
Gara-gara ulah usil sepupu iparnya ini Ben jadi kena marah dan kena hukuman dari Agnes. Satu minggu tidak boleh bawa hp dan juga tidak boleh bawa mobil. Semua kartu juga disita, wajib dua jam lari pagi keliling kompleks saat pagi hari.
"Kampret, Lu!" cerca Ben kesal pada Haidar. Dadanya naik turun karena kesal. Sehari tanpa main game, turun sudah rangking yang ada. Tanpa mobil, pakai taksi? Ribet! Tanpa kartu, bawa uang kertas di dompet? Aih....
Kejam kali istriku ini! Mana gak di kasih hp, mobil, olah raga pula. Kalau olahraga ranjang sih mau-mau aja! monolog Ben dalam hati.
"Udah, gak usah mendelik gitu, Bang. Nyeremin tahu, gak!" cerca Haidar pada Ben. Ben yang marah, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Marah sama istri? Dia tidak berani. Ben tidak mau sampai tidur di depan pintu.
Ben hanya bisa membaringkan dirinya dengan kasar di sofa yang ada disana, memunggungi mereka berdua. Haidar dan Agnes hanya mendelik menatap pria itu yang lucu jika sedang merajuk.
"Berani simpan foto cewek boegil! Gue aja gak pernah elo simpan foto boegil gue disana! Alasan aja takut dilihat sama yang lain!" Agnes masih saja kesal. Ben hanya menutup telinganya dengan kedua tangan, tidak mau lagi mendengar apa yang dikatakan istrinya tentangnya.
__ADS_1
"Tuh kan gitu. Kalau dibilangin kayak anak tk deh!" Agnes kesal luar biasa.
"Udah, gak usah di urusin. Suami macam apa yang kayak gitu! Simpan foto cewek lain, gak mikirin perasaan istri sendiri! Bagusnya bukan cuma gak dikasih hp sama mobil aja. Masih kurang itu, Nes!"
Dasar Haidar kompor!
"Harusnya elo buang aja dalaman dia biar si cacing bebas menggeliat terlalu nyaman. lihat aja dia pasti gak akan tahan dan selalu minta pulang!" Haidar tertawa saat membicarakan kelemahan sahabat sekaligus iparnya ini.
Ben berbalik dari tidurnya, dia bangkit dan menunjuk lantang pada Haidar.
"Ya kalau elo mau ngikutin jejak gue gak apa, Bang. Biar kita samaan!" Haidar tertawa lagi.
__ADS_1
"Eh, ah... sakit!" pekik Haidar saat telinganya di tarik oleh Agnes. "Aduh lo kenapa ini tarik-tarik telinga gue?" tanya Haidar dengan meminta ampun.
"Heh, kamvret! Kalau dia jadi duda, gue jadi janda dong! Asem lo!" Kesana Agnes sambil melepas kasar telinga Haidar.
"Sakit tahu. Elo jahat banget sih. Gue lagi sakit juga masih di aniaya!" rungut Haidar.
"Iya karena elo pantes dapatin itu! Enak aja elo doain gue jadi janda muda!" Agnes mendelik ke arah Haidar.
"Iya kan elo bisa dapatkan yang lebih dari dia. Modelan kayak dia mah di obral juga gak akan laku! Masih aja dipertahankan!"
"Heh dasar Duda Perjaka! Gue gak lihat-lihat muka. Yang penting kepuasan ranjang. Laki gue meski jelek, tapi dia bisa buat gue bersenandung ria di atas ranjang. Emang elo, tampang punya, tapi gak pernah rasain cangkul lahan! Aduh mesti gue buat syukuran kayaknya buat elo! Semenyedihkan itu elo sandang duda perjaka? Nungguin orang, sayangin orang, taunya dia bekas orang! Nanti kalau orang tahu elo duda perjaka nanti orang kira elo yang gak sanggup buat taklukin wanita!" Skakmat!
__ADS_1
Haidar mencebik kesal mendengar ucapan sepupunya yang berlidah tajam.
Ben tertawa mendengar celotehan istrinya yang membuat pria itu terdiam.