
Suara hingar bingar musik yang terdengar tak ia pedulikan. Haidar kini duduk seorang diri di meja bartender. Dia tak tahu lagi harus kemana. Jika mungkin masih ada Yumna dia akan datang kesana saja untuk curhat. Gadis itu tak akan seperti mami ataupun sepupunya yang pasti akan mengomel dan memarahi dirinya karena tak mudah percaya dengan omongan mereka.
Satu gelas minuman sudah habis, kini dia memegang minuman lain di tangannya, lebih keras dari yang biasa dia pesan. Ini belum terlalu malam, tempat ini masih sepi dari pengunjung, bahkan hanya ada beberapa pelayan yang masih membereskan semua yang ada disana.
Tanpa banyak berfikir dengan nanti yang akan terjadi, Haidar menenggak minuman itu. Tenggorokanmya terasa panas, tapi tak ia pedulikan. Dia hanya ingin melupakan semua hal yang terjadi kali ini.
Rencananya gagal! Dia sudah memikirkan konsep pernikahannya dangan Viola, akan dimana mereka menikah nanti dan honeymoon ke negeri sakura, sebentar lagi bunga sakura akan bermekaran indah sepanjang jalan. Berjalan di bawah pohon sakura dan melangkah di antara kelopak bunga sakura yang ada di bawah kaki merka. Memimpikan memiliki tiga anak yang lucu. Hidup hingga hari tua bersama. itu menjadi impiannya setelah perceraiannya dengan Yumna, tapi kini hancur! Vio ... Wanita itu menghancurkan semua impiannya!
"Arrggghhht!!!" Haidar membanting gelas di tangannya, minuman yang masih ada di sana tercecer ke segala arah, beberapa orang menatap pada pria ini. Sudah biasa bagi mereka melihat orang yang seperti ini, apalagi jika bukan patah hati? Hanya ini tempat yag tepat untuk mereka datangi dikala hati sedang gundah gulana.
"Satu lagi!" ucap Haidar pada bartender, pria bar itu mengangguk mengerti dan memberikan minuman yang terbaik yang ada disana.
__ADS_1
"Ini yang terbaik untukmu, Pak!" dia menggeserkan minuman dengan gelas kecil itu ke depan Haidar. Dengan segera pria itu mengambilnya. Rasanya lain dari dua minuman yang tadi, rasa terbakar di tenggorokannya sangat terasa, kepala dan tubuhnya rileks sekarang.
Haidar mulai meracau, dia tak malu menceritakan pada pria bartender pa yang terjadi pada dirinya hingga sampai dia frustasi seperti ini. Pria ber itu hanya mengangguk, sesekali menimpali dengan jawaban logis, tapi pria mabuk di beri jawaban logis? Tentu saja dia tak akan terima apapun! Tetap saja dia tak ingin mendengar.
"Dia keterlaluan, kan? Aku sedang memprjuangkan dia untuk masuk ke dalam keluargaku, dan dia... dia ... saat aku datang apa yang dia lakuka, kau tahu?" Itu pertanyaan sudah keempat kalinya.
"Tidak tahu! Apa yang terjadi?" itu pula jawaban dan pertanyaan yang di lontarkan pria bar. Lebih baik mengikuti saja alurnya.
Haidar kembali menhghitung jari-jarinya. "
"Nah, ini sudah benar. Tiga... Tiga... huuu.... Dia bermain dengan tiga pria sekaligus! Huaaa...." Menangis, sambil melabuhkan kepalanya di meja. Satu tangannya memukul meja dengan keras.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan selama ini... di anggap aku ini apa? Dia bilang cinta padaku, dia bilang aku harus menjadi yang pertama baginya. Aku sudah menahan diri selama ini untuk menjaga kehormatan dia. Sudah menjaga dia dengan baik, tapi dia dengan mudahnya membiarkan laki-laki lain menjamahnya. Dia membuka selangkangannya lebar-lebar untuk dinikmati pria lain, dia membiarkan mereka melakukan hal itu padanya.... huuu... PELACUR!!" berteriak dengan kesal, dia masih tak bisa menahan dirinya lagi, masih tak bisa menahan rasa kesal dan juga kecewa yang ada di dalam dirinya.
Praaang!
Satu lagi gelas yang ada di tangannya kini menjadi pecahan beling yang tak berharga di lantai.
"Mau minum lagi?" tawar bartender pada Haidar.
"Hemm.. Bawakan aku yang paling keras!" pinta Haidar. Bartender mengambilkan apa yang diminta Haidar, pria ini tak akan melakukan hal yang lebih dan tak akan sampai menghancurkan bar. Dia tahu sifat-sifat dari banyak orang yang pernah datang kemari.
Haidar terkulai lemas di atas meja bertender, di saat para pengunjung baru saja datang, pria ini sudah teler dan tak bisa menahan kantuknya lagi, dia tertidur di atas meja bertender.
__ADS_1
Pria bertender itu berjalan kearah Haidar, dia mencari ponsel milik Haidar dari dalam saku bajunya dan mencob menghubungi seseorang. Melihat ada nama Mami Ratu disana, dia ingat pria ini menyebut ibunya dengan panggian itu tadi, lantas dia melakukan panggilan pada nama itu.