warteg juga ada, nggak tau deh di mana lagi. Cari yuk!" ajak Yumna. Dengan cepat Haidar menelan makanan itu dan menghabiskan minuman yang ada di sana.


"Sebentar, aku cuci piring dulu."


Selesai cuci piring Haidar dan Yumna pergi ke luar dengan menggunakan motor milik Pak Dani. Dua orang itu tak lupa memakai helm dan berkendara dengan aman di tepi jalanan dengan kecepatan sedang. Tak lama mereka telah sampai di tempat yang dituju.


Mata Yumna berbinar saat mendapatkan apa yang dia mau, hal itu membuat Haidar heran karena hampir tidak pernah melihat sang istri memakan atau memasak yang terdapat santan, padahal Yumna pernah bilang jika perutnya tidak bisa toleransi akan makanan tersebut.


"Yakin mau makan ini? Bukannya perut kamu suka mules ya kalau dah makan santan?" tanya Haidar seraya melihat makanan tersebut tengah dibungkus oleh seorang pelayan rumah makan Padang tersebut.


"Kamu doakan aku sakit perut?" tanya Yumna beringas, pelayan warung itu sampai melirik ke arah Yumna dan Haidar lalu kembali dengan pekerjaannya.


"Bukan gitu. Kan dulu pernah kamu bilang gak bisa makan santan ya?" ujar Haidar mengingatkan. Yumna hanya mengangkat kedua bahunya dan memilih untuk kembali memperhatikan saat makanan itu masuk ke dalam plastik.

__ADS_1


__ADS_2