YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
123. Satu Wanita Tiga Lelaki


__ADS_3

Haidar tersenyum senang. Dia pulang dua hari lebih cepat dari seharusnya. Urusan pertemuan di luar negeri yang seharusnya empat hari ia bisa selesaikan hanya dua hari saja.


Dia baru saja landing di bandara, berjalan keluar dengan senyum riang di bibirnya. Dia memanggil taksi, bibirnya masih mengulum senyum.


"Apa aku harus kasih dia kabar?" bergumam sendiri, menatap hp yang kini sudah ia keluarkan dari saku bajunya. Men-scroll layar datar yang kini menyala di tangannya. Gambar walpaper yang kini telah berganti dengan foto dirinya dan juga Vio, calon istrinya.


"Akh, tidak usah. Aku kasih dia kejutan saja!" Haidar tersenyum senang, dia kembali memasukkan hpnya ke dalam saku bajunya.


"Pak kalau ada toko bunga kita berhenti sebentar ya!" Pinta Haidar pada pak sopir, Pak sopir itu hanya mengangguk mengiyakan.


Mobil taksi kini berhenti di depan sebuah apartemen, Haidar turun dari dalam taksi dengan seikat bunga di tangannya. Dia tersenyum senang memandang gedung di hadapannya yang menjulang tinggi. Dia tahu persis dimana jendela unit kekasihnya berada. Semoga saja sore ini Vio ada di rumah. Kalau tidak ada, dia akan menghubungi asisten Vio dan menanyakan kebeadaan kekasihnya itu.


Haidar mulai berjalan ke dalam gedung apartemen, dia menaiki lift. Di bibirnya masih mengulum senyum bahagia. Mungkin lamarannya beberapa waktu yang lalu jauh dari kata romantis. Dia akan melakukannya lagi kali. Kejutan kepulangannya pasti akan membuat kekasihnya senang.


Haidar mengeluarkan cincin yang ia pesan khusus di luar negeri kemarin, di ukir dengan indah dengan nama mereka berdua. Dia pandang lamat-lamat, masih dengan senyum menghias di bibirnya. Haidar lantas memasukkan cincin itu di sela-sela bunga, di samping kartu dngan tulisan Will U Marry Me disana.


Akh seharusnya dia menyewa satu restoran atau membuat acara lamaran romantis di tepi pantai, tapi dia sudah tak sabar untuk melakukanya. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya. Jika di total, sudah lebih dari lima hari mereka tak bertemu. Kangen!


Haidar menekan beberapa tombol di samping pintu. Dia sudah jelas hapal dengan kunci pintu yang ada disana. Sangat mudah sekali, karena Vio mneggunakan tanggal kelahirannya. Akh... wanita itu memang yang paling mencintai dirinya.


Keadaan di dalam ruangan apartemen itu sepi, tak ada siapapun disana, hanya ada satu tas wanita di atas sofa. Haidar tak kenal dengan tas itu.


Apa ada teman Vio yang datang?

__ADS_1


Pandangan mata Hidar tertuju pada sebuah jas yang tersampir di sandaran sofa. Beberapa minuman kaleng dan juga botol bir berdiri dengan tegak di atas meja, ada satu botol yang mungkin sudah kosong terguling di sana. Sepatu... laki-laki bawah sofa?


"Akh..!" suara memekik terdengar dari dalam kamar. Entah itu suara siapa Haidar tak mengenalnya. Lalu terdengar suara lain, suara laki-laki yang tertawa penuh kemenangan dari dalam sana.


Haidar mengeratkan kedua tangannya, bahkan buket bunga yang kini ada di tangannya rusak pada pegangan tangannya. Apa yang dia lihat tak bisa dia percaya. Matanya memanas, rahangnya mengeras, hatinya sakit.


Wanita yang sangat di cintainya kini berada dalam jamahan orang lain, bahkan tiga orang lelaki! Tiga orang... lelaki!


Hidar memandang kekasihnya yang terlihat sngat menikmati permainannya. Wanita itu tak menyadari kehadiran Haidar yang masuk ke dalam kamar itu. Dia sangat menikmati semua sentuhan dari tangan-tangan besar yang sedang menjamahnya sekarang.


