YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
303


__ADS_3

Acara ulang tahun Yumna tinggal sebentar lagi, tidak kurang dari satu bulan. Lily ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Yumna meski sekarang dia sudah memilik suami. Meski pun semua anak-anaknya telah besar, tapi tetap lah mereka adalah buah hati yang selalu tampak kecil di matanya.


Lily menghela napas dengan pelan di antara kunyahannya, sedikit hangat di matanya saat mengingat semua yang terjadi dulu. Saat Yumna lahir hingga berusia tiga tahun tanpa kehadiran seorang ayah. Entah apakah itu yang membuat sifatnya berbeda dari yang lainnya? Syifa dan Azkhan sangat dekat dan juga ceria, tapi Yumna dan Arkhan sedikit dingin di sifat mereka.


"Ah, aku bingung," ucap Lily menghentikan acara makannya, mengingat kedua anak itu yang memiliki sifat dingin dan juga sedikit tertutup.


"Apa jangan-jangan aku salah ya didik mereka?" gumamnya. Yumna dan Arkhan sedikit sulit ditebak. Akan tetapi, Lily lebih khawatir dengan Yumna. Dia adalah seorang wanita, juga dengan masa lalu Yumna yang pernah tinggal hanya berdua dengannya. Jelas anak itu masih mengingat masa lalu saat mereka hidup tanpa kehadiran Bima


Terkadang Lily berpikir jika dirinya salah, memiliki perasaan yang terlalu condong pada putri sulungnya. Lebih sayang dan juga ingin selalu memperhatikan. Entah, apakah anak pertama memang yang membuat terkesan sehingga dia merasakan seperti itu?


Lily tidak ingin menyetujui apa yang dia rasakan selama ini, tidak ingin dirinya seperti itu. Dia selalu berusaha untuk membagi rata kasih sayangnya kepada semua putra-putri nya dan berharap bisa melakukannya hingga akhir hayatnya. Di dalam dirinya sangat yakin jika tidak hanya dia saja yang merasakan seperti itu. Bagaimana dengan ibu yang lain?


Ah, aku pikir bukan cuma aku aja, kan? batin Lily.


...***...


Yumna baru saja turun dari mobilnya yang kini dia bawa sendiri. Terpaksa setiap hari membawa mobil karena tidak ada sopir. Naik kendaraan umum Haidar tidak mengizinkannya, sedangkan Haidar sendiri tidak bisa mengantarkan Yumna karena harus pergi sangat pagi sekali demi menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat penting.


Dia berjalan melewati beberapa orang yang seakan tengah menunggunya, menatapnya dengan sorot mata yang Yumna yakin tidak ada keramahan sama sekali. Apa lagi setelah kejadian malam itu dengan bos di pantry, bos seringkali melayangkan senyuman untuknya. Senyum yang dia sendiri juga tidak tahu apa artinya itu.


"Pagi," sapa Yumna, meski beberapa orang tidak suka dengan dirinya, tapi tetap saja dia berusaha untuk ramah.


"Pagi," jawab beberapa orang itu dengan singkat. Ada pula yang hanya melayangkan senyum tipis sebagai jawaban.


Yumna berlalu ke arah lift, pintunya hampir tertutup, tapi kemudian kembali terbuka saat seorang laki-laki sedikit berlari dan menahan laju pintu tersebut. Beberapa pasang mata dari luar menatap hal tersebut, sedikit bingung karena tidak biasanya sang atasan memakai lift karyawan.


"Boleh saya ikut ke atas?" tanya laki-laki tersebut setengah terengah napasnya.


"Tentu saja boleh, Pak. Silakan," ucap Yumna lalu beralih ke sudut untuk memberikan ruang yang lebih banyak pada sosok atasannya itu.


Yumna hanya diam saat Randy menekan tombol menuju lantai atas.

__ADS_1


"Kamu satu lantai di bawah saya, kan?" tanya Randy. Yumna menganggukkan kepalanya.


"Benar, Pak. Tidak apa kalau Bapak terburu-buru. Nanti saya turun lagi," ucap Yumna ramah.


"Oke," jawab Randy lalu menekan angka di mana lantai ruangannya berada. Dua orang yang naik lift bersama dengan Yumna sedikit menyingkir, memberi ruang yang lebih untuk laki-laki itu.


Yumna berdiri dengan tenang sambil menatap dirinya sendiri pada pantulan dinding besi di depannya, hal itu juga dilakukan oleh Randy. Dia tidak bisa menatap secara langsung, maka apa pun yang berhubungan dengan wanita itu akan dia lihat juga meski hanya bayangannya saja di kotak besi tersebut.


