YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
203. Mengantar Pulang


__ADS_3

"Aku tidak peduli dengan siapa ayah kalian. Pergi dari sini sebelum ku patahkan tangan dan kaki kalian!" ucap Juan dengan nada yang dingin. Kedua pemuda itu kini berdiri dan pergi dari sana dengan takut.


Syifa dan Rani masih saja terpaku dengan apa yang baru saja terjadi. Terutama Syifa yang tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang tadi terjadi pada dirinya.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Juan pada Syifa. Syifa tersadar dengan pertanyaan dari laki-laki dewasa itu.


"Maaf, tadi aku melakukan hal yang kurang ajar dengan kamu, kamu gak apa-apa, kan? Gak terluka?" tanya Juan khawatir.


Rani menyenggol lengan Syifa hingga gadis itu terbangun dari lamunannya.


"Eh, gak apa-apa. Gak apa-apa, Kak Juan!" seru Syifa.


"Apa mereka bikin ulah lain sama kamu? Mereka suka gangguin kamu?" tanya Juan pada Syifa.


"Eh, itu ... ya gitu deh. Lumayan mengganggu," ucap Syifa kikuk, teringat dengan apa yang tadi Juan lakukan terhadapnya membuat dia menjadi malu hingga rasanya wajahnya terasa panas.


"Lain kali kalau ada yang mengganggu lagi, lawan mereka. Kamu terlalu lemah menjadi wanita, tidak bisa melawan. Maka dari itu, kamu sering diganggu oleh mereka" ujar Juan. lalu pergi dari sana dan kembali ke kursinya kembali.


Makanan Juan telah sampai, dia kini menikmatinya dengan tenang. Senyum tiba-tiba tersungging di bibirnya.


Sial! Kenapa dengan ku ini? Kenapa juga sampai aku melakukan hal seperti itu? Aduh ....


Juan masih mendengar suara Syifa di belakang sana, masih mengobrol dengan temannya. Sesekali dia tersenyum mendengar ucapan gadis itu yang kesal dengan setiap orang yang mengganggunya.


Juan tersenyum geli. Dia sedang membayangkan wajah Syifa yang sedang kesal sembari bercerita pada temannya itu.


"Kak Juan, kami pamit dulu, ya. Terima kasih dengan bantuannya tadi," ujar Syifa. Juan hanya mengangguk melihat Syifa yang kini berada di sampingnya.


"Hati-hati pulangnya," ujar Juan pada Syifa, gadis itu hanya mengangguk lalu cepat pergi dari sana dengan dada yang berdebar kencang.

__ADS_1


Juan kini telah selesai dengan makanannya, dia kemudian berniat untu pergi mencari anin sebelum pulang ke rumah. Mendengar omelan sang mama pasti akan membuatnya pusing. Juan tak ingin mendengar kan hal itu.


Dari kejauhan sana, Juan melihat sosok gadis yang tadi dia tolong. Kini sedang duduk di halte seorang diri. Dia sedang memainkan hpnya dan juga menolehkan pandangan ke arah lain seperti sedang menunggu seseorang.


Juan mendekatkan mobilnya ke arah Syifa berada. Dia menurunkan kaca mobilnya dan sedikit melongokan kepala.


"Syifa sedang apa?" tanya Juan pada gadis berparas cantik itu, pipi chuby tak membuat Syifa kehilangan kecantikannya.


"Eh, kak Juan, ini Syifa sedang menunggu ojek online, tapi belum sampai juga, dia blang ke jebak macet!" seru Syifa sedikit berteriak. Juan menatap jam di pergelangan tangannya sudah hampir jam sembilan malam.


"Saya antarkan pulang saja!" teriak Juan lagi.


"Eh, gak perlu, ini juga mungkin sebentar lagi ojeknya datang!" teriak Syifa dari tempatnya.


"Sudah malam Syifa! Ayo! Cancel aja ojolnya! Ini sudah malam, bahaya kamu menunggu disini sendiri!" teriak Juan.


