
Di kediaman Keluarga Mahendra, seorang laki-laki kini tengah pasrah. Dua orang di depannya tengah menatap dengan tajam dan dia hanya bisa menunduk saja menyadari kesalahannya. Sementara di sampingnya Mitha dan Arya juga pasrah saja. Anaknya telah berbuat salah, memang patut jika harus mendapatkan hukuman.
Helaan nafas terdengar dari Bima, laki-laki itu tidak habis pikir dengan apa yang Haidar lakukan. Meski memang dia tidak terlalu salah dalam hal ini, tapi membuat Yumna marah. Apa lagi pergi dari rumah.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Bima dingin kepada Haidar.
"Maafkan saya Papa, saya hanya membantu seorang teman."
"Katakan temanmu itu siapa? Nyatanya mantan bukan?" tanya Bima dengan tatapannya yang tajam. Lily juga tidak bisa berbuat buat apa-apa dalam hal ini. Dia juga kecewa karena kepedulian Haidar yang membuat sang putri menjadi marah dan pergi.
"Aku hanya kasihan kepadanya," kilah Haidar.
"Lalu bagaimana dengan putriku?" tanya Bima lagi.
"Saya sangat mencintainya."
"Kenapa harus disakiti lagi? Kamu tahu bagaimana pernikahan kalian bisa terjadi? Apa harus aku sebutkan lagi?" tanya Bima. Haidar semakin menundukkan kepalanya. Dia sadar jika kesalahannya telah membuat dia menderita. apalagi Yumna sudah tidak pulang selama dua hari. Itu sebabnya yang membawa dia datang kemari. Haidar sudah tidak tahan dan juga sangat khawatir dengan keadaan istrinya itu. Akan tetapi, Bima tidak memberitahu di mana keberadaan Yumna sekarang.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana baiknya? Bukan saya yang akan menentukan masa depan kalian, tapi Yumna. Saya tidak akan menyuruh kamu untuk menjauhi anak saya, tapi kalau Yumna sudah tidak mau dekat dengan kamu lagi kamu harus terima akibatnya." Bima berkata, bukan untuk memojokan Haidar, tapi dia paham dengan sifat Yumna.
Mitha dan Arya tersentak kaget, mereka tidak ingin hal itu terjadi lagi. Keduanya saling berpandangan dengan sorot mata tak rela.
"Mas Bima, sebaiknya kita bicarakan dulu soal ini." Mitha angkat bicara, tidak rela jika harus kehilangan Yumna kedua kali.
"Benar, Mas. Ini urusan kedua anak kita. Sebaiknya kita tidak ikut campur dalam hal ini."
"Saya tidak ikut campur. Saya sebagai orang tua tidak mau anaknya kembali terluka. Semua saya serahkan kepada Yumna, cuma dia yang bisa memutuskan segala sesuatunya," jawab Bima.
Haidar dengan segera mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Saya mohon jangan lakukan itu pada saya. Saya sangat cinta dengan Yumna. Dia juga sedang hamil anak saya."
"Saya ingin meminta maaf kepada Yumna, tapi dia tidak mengangkat panggilan dari saya. Saya mohon Papa untuk membujuk dia pulang, atau beritahu saya alamatnya akan saya susul dia dan meminta maaf." Haidar menatap kedua mertuanya dengan pandangan penuh harap, tapi laki-laki di depannya menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu yang berada di mana."
"Saya mohon beritahu saya, Pa. Saya janji nggak akan melakukan hal ini lagi." Haidar memohon bahkan mengatupkan Kedua telapak tangannya di depan dada. Jika perlu dia akan bersujud agar Bima memberitahu keberadaan Yumna.
__ADS_1
"Kami tidak tahu Haidar. Kami saja baru tahu kejadian ini sekarang. Jika kalian tidak datang tentu saya tidak akan tahu kalau yang ternyata tidak ada bersama dengan kalian," ucap Lily yang membuat Haidar merasa lesu. Dia tidak menyangka ternyata kedua orang tua Yumna tidak tahu tentang kejadian ini.
"Jujur saja kami kecewa Haidar. Memang menurut kamu mungkin membantu Viola adalah hal yang wajar, apalagi kamu memakai nama orang lain. Tapi untuk anak kami, hal itu tidak biasa. Bagi Yumna maupun adik-adiknya tidak pernah kami mengajari mereka untuk berbohong. Kamu tahu kan bagaimana perasaan orang yang dibohongi?" tanya Lily kecewa.
Haidar semakin menundukkan kepalanya. Dari ambang pintu dua orang yang lain menatap kesal pada sang kakak ipar. Lagi-lagi membuat kakaknya marah dan pergi dari rumah.
"Dasar b*j**g*n dia! Apa dia tidak kapok juga kita pukuli?" Arkhan emosi mendengar apa yang Haidar ucapkan tadi, sementara adik dan kakaknya menahan tubuh Arkhan agar tidak emosi dan membuat keributan di sana.
"Sabar, Ar." Sang adik menahannya.
"Sabar lo bilang? Kak Yumna nggak tahu ada di mana kamu bilang sabar?" Arkhan merasa kesal, tapi tubuhnya ditarik oleh sang adik menjauh dari ruangan itu.
"Lebih baik kita sabar dulu. Percuma kalau lo ngamuk-ngamuk di sini. Ayo kita pergi," ucap Azkhan.
Akhirnya karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti Haidar dan kedua orang tuanya pulang ke rumah dengan tangan kosong. Mereka sangat bingung dan tidak tahu di mana Yoona berada kini. Panggilan kepada Yumna tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas, membuat ketiga orang itu menjadi hal sangat khawatir apalagi Yumna tengah mengandung.
"Ini semua gara-gara kamu!" bentak Mitha kesal.
__ADS_1
"Lain kali pikirkan lagi kalau kamu akan bertindak." Kali ini Arya yang berbicara dengan nada marah.
"Mau di mana di taruh muka Papi. Kamu sudah bikin Papi dan Mami malu kepada mereka. Mereka akan berpikir kalau kami tidak bertanggung jawab terhadap anak mereka."