
Lily menatap bingung pada putrinya yang kini hanya terdiam memainkan sendok di atas piringnya. Makanan yang sedari tadi terhidang di depannya hanya dia mainkan begitu saja. Perdebatan Juan dan Bian dua hari yang lalu membuat dirinya marah dan juga kesal.
Entah apa yang terjadi setelah kepergiannya itu. Yumna tidak tahu sama sekali. Dia hanya berharap, besok tidak ada yang datang padanya dengan muka bonyok yang menyedihkan.
Suara sendok yang dia mainkan membuat Lily kesal. Makanan itu sudah dari beberapa menit yang lalu hanya diaduk tanpa dilihat.
"Yumna, kalau makan itu yang benar!" peringat Lily kepada putri tertuanya itu.
"Makan kok terus diaduk aja, kalau di atas panci itu pasti udah jadi bubur, jualan deh kamu," ucap Lily yang menyadarkan Yumna.
Yumna menatap makanan yang ada di depannya ini, nasi dan sayurnya sudah menyatu membuat dia jadi tidak berselera, tapi mama pasti akan marah kalau dirinya tidak menghabiskan makannya itu.
Yumna terpaksa memakan apa yang ada di depannya.
Suara telepon terdengar dari samping Yumna. Yumna melihat dari siapa telepon itu berasal.
'Mau apa Mami?' batin Yumna.
Yumna segera mengangkat telepon itu.
"Iya, Mi?"
Lily yang mendengar 'Mi' disebut oleh Yumna seakan tahu siapa yang menghubungi Yumna.
'Pasti Mbak Mitha,' batin Lily seraya terus mengaduk masakan yang ada di depannya. Suasana di rumah ini cukup tenang karena hari libur seperti ini ketiga anak yang lainnya sedang berada di luar. Syifa sedang berada di rumah Almeera bersama dengan Ana, sedangkan si kembar sedang ada di bengkelnya.
"Oh, sekarang? Ada kok. Yumna gak kemana-mana."
"Iya. Oke," jawab yumna sebelum mematikan telepon.
Yumna menyimpan hpnya kembali ke atas meja, dia kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.
"Siapa?" tanya Lily, pura-pura.
"Mami Mitha," jawab Yumna.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Lily lagi.
"Minta ketemuan."
"Kamu mau pergi sama Mbak Mitha?" tanya Lily sekali lagi.
"Kayaknya pergi deh, Ma. Gak enak tempo hari udah janji," jawab Yumna. Lily menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengurusi masakannya.
'Aku harus apa nanti kalau ketemu Mami? Apa ada Haidar juga disana?' tanya Yumna dalam hati.
Acara makan Yumna semakin tidak karuan saat ini. Memikirkan Haidar ....
Yumna menghela napasnya dengan berat.
Bertemu dengan Haidar, apa yang harus dia lakukan? Dia masih marah dengan apa yang dikatakan Haidar malam itu. Dia bilang suka dengan dirinya dan mengingat dirinya setelah dikhianati oleh Vio.
"Ah, menyebalkan!" seru Yumna sambil membanting sendok yang ada di tangannya. Lily terkejut dengan suara keras itu, dia menoleh ke rah putrinya yang kini berwajah masam.
"Kamu itu kenapa?" tanya Lily dengan bingung.
Sadar dengan dimana dan apa yang dia lakukan, Yumna jadi malu sendiri.
"Tserah kamu, tapi ingat, pulangnya jangan malam-malam!" peringat Lily.
Yumna tersenyum dan mengangguk dengan tak semangat. Sebenarnya hari ini dia ingin sekali beristirahat dan rebahan seharian, tapi telepon dari Mitha dan juga permintannya juga tidak bisa ia abaikan. Semoga saja dia tidak bertemu dengan Haidar. Apa yang akan terjadi kalau mereka sampai bertemu? Yumna masih marah!
Yumna turun di sebuah salon kecantikan, seorang sopir yang dikirim oleh Mitha kini mengantarkannya sampai pintu depan salon itu dan bahkan membukakan pintu untuknya. Perlakuannya sangat spesial sekali, padahal dia bukan anggota keluarga Rahadian lagi.
"Terima kasih," ucap yumna pada sopir itu yang kemudian undur diri setelah yakin jika Yumna sudah aman di dalam.
Seorang terapis menyambut kedatangan Yumna dengan ramah dan mengantarkan Yumna pada sebuah ruangan. Terlihat seorang wanita sedang dimanjakan oleh seorang terapis yang lainnya.
"Bu, menantu Ibu sudah sampai," ucap terapis itu membangunkan Mitha. Mitha terlelap karena saking nyaman dan rileks tubuhnya yang sedang dimanjakan.
Yumna terkejut dengan apa yang dikatakan wanita itu.
__ADS_1
"Yumna sudah sampai? Dimana?" tanya Mitha sambil mengangkat kepalanya mencari keberadaan Yumna.
"Hei, Mbak. DIsini sedang mati lampu, ya? Kok gelap banget?" tanya Mitha.
DI dalam ruangan itu terang benderang, Mitha hanya lupa untuk melepaskan penutup mata yang kini ada di wajahnya.
"Mami, buka dulu penutup matanya," ujar yumna seraya mendekat. Mitha tersadar, dia segera membuka penutup matanya seraya tersenyum malu.
"Lupa, hehe."
"Kamu sudah siap, kan?" tanya Mitha lagi.
"Siap apa, Mi?" tanya Yumna bingung.
"Ya perawatan, lah. Kita habiskan waktu siang ini disini, kamu gak ada acara sampai nanti sore, kan?" tanya Mitha yang kini bertanya dengan penuh harap.
Yumna merutuki dalam hati, tadi dia kira akan pergi ke suatu tempat yang mana, rumah atau cafe misalnya. Salon ... aduh ya ampun, Yumna tidak terlalu suka dengan salon, membuat dia mengantuk saja!
Seorang terapis memberikan handuk kepada yumna dan memintanya untuk mengganti baju itu dengan handuk. Dia juga mengantarkan Yumna ke dalam kamar mandi.
Yumna merasa tidak enak jika tidak menuruti apa yang di mau oleh Mami. Dirinya sudah berjanji waktu itu jika ada waktu luang akan bertemu dengan Mami.
Yumna berbaring, seorang terpis yang tadi segera melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.
"Yumna kamu tau gak malam itu Haidar masuk rumah sakit," ucap Mitha tanpa basa basi.
"Kok bisa?" tanya Yumna dengan bingung.
"Hiadar itu mau mengejar kamu, tapi kakinya sakit. Dia sampai pingsan saat itu. Tadinya Mami kira dia antarkan kamu pulang," ujar Mami dengan tenang dari tempatnya.
Yumna trdiam, malam itu memang dHaidar tidak mengejarnya sama sekali. 'Jadi karena itu dia gak ngejar aku?' batin Yumna. Dia kira Hiadar menyerah akan dirinya dan tidak mau peduli lagi.
Senyum kini terbit dari bibir Yumna.
"Na, boleh gak Mami bicara sama kamu. Bukan karena Hiadar anak Mami, eh tapi bener sih, dia anak Mami. Maksudnya yang Mami ingin tanyakan dan katakan, Mami ingin kamu dan Haidar punya masa depan yang cerah. Bersatu lagi gitu kalau bisa. Mami benar-benar udah sayang sama kamu dan tidak ada yang bisa menggantikan," ucap Mitha dengan lirih.
__ADS_1
Yumn a terdiam dengan apa yang dikatakan Mami.
'Bersatu dengan Haidar? Apa aku bisa?' tanya Yumna di dalam hati.