YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
247. Kedekatan Syifa Dan Azkhan


__ADS_3

"Sudah lah, jangan pikirkan itu lagi. Kakak cuma ingin istirahat aja sebentar. Pengen rehat dulu," ucap Yumna.


"Nanti balik lagi ke kantor?" tanya Arkhan.


"Gak tau, lihat gimana nanti aja, deh." Yumna menghela napas berat seraya menyandarkan dirinya dengan nyaman. Jalanan yang sepi membuat dirinya merenung. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan sekarang ini. Ingin rasanya pergi sejenak ke tempat yang jauh untuk menenangkan diri. Rasa rindu juga telah menggelung di dalam hatinya.


Sementara itu di mobil yang lain, Azkhan membawa kendaraannya dengan sedikit pelan daripada kakaknya. Dia melirik pada Syifa yang kini hanya diam seraya menatap jalanan.


"Kak, marah?" tanya Azkhan pada sang kakak. Tidak nyaman dengan suasana yang ada.


"Enggak. Marah kenapa?" tanya Syifa balik.


"Itu, soal yang tadi," ucap Azkhan tidak enak hati. Semenjak mereka naik ke dalam mobil Syifa tidak banyak bicara, padahal biasanya dia paling cerewet dan tidak mau diam. Selalu membuat ramai suasana.


"Tadi apa? Gak ada apa-apa, kan? Yang kalian bilang itu juga bener kok," celetuk Syifa, membuat Azkhan semakin merasa bersalah. Syifa berkata meski di dalam hatinya ada rasa sedikit tercubit kala mengingat hal yang tadi.


"Maaf," ucap Azkhan dengan rasa bersalah.


"Sudah lah, jangan bahas lagi. Aku ngantuk," ucap Syifa lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah jendela. Ada rasa hangat di matanya saat mengingat ucapan kedua adiknya itu, siapa yang tidak ingin punya pasangan? Siapa yang tidak ingin diperhatikan laki-laki? Akan tetapi, jika mereka hanya mendekati karena tahu dia anaknya Bima Satria Mahendra untuk apa juga?


Syifa mengusap sudut matanya yang sudah sedikit basah. Hal itu diketahui oleh Azkhan, semakin membuat adiknya sedih, sadar akan kesalahannya tadi. Harusnya dia sensitif, Syifa bukanlah Yumna yang cuek dengan laki-laki. Perasaan kakaknya ini lebih lembut dan juga rapuh.


Suasana di dalam mobil kini semakin hening saat Syifa tidak membuka lagi suaranya, membuat Azkhan kehilangan sosok ceria kakaknya.

__ADS_1


"Mau melipir sebentar gak?" tanya Azkhan meminta persetujuan. Dia melirik sang kakak, berharap jika gadis yang hanya beda satu tahun dengannya itu akan setuju.


"Kemana?" tanya Syifa tidak mengalihkan tatapannya dari luar jendela.


"Gak tau, muter aja dulu," ucap Azkhan.


"Jangan lah, nanti mama marah. Ini sudah malam juga," ujar Syifa masih tanpa menoleh. Ini sudah sedikit lebih dari jam sembilan malam, mungkin saja setelah ini mamanya akan mengomel jika mereka pulang lebih dari jam sembilan. Lagi pula, Syifa tidak pernah pulang telat dari jam yang seharusnya. Dia tidak ingin membuat mamanya pidato panjang lebar menceramahi anak-anaknya.


"Gak apa-apa, kali. Gak akan marah kalau sama Babang Az," ucap Azkhan dengan menepuk dadanya.


"Terserah kamu, lah. Tapi nanti kalau mama marah kamu yang tanggung, ya." Syifa pasrah. Dia sedang sangat sedih dengan nasib dirinya. Azkhan melirik Syifa yang menjawab tanpa bersemangat sama sekali.


"Hei, jangan lesu gitu, dong. Aku jadi ngerasa salah, nih," ujar Azkhan. Syifa tidak menjawab. Dia hanya ingin pikirannya menjadi tenang sekarang ini. Rasa hangat di sudut matanya kini terasa kembali. Jika saja Azkhan tidak banyak bicara soal ini mungkin saja dia akan masih baik-baik saja, apalagi jika Azkhan menganggap saja semua tidak terjadi tadi, itu akan lebih baik daripada dibahas kembali.


