YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
377


__ADS_3

"Kalian nggak salah? Beli makanan sebanyak ini?" tanya Lily yang terkejut melihat begitu banyak makanan yang ketiga anaknya bawa.


"Syifa tuh, Ma. Udah dibilangin juga masih ngeyel pengen ini dan itu," adu Azkhan menunjuk sang kakak yang tampaknya tidak peduli sama sekali. Dia tengah menikmati cilok dengan bumbu kacang yang sangat pedas.


"Nggak apa-apa, kan kita orang banyak di sini. Mami Mitha, ayo makan. Aku beli martabak telur kesukaan Mami. Aku juga beli soto buat Mama." Syifa melambaikan tangannya meminta dia wanita itu bergabung di atas tikar dengan makanan banyak di sana.


"Hei, perasaan yang beli kita deh, kenapa jadi kamu yang beli?" ujar Azkhan kesal, sementara Arkhan sedang menikmati makanan lain di tangannya.


"Sama aja! Kan aku yang pesen, kalian kan cuma ngikut aja." Syifa berkata dengan sangat tenang sekali.


Yumna dari atas ranjang melihat semua adiknya tengah menikmati makanan hanya menelan ludah, bisa-bisanya ketiga adiknya ini membawa banyak makanan lezat saat dirinya sedang tidak selera makan.


"Adik laknat!" gumam Yumna kesal. Haidar yang mendengar mengusap pundak sang istri.


"Sabar, Sayang. Sabar," ujar Haidar.


Yuma mencebikkan bibirnya, matanya bak anak kucing yang sedang memohon sesuatu.


"Sayang, mau itu!" tunjuk Yumna pada telur gulung yang Arkhan makan.


Aduh, harus minta Arkhan dong!


Haidar menatap Yumna, andai dia menginginkannya dari adiknya yang lain mungkin dia akan berani memintanya sedikit.


"Sayang, mauuu!" ratapnya.


Terpaksa, Haidar menganggukkan kepala. "Iya, tunggu sebentar. Aku belikan aja ya?"

__ADS_1


Yumna menggelengkan kepala.


Haidar mendekat pada Arkhan dan berjongkok di samping adik iparnya itu.


"Em, Arkhan," panggil Haidar. Bukan hanya Arkhan, tapi kedua adik iparnya yang lain menatap Haidar. "Boleh minta telur gulungnya dua buah? Kak Yumna pengen icip," ucap Haidar malu. Tatapan ketiga adiknya itu membuat Haidar membeku.


"Oh, kenapa Kakak nggak bilang dari tadi? Kirain nggak mau!" ujar Arkhan. Dia memberikan satu plastik miliknya pada Haidar.


"Terima kasih," ucap Haidar.


"Hem!" jawab Arkhan singkat.


Haidar memberikan makanan tersebut kepada Yumna dan segera istrinya makan dalam satu suapan.


"Enak. Mau yang itu! Azkhan! Kakak mau kerang!" seru Yumna. Azkhan yang dipanggil segera membawa semangkuk kerang hijau yang tadi dia beli di pinggir jalan.


"Nanti aja. Kalian duluan saja," tolak Haidar.


Lily melihat Haidar yang bersama dengan Yumna. Dia memanggil Haidar dan mengajaknya serta, menepuk tempat di dekat dirinya dan Mitha.


"Haidar, sini. Kita makan bersama," ajak Lily.


"Iya, Ma. Duluan saja, aku mau sama Yumna di sini," ujar Haidar.


Haidar bersyukur, meski Yumna tidak mau makan nasi, tapi dia cukup banyak makan jajan. Entah apakah dokter memperbolehkan Yumna makan sebelum melahirkan atau tidak, tapi yang dia ingat dulu dokter sempat menyuruh Yumna untuk berpuasa sebelum melahirkan.


"Sayang, bukannya dokter dulu bilang nggak boleh makan sebelum lahiran, ya?" tanya Haidar berbisik kepada Yumna.

__ADS_1


"Kata siapa?" tanya Yumna sambil menyeruput kuah kerang hijau yang sangat lezat, sedikit pedas, tidak menghentikannya untuk menikmati makanan tersebut.


"Waktu itu, waktu kita ngobrol sama dokter?"


"Bukan, itu kalau lahiran sesar, aku kan lahiran normal. Jadi boleh makan sepuasnya, biar waktu lahiran ada tenaga. Aku mulai lapar," ujar Yumna. Haidar menganggukkan kepalanya.


"Gitu ya? Aku kira sama aja. Kamu mau makanan yang lain?" tanya Haidar menawarkan.


"Nggak mau, ini aja sudah cukup. Kamu nggak ikut makan sama mereka?" tanya Yumna menunjuk pada sekumpulan orang yang tengah duduk di lantai mengelilingi makanan.


"Nggak, aku belum lapar," ujar Haidar. Sama seperti Yumna tadi, dia tidak ada keinginan untuk makan karena gugup menghadapi hari kelahiran putra-putranya.


"Kenapa? Apa kamu nggak enak sama yang lain?" tanya Yumna menyelidik, melihat wajah Haidar yang selalu merasa tak nyaman jika berada di tengah keluarganya.


"Nggak, bukan itu. Aku memang nggak lapar, aku gugup."


"Beneran?"


Haidar menganggukkan kepalanya. "Iya, aku memang lagi gugup. Coba deh kamu rasain di sini." Haidar mengambil tangan Yumna dan menempelkannya di dada. Debar jantung Haidar terasa dan membuat Yumna tertawa geli.


"Kira-kira jam berapa anak kita akan lahir? Aku udah nggak sabar," tanya Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nggak tau, dokter bilang masih sama kayak tadi sore. Aku ngantuk sekarang, Haidar," ucap Yumna sedikit mengeluh.


Haidar mengusap pipi Yumna dengan lembut dan sayang. "Ya sudah, kalau memang lagi nggak kerasa sakit, kamu tidur aja dulu. Aku akan tunggu kamu sampai lahiran nanti," ucap Haidar. Mangkok yang ada di tangan Yumna dia ambil dan dia simpan di atas nakas. Yumna berbaring dengan nyaman dan Haidar menyelimutinya hingga di atas perut.


Perlahan Haidar mendekat dan mencium kening Yumna dengan sayang. Bukan hanya itu saja, melihat wajah pucat Yumna yang sekarang ini membuat Haidar ingin menciumnya. Belum juga Haidar mendekatkan bibirnya, Yumna sudah lebih dulu melahap bibir sang suami dan melum4tnya. Mereka berdua terlarut dalam permainan mereka sehingga keduanya lupa jika di dalam kamar tersebut bukan hanya mereka berdua saja yang ada di sana.

__ADS_1


"Uhuk!! Aduh, kayaknya kita harus menyingkir keluar, nih," ujar suara Lily yang membuat Haidar menjauhkan wajahnya dari sang istri.


__ADS_2