Syifa mengedarkan tatapannya ke kanan dan ke kiri, akhirnya dia kini bangkit dan mendekat ke arah mobil Juan. Rasanya takut juga jika dia harus menunggu ojol yang tak tahu kapan akan sampai, ini memang sudah malam, dan memang tak baik jika dirinya berada di luar di jam seperti ini.


Syifa kini sudah duduk di dalam mobil itu, canggung rasanya, apalagi mengingat apa yang tadi pria ini lakukan terhadap dirinya.


Juan mendekat ke arah Syifa membuat gadis itu terkesiap dan memundurkan tubuhnya.


"Kak Juan mau apa? jangan macam-macam lagi!" peringat Syifa. Dadanya semakin berdebar tatkala melihat wajah yang tampan itu kini semakin mendekat ke arahnya.


Juan terdiam mendengar apa yang Syifa katakan barusan. Dia terkekeh pelan, satu tangannya terulur ke depan tubuh Syifa, Syifa kini memegang erat dadanya yang berdebar tak karuan. Serasa ada kelinci berlompatan di sana. Rambut Juan yang wangi tercium di hidungnya.


"Aku hanya ingin mengambil sabuk pengaman ini. Pakai. Bahaya kalau kamu gak pakai sabuk pengaman!" ujar Juan kini memundurkan tubuhnya kembali ke tempatnya.


Syifa yang salah tingkah karena pikirannya yang sudah kemana-mana, traveling sejenak, tapi kembali lagi kini pada keadaan dirinya yang sekarang bersama dengan Juan. Tidak mungkin juga Juan melakukan hal seperti itu padanya.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan? dasar aku! gak mungkin juga kak Juan akan cium aku. Duh, malunya!.


Syifa berharap wajahnya tak akan berubah merah. Malu rasanya sempat berpikiran seperti itu.


"Oh, iya. sabuk pengaman ya?" Syifa tersenyum malu dan kini memasang sabuk pengaman itu di tubuhnya.


Mobil kini berjalan pelan meninggalkan halte itu. Syifa masih merasa malu dengan dirinya sendiri. Memikirkan jika tadi bisa traveling gitu pikirannya ke hal yang lain.


"Apa pesanan kamu sudah di cancel?" tanya Juan pada Syifa.


"Eh, pesanan apa?" Syifa bingung bertanya pada Juan.


"Kamu tadi pesan ojol kan?" Juan kini menjawab.


"Ya ampun. Aku lupa!" Syifa berseru menepuk keningnya dengan menggunakan telapak tangan hingga cukup keras.


"Aku lupa tidak cancel ojolku!" serunya lalu dia mengeluarkan hpnya dari dalam tas dan segera melancarkan ibu jarinya di atas layar hp.


"Sudah!" ucap Syifa, dia tersenyum dan memperlihatkan layar hp itu bukti dia membatalkan pesanannya.


Mobil kini terus melaju membelah jalanan yang ramai. Lampu-lampu kendaraan yang menyilaukan terkadang membuat Syifa menyipitkan matanya.


"Soal yang tadi, aku mita maaf," ujar Juan. Syifa yang sedari tadi diam kini menolehkan kepalanya ke arah pria yang sedang fokus menyetir.


"Eh, itu ...."


"Harusnya aku gak lakukan hal itu. Kamu pasti kaget ya?" tanya Juan dengan nada yang bersalah.


"Hehe, iya." Syifa tak bisa berkata apa-apa. Ia tertawa kecil menjawab pertayaan Juan.

__ADS_1


"Maaf, ya. Aku ... gak tau kenapa aku melakukan hal itu," ucap Juan lagi. Dia melirik Syifa yang kini membuang wajahnya ke arah jendela.


"Gak pa-pa, kok. Se-sedikit kaget tadi ya sudah lah. Terima kasih juga karena Kak Juan sudah tolong aku." ujar Syifa dengan malu. Dia tak ingin menatap ke arah Juan, karena yakin akan semakin malu karena hal tadi.


__ADS_2