YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
93. Urusan Yumna, Mas!


__ADS_3

Keesokkan harinya Lily dan Mitha bertemu di sebuah kafe. Mitha memilih ruang privasi untuk mereka berdua. Dia takut jika mungkin Lily akan mengamuk padanya karena putranya sudah mempermainkan putrinya.


"Ini soal anak-anak kita, Ly. Maafkan Mbak. Tidak bisa mendidik Haidar dengan baik. Mbak langsung ke intinya saja ya." ucap Mitha. Lily menunggu dengan tak sabar saat Mitha mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Lily.


"Ini. Sepertinya ini penyebab mereka berpisah. Cepat atau lambat!" ucap Mitha.


Lily membacanya, metanya terbelalak saat melihat isi perjanjian itu. Lily menutup mulutnya sendiri. Merasa tak percaya.


Kenapa kejadian ini bisa menimpa putrinya juga? Menikah dengan perjanjian? Seperti dirinya dulu dengan Bima?


Mata Lily berkaca-kaca. Tak menyangka.


"Ini...."


"Anak-anak sudah membohongi kita Ly. Haidar tidak mau aku jodohkan dengan pilihanku. Tapi aku tidak tahu bagaimana dengan Yumna!" Tutur Mitha sedih.


"Maaf, Ly. Aku gak tahu kalau ternyata keadaan anak-anak seperti ini. Mereka sangat mesra di depan Mbak dan Mas Arya. Sebelumnya bahkan mereka honeymoon ke Lombok. Mvak gak percaya kalau ternyata Mereka... " Mitha terdiam suaranya tercekat di tenggorokan.


"Mbak gak bisa menemui Haidar sejak semalam, jadi Mbak belum tahu bagaimana cerita mereka hingga sampai mereka nekat melakukan perjanjian ini."


Lily mengusap air matanya.


Ya Tuhan, kenapa ini bisa terjadi pada Yumna?


Lily hanya diam membuat Mitha merasa sangat bersalah.


"Ly. Mbak sudah sayang pada Yumna. Kalau saja Mbak tahu dari awal kejadian ini. Mbak gak akan mengizinkan Haidar untuk menikahi Yumna." titur Mitha.


"Sepertinya bukan hanya Haidar yang salah, Mbak. Tapi mungkin juga Yumna." ucap Lily akhirnya. "Nanti akan Lily tanyakan sama Yumna. Kalau memang benar ini adanya, sepertinya kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku juga gak tahu apa alasan Yumna berbuat seperti ini."


Mitha menghela nafas berat.


Lily terdiam. Apakah alasan Yumna mungkin juga karena dia yang memaksakan perjodohan dengan Putra Suseno?


"Kalau ada sesuatu yang terjadi pada Yumna. Mbak akan pastikan Haidar untuk bertanggung jawab dengan Yumna."

__ADS_1


Lily hanya mengangguk.


Lily dan Mitha memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Lily menyandarkan tubuhnya. Fikirannya lelah. Hatinya sakit. Karena sebab dirinyakah Yumna menjadi terjebak dengan pernikahan semacam ini?


"Pak Nar. Kita ke kantor ya." ucap Lily pada Pak Naryo.


"Baik, Bu."


Mobilpun segera meluncur menuju Mahendra group.


Lily berjalan menuju kantor Bima. Sekretaris Bima berdiri saat melihat istri dari bosnya datang.


"Selamat siang, Bu!" menunduk hormat.


"Pak Bima ada?" tanya Lily.


"Pak Bima masih rapat, Bu. Mungkin sekitar lima belas atau sepuluh menit lagi selesai."


"Oke, saya tunggu saja di dalam."


"Tidak perlu, trimakasih!" ucap Lily lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Sekretaris Bima menatap punggung Lily yang kini menghilang di balik pintu. Dia kagum dengan wanita itu. Meski sudah berumur tapi terlihat sangat cantik, bahkan sepertinya tidak akan ada yang menyangka kalau wanita itu sudah berusia setengah abad.


Perawatan kulitnya mahal mungkin ya. Bahkan aku yang baru tiga puluhan berasa kalah! insecure dia.


Lily menatap ruangan ini, masih sama seperti saat dirinya dulu bekerja sebagai sekretaris Bima. Tak ada yang berubah.


Menunggu beberapa menit lamanya. Lily memilih masuk saja ke dalam ruang istrirahat. Dia ingin membaringkan dirinya terlebih dahulu. Kepalanya berdenyut.


Bima sudah selesai dengan rapatnya. Sekretaris berdiri dan menyambut Bima.


"Sudah selesai rapatnya, Pak?" Bima hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ibu Lily datang sepuluh menit yang lalu." lapornya.


"Masih di dalam?" tanya Bima.


"Iya, Pak. Ibu menunggu di dalam."


"Trimakasih." ucap Bima.


Sekretaris mengangguk dan menatap kepergian Bima. Dia merasa senang dan betah bekerja disini. Atasannya ini ramah dan juga menjunjung sopan santun, tidak pernah berkata kasar, dan tidak pernah bertindak yang aneh-aneh pada bawahannya. Sungguh berbeda dengan cerita temannya di perusahaan lain yang pernah di perlakukan tak senonoh oleh bosnya.


Bima menatap sekeliling, tidak ada Lily. Dia lalu tersenyum saat melihat pintu kamarnya sedikit terbuka.


"Sayang?" panggilan Bima membuat Lily membuka matanya.


Lily duduk dan memeluk Bima. Bima tersenyum senang, tak biasanya Lily berbuat seperti ini.


Apakah Lily mengantarkan sesuatu padanya? Dia sudah puasa hampir seminggu ini.


Bima tersenyum menyeringai. Bahagia dengan apa yang ada di dalam bayangannya yang mungkin akan terjadi sebentar lagi. Desahan panas, raut wajah penuh kenikmatan. Akh sial! harusnya dia kunci pintu ruangannya tadi.


"Sebentar sayang, aku harus kunci pintu ruangan dan meminta Vani agar tidak ada yang mengganggu." menyebut nama sekretarisnya. Lily menarik dirinya dan menatap suaminya tak mengerti.


"Bukan untuk itu aku datang kesini, Mas!" Akhirnya Lily mengerti setelah melihat senyuman nakal suaminya.


"Otak gesreknya hilangin napa, Mas?!" protes Lily.


"Terus? Aku kira kamu kesini buat mengantarkan ...." Bima mendekat dan berbisik, membuat pipi Lily menjadi merah.


Lily mendorong dada Bima dan mencubit perut suaminya saat pria itu sudah menjelajah leher Lily. Bisa gawat nanti! Lily datang untuk urusan Yumna. Bukan untuk bercinta!


"Aw sakit!" Bima mengelus perutnya yang linu.


"Lagian yang kamu pikirin itu terus dari kemarin!"


"Ya aku kan kangen, Yang! Sudah seminggu loh!" cicitnya bak anak kecil.

__ADS_1


"Aku datang kesini bukan buat itu. Tapi urusan Yumna!" Lily bicara dengan pelototan pada suaminya. Bima merengut sebal.


Ternyata......


__ADS_2