
Yumna menatap pintu kamar yang masih tertutup. Ini sudah hampir tengah malam dan Haidar belum pulang juga.
Yumna tersenyum kecil. Bukankah Haidar bilang akan menginap di rumah Agnes, tentu bilang menginap pastinya dia tidak akan pulang! Betapa bodohnya Yumna menunggu pria itu padahal sudah jelas dengan kata menginap!
Tapi rasanya hatinya tidak mudah percaya. Apa benar Haidar ke rumah Agnes, atau mungkin setelah dari rumah Agnes dia pergi ke tempat Vio?
Ah ... Kenapa juga aku berfikiran seperti itu? Biarkan saja dia mau menginap dengan siapa bukan urusanku! gumam Yumna. Dia lalu membalikan dirinya menyelimuti tubuhnya hingga ke leher.
Yumna mencoba untuk menutup matanya. Namun, tak lama ia membukanya lagi. Seperti ada yang kurang saat dia tak ada. Mungkin karena sudah terbiasa setiap malam tidur ada yang menemani.
Ish. Jangan berfikir lagi. Jangan berfikir lagi!
...*...
"Yumna, mana Haidar?" tanya mami saat mereka sarapan bersama.
"Haidar semalam pergi ke rumah Agnes, Mi." jawab Yumna pelan.
"Hiss anak itu ...." Mami geram sepertinya. "Bukannya di bicarakan. baik-baik, malah kabur! Keterlaluan!" kesalnya.
"Sudah lah, Mi. gak baik marah-marah di depan makanan. Sarapan saja dulu. Biar urusan Haidar nanti di bicarakan kalau anaknya sudah pulang," ucap papi Arya menenangkan istrinya.
"Yumna, sebenarnya apa yang membuat kalian ingin bercerai, sih? Apa Haidar tidak cukup baik sama kamu? Dia kasar sama kamu?" tanya Mami penasaran.
Yumna terksiap mendengar pertanyaan mami. Mungkin dia akan memberikan alasan seperti yang semalam Haidar bilang, tidak ada lagi kecocokan diantara mereka.
"Enggak kok, Mi. Haidar gak pernah kasar, tapi ... tapi ..." Yumna terbata.
"Tapi apa?" tanya mami.
"Mi. Jangan bahas itu. Kita sedang sarapan. Lagipula jangan hanya membahasnya dengan Yumna. Ini urusan mereka berdua. Kita harus tanya saat ada Haidar juga!" ucap papi yang membuat Yumna menghela nafasnya lega. Arya paling tidak suka saat sarapan dan mendengar pembahasan yang kurang menyenangkan dan membuat selera makannya hilang.
Mitha mendecih sebal pada sang suami meskipun itu benar tidak boleh membuat Yumna merasa tidak nyaman tapi dia ingin jawaban saat Yumna sendirian saja. Ia ingin mendengar alasan menantunya ingin cerai dengan putranya.
...***...
Cahaya matahari sudah terik di luar sana. Bias cahayanya merangsek masuk melewati jendela kaca yang tirainya tersibak sedikit. Haidar menutupi wajahnya dengan tangan, matanya terasa silau.
"Yumna. Tolong tutup tirainya, silau!" racau Haidar. Tapi sampai beberapa saat lamanya, yang di pinta tidak beranjak juga. Tidak seperti biasanya dia akan menggerutu kemudian beranjak bangun dan malah membuka tirainya lebar-lebar, hingga memaksa seorang Haidar Ezra Rahadia bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Yumna!" menepuk tempat di sampingnya yang dingin. Tak ada siapapun. Haidar mengalihkan tangannya dan membuka mata.
Ruangan tampak berbeda. Haidar bangun dan duduk di atas kasur. Dia mengusap wajahnya kasar. Bagaimana dia lupa kalau dia ada di rumah Agnes.
Kepalanya terasa berdenyut. Pusing. Pastilah akibat alkohol yang ia tenggak semalam. Ia tak ingat sudah menghabiskan berapa banyak. Ia yakin hanya minum sedikit dan memilih minuman dengan kadar alkohol rendah. Tapi tetap saja dirinya tak bisa sehebat Ben dengan toleransi kadar alkohol yang bagus. Dia payah dengan minuman.
"Sudah bangun? Sini sarapan!" Agnes menggerakkan tangannya menunjuk kursi di depannya.
Haidar mendekat dan duduk di tempat yang di tunjuk Agnes. Wajah dan sedikit rambutnya masih basah sesudah mencuci muka tadi.
"Nih, makan!" Agnes menyodorkan mie kuah plus telur di depan Haidar. "Gue gak masak. Males."
Haidar memutar bola mata malas. Kebiasaan kalau Ben tidak ada, ya begitu.
"Jangan keseringan makan mie instan, nanti kalau Bang Ben tahu pasti bakalan di marahi!" Haidar mengingatkan. Dia mengangkat mienya dengan garpu kemudian meniupinya.
"Hehe ... Ya mau gimana, gue kan makan seenaknya aja, daripada sayurnya kebuang gara-gara gak di makan, ya mending masak mie atau telur." ucap Agnes.