Duduk bersandar dengan kepala menengadah, menikmati ciuman panas dari pria yang kni duduk di belakangnya. Satu pria lain duduk di sebelahnya, memeluk dan menggod pay*d*r*nya. Mulutnya meng*l*m dan mengecup dada besar nan seksi itu. Dan satu pria lain...berjongkok di bawah sambil menikmati lembah kenikmatan yang selama ini di pertahan kan oleh dirinya, menyisakanya untuk malam pertama mereka!


Tak ada perlawanan dari Vio. Wanita itu terlihat sangat menikmatinya. Bahkan di belakangnya adegan panas sedang terjadi. Seorang pria sedang bergerak naik turun di atas tubuh seorang wanita yang polos tak terselimuti apapun.


Haidar membanting buket bunga yang ada di tangannya. Cincin yang ia simpan tadi menggelinding di lantai.


Matanya membelalak, membulat. Dia tarik kemeja laki-laki yang entah milik siapa untuk menutupi tubuh polosnya. Mendorong pria yang masih saja menikmati lembah yang ada di antara selangkangannya hingga pria itu terjengkang.


"Haidar! I-ini tidak seperti yang kamu fikirkan!" Vio tergagap, dia bangkit dwa mengejar Haidar yang kini sudah berlalu keluar dari kamarnya.


"Haidar!" Dengan cepat Vio meraih tangan Haidar. Satu tangan yang lain ia pakai untuk menahan baju yang kini menutupi bagian depan tubuhnya, bahkan tak semua tubuh itu tertutupi. Bekas-bekas merah menjijikkan yang ada di dada Vio membuat Haidar merasa muak!


"Haidar! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan! Dengarkan aku dulu!" mohon Viola.

__ADS_1


Haidar menepis tangan Vio kasar hingga wanita itu terhempas ke belakang, jika saja kakinya tak sigap menahan diri pastinya dia akan terjatuh ke lantai.


"Tidak seperti yang aku fikirkan? Lalu ini apa?! INI APA, HUHH?!!" teriak Haidar tepat di depan wajah Viola. Dia sudah tak peduli lagi dengan mata Vio yang sudah basah karena tangisan.


"Selama ini aku menjaga kamu, menahan diri untuk tidak menyentuh kamu karena aku ingat janjiku dengan almarhum kedua orang tua kamu, Vi! Tapi apa yang kamu lakukan sekarang ini, huh? Dengan murahnya kamu membiarkan ... bahkan... tiga lelaki menjamah kamu?" tanya Haidar tak percaya, dia sulit untuk berkata-kata, seketika dia merasa jijik, bukan hanya pada wanita yang kini bertel*njang di hadapannya dengan penampilan berantakan khas bercinta. Tapi juga pada dirinya yang... Dia bodoh! Mungkin ini yang mami maksud! Vio sudah lama kah mengkhianati dirinya?


"Haidar, aku di cekoki obat, dan aku gak sadar!" Vio beralasan.


Haidar pria dewasa. Dia tahu persis bagaimana rasanya di cekoki obat seperti itu. Vio pernah melakukannya dulu. Sulit untuk menahan hasrat dari efek obat yang seperti itu, tapi wanita ini... bahkan kini dengan sadarnya meahan dirinya dan dia bilang di cekoki obat? Tidak! Dia sadar! Sadar seratus persen!


"Pernikahan kita batal, Vi! Aku gak sanggup masuk ke dalam dunia kamu yang seperti ini!" ucap Haidar lalu pergi dari sana. Vio menangis, dia berteriak kesal sambil memanggil nama Haidar beberapa kali, namun pria itu tak mendengarkannya sama sekali. Dia terlalu kecewa pada Vio dan juga pada dirinya sendiri.


"Arggght!!! Sialan!" Haidar berteriak kesal dan menendang dinding lift dengan keras.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Nah yang ingin part ini keluar. Sudah puas kah anda? Maaf kalau kurang greget ya...


__ADS_2