Azkhan tidak sabar lagi dengan kediaman kakaknya, dia menghentikan laju kendaraannya di tepi jalanan yang sepi, tidak peduli jika kakak kembarnya kini sudah meninggalkan mereka jauh di depan.


"Elu itu kenapa sih, Kak?" tanya Azkhan membuat Syifa menolehkan kepalanya sedikit bingung, juga dengan kendaraan mereka yang tiba-tiba Azkhan hentikan di tepi jalan.


"Elu dari tadi diam aja, gue gak suka, tau!" Sedikit membentak, Azkhan berbicara pada Syifa. Sungguh dia tidak suka dengan kediaman Syifa yang seperti ini.


Syifa menatap adiknya dengan bingung, tiba-tiba saja marah. Padahal seharusnya dia yang marah karena ucapan kedua adiknya tadi.


Azkhan membuka sabuk pengamannya, dia mendekat pada kakaknya dan memeluknya dengan erat, membuat Syifa terkejut dengan perlakuan adiknya ini.

__ADS_1


"Gue minta maaf. Gue gak nyaman elo diemin," ucap Azkhan dengan sedikit nada bergetar pada suaranya.


"Elo itu kenapa, sih?" tanya Syifa, sedikit rasa tercekat di tenggorokannya saat mendapatkan perlakuan tersebut dari adiknya. Matanya kini panas luar biasa dan tidak bisa dia tahan lagi. Air mata pun keluar dari kedua sudut matanya kini.


"Maaf atas ucapan kami, gue tau elo sedih, kenapa gak marah aja? Gue akan lebih seneng kalau elo marah daripada diem kayak gini," ucap Azkhan. Syifa tidak tahan dengan apa yang dia dengar, rasa sedih dan juga sakit hatinya tadi kini dia keluarkan di dalam pelukan adiknya. Dia tidak segan lagi untuk mengeluarkan segala rasa yang ada di dalam hatinya. Azkhan memang sosok adik yang sangat pengertian terhadapnya daripada si kembar yang satunya, meski mereka memiliki cara tersendiri untuk melindungi Syifa, tapi Syifa lebih bisa dekat dengan adiknya yang satu ini.


Azkhan menunggu Syifa mereda tangisnya. Dia sangat menyesal sekali atas ucapannya tadi dengan kakak kembarnya. Dia hanya ingin kakaknya menjadi pribadi yang lebih baik, tapi dia tidak tahu dengan apa yang Syifa alami selama ini.


Hampir sepuluh menit Syifa menangis, dia sampai sesenggukan dan tidak bisa menghentikan tangisnya. Barulah setelah Azkhan memberikan minum kepadanya, gadis itu sedikit lebih tenang. Azkhan juga mengusap air mata di wajah Syifa dengan lembut dan memperlakukan kakaknya itu bak barang berharga.


"Udah nangisnya?" tanya Azkhan pada sang kakak. Syifa mengangguk sambil mengucek matanya. Sedikit malu, tapi lega juga rasa di dalam hatinya.


"Jahat, lo. Harusnya elo gak usah meluk gue. Kan jadi nangis," ucap Syifa, bahasa gaulnya keluar karena adiknya yang memulai. Syifa memukul dada adiknya yang keras.


"Haha, habisnya elo kalau belum nangis pasti sampai empat hari akan diemin gue," ucap Azkhan.


"Maaf." Azkhan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Syifa dengan segera menyambut tangan itu dengan hangat, tanda dia telah memaafkan adiknya.


"Jadi ikut ke suatu tempat atau pulang?" tanya Azkhan.


"Pulang, tapi beli cilok ya?" pinta Syifa. Azkhan menatap kakaknya sedikit aneh, ingin berkata jika tadi baru saja mereka makan kini Syifa masih meminta cilok?


'Ah, kalau gue ngomong, nanti dia marah lagi,' batin Azkhan di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2