Haidar mulai memakan makanannya. Tapi kemudian dia teringat sesuatu. Dia menelannya dengan cepat.
"Semalam waktu gue mabuk, gue ada ngomong sesuatu gak?" tanya Haidar, takut jika dia bicara banyak yang tidak-tidak pada Agnes.
"Ya sesuatu. Apa gitu?" tanya Haidar lagi. Agnes mengangkat kedua bahunya.
"Gak tahu! Gue kan semalam ninggalin elo di bar buat makan malam, pas balik lagi elo udah teler. Jadi gue bawa elo ke kamar tamu!" ucap Agnes. Haidar menatap Agnes, sepertinya aman. Dia melanjutkan kembali untuk makan.
Agnes melirik Haidar sesaat.
"Tumben banget sih lo datang kesini, cuma cari Ben doang? Gak cari gue? Gak kangen sama gue?" tanya Agnes.
"Udah ada yang kangenin elo. Jangan kegenitan jadi bini!" ucap Haidar ketus. Agnes mengerucutkan bibirnya.
"Kita kan sepupuan, Ben juga gak masalah kalau yang kangenin gue adik sepupu tersayang!" ucap Agnes dengan nada di buat manja tapi penuh ejekan.
"Tersayang apanya, elo selalu ngeselin!"
"Elo yang selalu ngeselin. Lagian elo datang kesini mau apa juga. Malah mabuk lagi! Stok minuman gue berkurang gara-gara elo!" kesal Agnes.
"Gak usah kepo! Bukan urusan elo!" ucap Haidar lalu menghabiskan makanannya dengan segera.
__ADS_1
Agnes tersenyum tipis tak terlihat. Ke-kepo-annya sudah terjawab semalam.
Setelah selesai sarapan Haidar pulang ke rumah untuk mandi dan bersiap ke kantor.
Dia membuka pintu kamarnya, Yumna sudah tidak ada disana dia pasti sudah berangkat sendirian. Haidar duduk di tepi ranjang dan melirik ke arah bantal Yumna. Dia mengelusnya perlahan. Rasanya sepi juga tidak mendengar lengkingan suaranya dari semalam.
Dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Mas Haidar. Sarapan dulu!" teriak Bi Nah saat Haidar turun dari tangga sudah bersiap untuk ke kantor
"Gak usah, Bi. Mami mana? Yumna?" tanya Haidar. Tiba-tiba saja dia tersadar. Dasar bodoh, tentu saja Yumna sudah berangkat!
"Anu, ibu lagi pergi. Gak tahu kemana. Kalau mbak Yumna sudah pergi kerja dari tadi." jawab Bi Nah.
"Oh. Ya sudah." Haidar kemudian berlalu dari sana.
Haidar sudah sampai di kantornya. Tina sang sekretaris menghela nafas lega saat bosnya sudah datang. Dia kira si bos akan mangkir lagi karena jam sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh sekarang.
Pintu di buka setelah di ketuk dari luar. Tina masuk dan menyerahkan berkas-berkas pada Haidar.
"Maaf, Pak. Ini berkas yang harus di tandatangani."
Haidar menyambutnya, dia menggerakkan tangannya. Tina sudah mengerti dengan isyarat itu. Meskipun Haidar sosok bos yang kurang menyenangkan tapi jika masalah pekerjaan dia teliti juga. Semua berkas tang ada do tangannya ia baca sebelum di gang tangan.
Tina kembali ke mejanya, tapi tak lama dia kembali masuk ke kantor Haidar setelah menerima telfon dari bosnya itu.
"Kamu bisa kerja gak sih?" Tanya Haidar. Dia melemparkan berkas tadi pada Tina.
"Apa ada yang salah pak?" Tina merasa bingung.
"Kamu itu waktu pelajaran bahasa sering mangkir ya? Itu, titik koma nya tidak benar. Ganti kertas yang baru!" bentak Haidar. Tina yang merasakan ada yang aneh pada bosnya membuka berkasnya kembali.
"Ya– yang mana, Pak?" bertanya karena bingung.
"Kamu cari sendiri saja! Saya bukan guru bahasa kamu!" bentaknya. Tina segera menyambar semua berkas yang tadi dia berikan pada Haidar, dan kembali ke mejanya.
"Ya ampun, dasar bos kompleks! Titik koma saja di permasalahkan!" cibir Tina. Dia mencoba mencari dimana titik kesalanannya. Membaca semua berkasnya kembali hingga matanya pegal.
"Innalillahi!" Tina menepuk dahinya. setelah semua di bacanya. Tidak biasanya Haidar seperti itu padahal dia hanya lupa tidak membubuhkan tanda koma diantara tanggal dan bulan yang ada disana. Hanya satu itu saja kesalahannya tapi Haidar murka seperti dia melakukan hal yang besar saja. Dia yakin kalau Haidar jadi presiden di negeri ini mungkin saja tidak akan ada yang mau menjabat menteri karena atasannya yang killer seperti dia.
__ADS_1