"Gue gila! Istri orang jangan diperhatikan," batin Randy, terlalu sulit menolak pesona wanita bersuami ini. Padahal sebelumnya sangat sulit hal yang bisa membuat Randy melirik wanita lain


Ucapan karyawan lain tentang siapa diri Yumna dan menjadi wanita simpanan telah dia telan bulat-bulat. Orang hanya berbicara tanpa tahu fakta, Yumna hanya mengabaikan saja, yang terpenting dirinya tidak melakukan kesalahan seperti apa yang mereka lakukan.


"Yakin dia simpanan pria tajir? Sugar baby, gitu?" tanya salah seorang teman satu divisi yang melihat tadi Yumna baru saja keluar dari dalam mobil mewah.


"Nggak tau lah, tapi masa iya karyawan biasa bisa naik mobil kayak gitu?" tunjuk satu teman yang lain. "Itu kan kayaknya mahal deh. Apa mungkin suaminya juga kaya?" tanyanya kembali.


"Mana aku tahu."


"Ekhem! Mbak ini masih pagi, loh. Sudah ghibah aja. Emang ya kalau ghibah itu paling enak," ucap Mira mengagetkan dua wanita yang tadi. Terkejut mereka, lalu menatap sinis Mira dan pergi dari sana.


Mira menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan yang lainnya. Perasaan, dia tidak pernah melihat Yumna mencari masalah dengan mereka, tapi kenapa mereka mencari masalah dengan wanita itu?


Hingga sampai di ruangannya Mira menemukan Yumna yang sudah berkutat dengan pekerjaan. "Pantas, sih. Kayak diva," ucap Mira.


Ada sedikit iri, karena Yumna sangat cantik dan juga rasanya perfect sekali. Akan tetapi, dia juga sadar dengan dirinya. Semua orang tidaklah sama, dan mungkin juga mereka dari keluarga yang berbeda. Mira sangat yakin dengan itu.


...***...


Di dalam ruangan lain, Randy tengah duduk dengan diam. Pekerjaan yang ada di depannya masih belum dia sentuh sama sekali. Pikirannya kini tertuju pada seseorang yang tidak bisa dia enyahkan dari dalam pikirannya.


"Astaga! Kenapa juga harus ingat dengan dia. Harusnya kalau pun suka, sama temannya saja, masa sama wanita yang status istri orang," ujar Randy dengan kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan segera mengalihkan pikirannya itu dengan pekerjaan.

__ADS_1


"Apa aku sudah gila, ya? Jangan mikir buat jadi pebinor!" gumamnya dengan kesal.


Suara ketukan di pintu terdengar saat randy baru saja akan memulai pekerjaannya. "Masuk!"


Seorang wanita, sekretaris Randy masuk ke dalam ruangan. "Pak, saya ingin mengantarkan ini untuk Bapak." Wanita itu memberikan sebuah amplop untuk Randy.


"Dari siapa?"


"Pak Aldy, dari perusahaan Aldytama," jawab wanita itu.


"Simpan saja, akan saya buka nanti. Tolong kamu buatkan saya kopi hitam tanpa gula, ya." Pinta Randy.


"Baik, Pak." Sekretaris kemudian pergi dari hadapan atasannya itu.


Randy membuka amplop yang ada di atas mejanya, sebuah undangan pesta teryata. "Tumben nggak telepon ke sini," ucap Randy dengan gumaman.


Tak lama setelah dia membuka amplop tersebut, sebuah panggilan terdengar dari hp nya.


"Ada apa?" tanya Randy datar saat menerima panggilan tersebut.


"Sudah terima undangan ku, kan?" tanya Aldy dari kejauhan sana.


"Hem, iya. Sudah," jawab Randy lagi sambil membaca sekilas undangan tersebut.


"Maaf, aku nggak bisa antarkan, sibuk mengurusi launching produk terbaru yang akan rilis di bulan depan."


"Hem, bagus sekali. Aku ucapkan selamat untuk pencapaian kamu sampai di detik ini," ucap Randy lagi.


"Thank's. Kamu harus datang ke pesta. Aku tunggu, besok lusa," ucap Aldy, lalu tanpa menunggu jawaban dari Randy dia menutup panggilan tersebut.


Randy berdecak kesal mendapati temannya dekatnya itu menutup panggilan tanpa pamit sama sekali. "Dasar nggak sopan!" ucap Randy kesal.

__ADS_1


"Tiga hari lagi, ya?" gumamnya menatap tanggal yang tertera di sana. "Kenapa nggak di hari libur aja, sih?" kesalnya.


__ADS_2