
Setelah menikah Yumna masih bekerja, rasanya masih belum ingin melepaskan pekerjaannya itu, apalagi dia merasa akan sangat bosan jika hanya diam saja di rumah.
Pagi ini Yumna akan diantar Haidar ke kantor, mereka masih sarapan pagi di rumah Bima.
"Yakin kamu mau kerja lagi, Yumna?" tanya Lily saat Yumna menyiapkan makan untuk suaminya.
"Kerja aja, Ma. Yumna masih mau kerja," jawab Yumna.
"Kembali saja ke kantor Papa, ruangan kamu masih kosong." Bima berbicara. Yumna menggelengkan kepalanya. Ada kontrak yang harus dia selesaikan.
"Tidak bisa, Pa. Aku belum selesai dengan kontrak. Masih sangat lama sampai aku bisa keluar dari sana," ucap Yumna.
Bima menghela napasnya, menurutnya Yumna sangat keras kepala sekali sampai tidak mau kembali ke kantornya.
"Akan Papa ganti supaya kamu bisa kembali ke kantor Papa," ucap Bima.
Yumna menatap papanya dengan lekat. "Bukan masalah itu, Pa. Uang memang bisa menyelesaikan semuanya, tapi aku tidak mau. Maaf. Aku mau menyelesaikan semua sendiri," ucap Yumna menolak.
Lily dan yang lainnya merasakan hawa yang tidak nyaman dari pembahasan anak dan ayah itu, sehingga Lily memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka berdua.
"Sudah lah, Pa. Apa yang Yumna mau juga tidak jadi masalah, kan? Sekarang ayo kita maka dulu, jangan cuma bahas pekerjaan saja. Bicara soal pekerjaan bikin Mama pengen kerja lagi, deh," ucap Lily sambil tertawa kecil yang lalu membuat semua anaknya menatap Lily dengan sorot mata protes.
"Kenapa?" tanya Lily pada ketiga anaknya yang lain.
"Mama sudah terlalu tua untuk bekerja lagi!" uap Syifa tidak terima.
__ADS_1
"Ih, tua juga masih bisa berkarya, masih bisa kerja. Mama masih sanggup kerja!" ujar Lily kesal
"Bisa, Ma. Tapi aku akan terlantar kalau Mama kerja," ucap Syifa masih tidak terima.
"Elu udah besar juga, masa gak bisa kalau sendiri?" tukas Azkhan. Syifa menatap kesal sang adik, tidak membantunya sama sekali.
Yumna mengabiskan makanannya dengan cepat karena hari semakin siang, dia kemudian pamit bersama dengan Haidar untuk berangkat bersama.
"Mama gak akan kerja, kan?" tanya Syifa saat Yumna sudah tidak ada. Semua yang masih tersisa di sana menatap ke arah Lily.
"Papa gak akan izinkan, Mama kamu udah cukup capek kerja tiap malam," ucap Bima lalu berdiri dan meninggalkan semua yang ada di sana. Syifa dan yang lainnya melongo mencoba mencerna apa yang dikatakan ayahnya tadi, sedangkan wajah Lily kini sudah merah saat ketiga anaknya menatap dirinya.
"Apa maksudnya coba pembahasan dewasa. Apa itu kode buat kita biar cepet nikah ya?" tanya Azkhan pada kakaknya. Arkhan mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Yumna kini telah sampai di kantornya, memang Yumna tidak mengambil cuti karena dia masih sangat baru bekerja di kantor ini. Bahkan, tidak ada orang yang tahu jika dirinya hari kemarin menikah bersama dengan Haidar.
"Makan siang nanti kita makan sama-sama, ya?" ajak Haidar saat Yumna sedang membuka seatbeltnya.
"Jalan ke sini jauh kan dari kantor cabang?" tanya Yumna.
"Jauh, tapi buat kamu akan aku jadikan dekat," ucap Haidar sambil terkekeh pelan.
"Dasar gombal! Aku turun, ya. Kamu hati-hati di jalan," ucap Yumna, dia hendak membuka pintu, tapi Haidar menahan tangannya.
"Tega banget sih," ucap Haidar membuat Yumna bingung.
__ADS_1
"Tega apa?"
"Gak di sun, gak di peluk. Buat mood booster, nih," pinta Haidar dengan mengerucutkan bibirnya.
"Harus ya?" tanya Yumna, malu rasanya.
"Harus, dong. Masa minta gitu aja gak kasih, sih. Sini ya?" pinta Haidar sambil menunjuk bibirnya. Wajah Yumna semakin merah saat mendengar permintaan Haidar.
"Boleh di tempat lain gak?" tanya Yumna.
Haidar merasa sebal. "Boleh, kamu cium pipi, aku cium bibir. Deal?" ujar Haidar lagi.
"Yee, itu sih sama aja!" ucap Yumna kesal, meninju lengan sang suami dengan gemas. Haidar hanya tertawa melihat Yumna yang sudah mulai terbiasa lagi dengannya.
Tanpa diduga, Haidar menarik tangan Yumna dan memeluknya dengan erat. Tak lupa dengan ciuman di wajah Yumna dan juga bibirnya. Dada Yumna berdebar mendapati perlakuan dari Haidar.
"Setiap hari harus begini ya. Jatah pagi sebelum bekerja," ucap Haidar. Yumna tersenyum malu, mengangguk dengan pelan sambil menundukkan pandangannya.
"Kalau begitu aku masuk dulu, ya." pamit Yumna.
"Oke, siang nanti aku jemput, kita makan siang deket sini aja," ucap Haidar. Yumna mengangguk lagi lalu keluar dari dalam mobil itu.
Haidar menatap kepergian Yumna yang berjalan sedikit hingga sampai ke area kantornya. Dia menggelengkan kepala, Yumna sedari dulu tidak berubah masih tetap saja sama, tidak ingin orang lain tahu dengan siapa dirinya.
"Kenapa Yumna gak mau sih kalau orang lain tau dia anak Bima Mahendra?" gumam Haidar tidak habis pikir.
__ADS_1