
"Apa kamu mau duduk di belakang terus?" tanya Haidar pada Yumna. Yumna kembali tersentak akibat dia yang tak siap berduaan dengan Haidar di dalam mobil.
"Eh, aku di belakang saja, lah," ucap Yumna.
Haidar menghela napasnya dengan pelan.
"Aku berasa seperti sopir taksi saja, Yumna. Pindah saja ke depan. Aku juga gak akan ngapa-ngapain kamu," ucap Haidar lagi.
Yumna jadi merasa tidak enak hati. Dia segera turun dari dalam mobil dan berpindah ke kursi depan.
Mitha masih ada di dekat sana, dari dalam rumah, mengintip di balik tirai. Dia tersenyum dengan puas.
"Bagus, Haidar. Lanjutkan!" seru Mitha seraya tersenyum senang. Satu tangannya terkepal seakan sedang memberi semangat pada anaknya itu.
Mobil kini mulai berjalan meninggalkan rumah Haidar. Dengan pelan mantan suami itu membawa mobilnya untuk mengantarkan mantan istrinya. Kedua orang yang menjadi mantan hanya diam tidak berbicara sama sekali.
"Apa kabar?" tanya Haidar membuka pembicaraan.
"Aku baik," jawab Yumna singkat.
Mereka kembali terdiam, hingga setengah perjalanan mereka yang hampir empat puluhan menit hanya diisi dengan keheningan.
Haidar melirik ke arah Yumna, wanita itu kini hanya diam menatap ke arah depan. Sepertinya terlihat canggung, melihat dari caranya duduk yang tegang seperti itu.
Yumna memang merasa tidak nyaman, terutama dalam hatinya. Diam merasa ingin turun dari mobil itu sekarang juga, apalagi saat dia bisa melihat dari ujung matanya kalau Haidar tengah meliriknya.
Ada apa denganku ini? Kenapa dengan jantungku! seru Yumna dalam hati tentunya. Dia merutuki hatinya yang terus saja berdebar tidak karuan di dekat pria itu.
Haidar pun sama. Dia sebenarnya canggung dengan keadaan mereka yang hanya berdua, padahal saat di rumah tadi, dia kira akan merasa baik-baik saja. Nyatanya jantungnya pun mendadak tidak sehat.
"Maaf, ya. Atas yang tadi. Aku merasa tidak enak hati sama kamu. Pasti Mami yang paksa kamu untuk bertemu hari ini." Kembali Haidar membuka pembicaraan. Dia rasanya tidak tahan dengan keheningan yang melanda mereka.
"Ah, tidak apa-apa. Aku kebetulan hari ini memang tidak sedang melakukan aktifitas. Hari libur," jawab Yumna. Haidar pun tahu jika ini adalah hari libur.
__ADS_1
"Ya hari libur. Padahal kamu bisa gunakan untuk istirahat siang. Tidur misalnya. Kamu pasti capek urusin soal perusahaan," ujar Haidar. Yumna merasa tersanjung dengan ucapan Haidar.
Itu perhatian, apa hanya sekedar ucapan? batin Yumna dalam hati.
"Bagaimana soal perusahaan? Apa kamu memiliki kendala?" tanya Haidar.
"Tidak ada. Aku belum memegang perusahaan itu seluruhnya. Masih Papa yang pegang kendali. Aku hanya membantu saja," jawab Yumna. Haidar hanya menganggukkan kepalanya, tanda jika dia mengerti. Memang Yumna masih menjabat sebaga wakil CEO saat ini.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Yumna balik pada Haidar.
"Perusahaanku baik. Berjalan dengan lancar. Tidak ada masalah," jawab Haidar mencoba untuk tenang. Padahal di dalam hati, pria itu teramat sangat senang karena Yumna kini mau bicara dengannya.
"Maaf ...." Haidar.
"Aku ...." Yumna.
Keduanya kini terdiam, tertawa malu karena ucapan mereka yang bertabrakan. Tidak menyangka jika akan bicara dengan waktu yang bersamaan.
"Kamu duluan," titah Haidar pada Yumna.
"Aku mau bertanya soal malam itu. Kata Mami, kamu pingsan?" tanya Yumna pada Haidar. Kini wanita itu menatap Haidar dengan lekat, tapi bukan jawaban yang dia dapat, melainkan tawa dari
mulut pria itu yang membuat dia bingung.
"Astaga! Apa Mami bilang seperti itu?" tanya Haidar pada Yumna. Yumna mengangguk, seketika dia menjadi ragu dengan apa yang Mami Mitha katakan. Haidar saja tertawa!
"Memalukan! Kenapa Mami bilang hal itu sama kamu?" gumam Haidar tapi masih bisa terdengar oleh Yumna.
