YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
122. Penolakan Mitha


__ADS_3

Mitha begitu kesal saat Haidar membawa Viola ke rumah untuk makan malam. Dia tak pernah meminta Haidar untuk membawa wanita itu ke rumah, tapi seenaknya Haidar mengatakan jika dirinya mengundang Vio. Nafsu makannya sudah hilang bahkan semenjak makanan belum di hidangkan di meja makan.


Mitha merasa mual dan muak saat Haidar dengan sikap penuh perhatian menambahkan makanan ke dalam piring wanita itu. Meski kini pakaian yang di kenakannya sangat sopan tapi tak menutupi keburukan dan kebusukan wanita itu. Haidar saja yang buta dengan cintanya!


"Sudah sayang, jangan banyak-banyak. Aku gak akan habis!" suara itu di buat semanja mungkin. Cih... Menjijikkan!


"Tapi kamu baru makan sedikit sayang!" Haidar tak mau tahu, dia tetap menambahkan makanan itu ke dalam piring Viola. Viola melirik Mami Mitha dengan ujung matanya, sudut bibirnya tertarik sedikit ke samping. Anaknya sudah hampir ada di tangannya dan mami dan juga papi sekalipun tak akan bisa melakukan apa-apa! Nyatanya mereka tetap saja mempertahankan putranya ini. Mana ancaman mereka akan mengeluarkan Haidar dari daftar ahli waris? Bahkan untuk sekedar melarang anak ini pulang saja mereka tak tega!


Sok-sok'an mengancam. Padahal tak tega juga kan?!


Viola mengangkat gelas minumannya, di tempelkannya ujung gelas pada bibirnya yang merah menggoda, sebelum air minum itu menyentuh ujung lidahnya, dia kembali menyunggingkan senyum tipis hampir tak terlihat. Tapi bagi Mami Mitha senyum itu jelas terlihat menyebalkan! Apapun yang dia lihat dari wanita di hadapannya ini terlihat sangat menjijikkan!


"Mami ngantuk. Haidar setelah kalian selesai makan malam, jangan lupa kunci pintu dari dalam, Mami gak ingin ada lalat busuk yang masuk ke dalam rumah ini!" Mitha sudah bangkit dari duduknya hingga kursi yang di dudukinya berdecit tergeser di lantai ruang makan itu.


Tanpa menunggu jawaban atau apapun itu, Mitha berjalan meninggalkan tempat dan menuju ke arah kamar. Papi Arya hanya diam, dia tak ingin berbicara apa-apa. Sikap Mitha dan Haidar sama-sama keras, dia tak ingin rumah yang sudah menjadi tempat debat sehari-hari menjadi tempat adu mulut penuh energi negatif, semua itu hanya karena seorang wanita, yang kini ada di samping putranya. Apa benar ini kebahagiaan Haidar yang sesungguhnya?


"Papi kembali saja ke kamar. Kalian lanjutkanlah!" Pusing juga memikirkan dua orang dengan hati sekeras batu. Satu sisi, adalah istrinya. Sisi lain adalah putra semata wayangnya.


Arya masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Mitha yang kini tidur dengan tengkurap, menangis tersedu dengan bahu yang bergetar.


"Mi..."


"Gak usah deket-deket Mami!" teriak Mitha sambil menjauhkan dirinya dari sang suami yang baru saja duduk di sampingnya.


"Papi setuju dengan wanita itu? Lihat dia sekarang. Dia duduk dengan tenang di tempat Yumna! Dia tersenyum mengejek kita, Pi!" teriak Mitha pada suaminya, tangannya dengan lantang menunjuk ke arah luar sambil menahan sesak di dadanya. Air matanya sudah mengalir dengan deras.

__ADS_1


"Mi, lalu papi harus bagaimana? Haidar sudah menjatuhkan pilihannya sendiri! Mau mami dia kabur lagi seperti dulu?" akhirnya papi berbicara.


"Tapi dia wanita yang gak baik, Pi. Papi juga tahu itu kan?" menjerit untuk mengeluarkan sesak di dadanya. Arya mengghembuskan nafasnya dengan berat. Dia duduk dengan lesu di pinggiran kasur king size miliknya.


"Ya. Kita semua tahu itu, tapi entah bagaimana bisa kalau Haidar tak pernah menemukan cacat dengan dia Mi. Dua bulan sudah dia mengikuti gerak-gerik wanita itu tapi dia tak pernah menemukan cacat atau apapun itu. Dan kita harus menyetujuinya. Mami juga sudah setuju itu kan?!" menoleh pada Mitha dengan tatapan tak bersemangat. Dia sudah lelah, setiap hari di hadapkan dengan hal yang seperti ini. Tidak anak, tidak istrinya. Saling berteriak keras hanya untuk memenangkan ego masing-masing.