"Jadi itu benar?" tanya Yumna. Jika memang benar, dia akan merasa sangat bersalah sekali.
Salahkan perasaannya yang mudah simpati kepada orang lain. Terkadang dia benci itu!
"Ya, aku memang pingsan. Dan aku harus melakukan perawatan lebih intensif lagi. Aku membuat kakiku berjalan terlalu cepat dulu."
__ADS_1
Yumna terdiam. Dalam hati kini merasa diri semakin tidak enak. Ada seseorang yang sakit karena dirinya.
"Jangan merasa tidak enak hati. Itu bukan salah kamu, Yumna. Aku saja yang terlalu memaksakan kakiku," ujar Haidar pada Yumna. Dia sedikit melirik ke arah Yumna dan tersenyum kecil.
Kini mereka kembali terdiam, dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga mobil kini tak jauh lagi akan memasuki pintu gerbang rumah Keluarga Mahendra. Hanya tinggal beberapa puluh meter lagi, tapi rumah mewah itu sudah terlihat dengan jelas atapnya yang tinggi.
Haidar menghentikan laju mobilnya di tepi jalan dekat pohon besar yang ada di sana.
"Boleh kita bicara dulu sebentar di sini? Rasanya aku berat untuk antarkan kamu pulang, tapi kalau bawa kamu pergi ke tempat lain juga tidak baik, bukan?" tanya Haidar dengan tersenyum kecut. Sial sekali, kenapa harus sudah sampai di dekat rumah Yumna, padahal dirinya masih ingin lama dengan mantan istrinya ini.
Yumna melirik ke arah jam di tangan, sebenarnya bukan masalah jika Haidar membawanya ke suatu tempat untuk bicara. Ini belum malam, Mama tidak akan marah asal dirinya pulang sebelum makan malam. Tapi masa iya kalau dia juga mengiyakan? Duh ....
"Oke kita bicara saja disini," ucap Yumna akhirnya. Tidak mau terlihat kalau dirinya juga berharap sama seperti Haidar.
"Aku yakin Mami pasti sudah terlalu banyak bicara tentang aku, kan? Mami bicara apa saja?" tanya Haidar pada Yumna, kini pria itu mengubah arah duduknya menghadap ke arah Yumna.
"Jujur saja tidak apa-apa. Telingaku terasa panas seharian ini. Aku menyangka kalau tersangkanya adalah Mami," ujar Haidar dengan kekehan di bibir.
Yumna pun ikut tertawa, dia mengangguk.
"Mami bilang kamu gak mau menikah lagi setelah ini. Kamu memilih jadi duda selama sisa hidup kamu," jawab Yumna. Haidar mende*sah pelan. Dia menggelengkan kepalanya mendengar keterangan dari Yumna.
"Mami keterlaluan! Aku tidak berbicara seperti itu sama Mami. Aku hanya bilang tidak akan menikah dulu, karena Mami terus mendesak aku untuk mencari calon istri," ujar Haidar, kini kepalanya tertunduk ke bawah, melihat lututnya sendiri.
"Maaf soal yang malam itu, aku memang bodoh bicara seperti itu sama kamu. Mami marah saat bertanya apa yang terjadi malam itu. Mami mengamuk dan aku benjol di sini karena terkena pukulan tasnya." Haidar menunjuk pada keningnya yang tempo hari itu menjadi benjol.
"Maaf, Yumna aku belum menjelaskan dengan benar malam itu. Memang Vio telah menghianati aku, tapi aku rasa ... perasaan yang ada untuk kamu, aku sudah lama memilikinya," ujar Haidar pada Yumna.
Yumna menatap tidak percaya pada Haidar.
"Aku rasa semenjak kedekatan dan intensnya pertemuan kita menjadikan aku suka dengan kamu, tapi aku bodoh dan juga buta. Hanya karena aku memiliki janji pada orangtua Vio, aku jadi mengesampingkan perasaaan aku. Aku serasa terikat dengan janji itu, dan menjadikan dia yang utama sampai aku menjadi anak pembangkang pada Mami dan Papi." Yumna masih terdiam mendengar ungkapan yang Haidar ucapkan barusan. Tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Serasa ada luapan kebahagiaan di dalam sana.
"Aku minta maaf sekali lagi. Sudah, hanya itu yang mau aku katakan. Maaf kalau kehadiran aku ini mengganggu kamu," ucap Haidar.
__ADS_1
Yumna kini menatap Haidar dengan lekat. Apa yang dia dengar barusan? Mana yang Mami bilang kalau Haidar menyukainya? Padahal malam itu Haidar masih bilang kalau dirinya suka dengannya. Apa pria itu ingin menyerah sekarang ini?