"Mami mau Yumna, Pi. Mami cuma mau dia! Kemana dia pergi... Huuu...."Mitha menangis tersedu, dia sangat rindu dengan Yumna, sudah sangat lama sekali dia tak bertemu dengan mantan menantunya itu. Tidak. Dia tetap saja menantu di keluarga ini, meski dia dan Haidar sudah tak bersama.


Arya mengangkat satu kakinya dan melangkah dengan membungkuk untuk mendekat ke arah istrinya. Di ambilnya Mitha ke dalam pelukannya dan dia usap rambutnya dengan sayang.


"Lalu kita harus bagaimana, Mi? Yumna gak ada disini bahkan orangtuanya juga gak tahu dia ada dimana. Apalagi kita?!"ucap Arya pasrah. Seerti yanng di katakan Lily dan Bima, Yumna tak ada di tempat, bahkan mereka tak tahu dimana putrinya itu. Mereka hanya bisa percaya dengan apa yang dia lakukan sekarang. Dia hanya ingin menenangkan diri!


"Bagaimana kalau mereka bohong, Mas? Tidak mungkin jika mereka gak tahu keberadaan putrinya. Bisa saja kalau mereka menutupi keberadaan Yumna dari kita!" Mitha menarik dirinya dan menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh berharap.


Arya menghela nafasnya dengan lelah, istrinya sudah sangat menyayangi Yumna, bahkan lebih sayang dari pada dirinya ataupun anaknya sendiri.


"Tapi Mami gak mau ada wanita itu masuk ke dalam keluarga kita, Pi!" Mitha tetap keukeuh, mungkin dia egois, tapi mengingat kelakuan wanita itu di luaran sana membuat dirinya tak rela jika suatu saat Haidar merasa tersakiti dengan hal itu.


"Sayang, maafin kelakuan Mami dan Papi ya. Mereka sebenarnya baik kok! Hanya saja mereka...em..."


"Sudahlah Haidar, aku memang sepertinya gak pantas ada disini. Mami gak mau terima aku." Vio dengan mata berkaca-kaca. Dia menunduk dalam, saling meremas jari-jari tangannya.


"Please Vi, aku akan yakinkan mami dan papi untuk terima kamu. Ya? AKu janji."


"Kalau mereka gak setuju juga?" dia menatap ke kedalaman mata Haidar. Haidar merasa tersiksa melihat kekasihnya yang kini berwajah sendu. Dia lantas mengubah arah duduknya dan menarik tangan Vio. Di usapnya pipi Vio dengan lembut.

__ADS_1


"Mereka hanya belum mengenal kamu dengan baik. Buktinya mami dan papi bisa menerima Yumna waktu itu, lalu kenapa dengan kamu tidak? Kamu tenang ya. Sabar sebentar sagi saja. Oke?" Haidar menatap Bola mata Viola. Vio mengangguk. Haidar mengusap air mata yang sempat menetes dari sudut mata Vio.


.


.


.


.


.


Maaf ya para readers tersayang. Othor lagi kurang enak badan ini. Hawanya lagi gak enak. Ini juga up maksain karena gak bisa tidur.


Untuk yang gak sabar bagaimana keadaan Haidar, ingin dia kapok. Aduh ampuuunnn... di sebut bertele-tele ya boleh lah, tapi bab yang itu kan harus nyambung ya sama cerita di bab sebelumnya, dan harus keluar disaat yang tepat. Gak mungkin juga ujug-ujug keluar tuh bab.


Kalau gak sabar pengen bab yang itu boleh lah buka cerita ini minggu depan aja. Pasti udah keluar tuh bab yang ntu. tabungin aja dulu gak usah baca. Hehe...


Nyatanya membuat beberapa cerita dalam satu waktu itu gak mudah, iya kalau lagi banyak ide keluar pasti othor kasih banyak kok gak akan tanggung-tanggung!


Jujur aja cerita Yumna Azzura ini dalam sebulan hanya bisa untuk beli pulsa 10rb doang 😭😭, tapi othor masih akan tetap lanjutkan cerita ini sampai tamat. Yang like dan komen masih lumayan daripada si Babang Axel dan Gio, mereka cuma menang level.


Lah jadi curhat...Aduh...


Jangan lupa jaga kesehatan ya buat para readers. Jangan sampai sakit di masa-masa sekarang ini, ngeri, sakit apa di periksa jadi diagnosisnya apa.

__ADS_1


Jangan lupa cuci tangan dan juga pakai masker, kalau bisa berjemur tuh di jam 10 sampai 11 pagi, untuk dapatkan vit D.


🙏🙏🙏


__ADS_2