YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
29. Hampir ketahuan


__ADS_3

Hari ini Lily membawa Yumna bertemu dengan Allea, sahabat Dena, seorang desainer yang cukup ternama. Mereka akan membahas soal konsep baju pengantin yang akan di kenakan oleh Yumna dan Haidar nanti.


Lily, Yumna, dan Allea berada di ruang kerja. Mereka sedang melihat-lihat gambar desain yang ada. Lily bersikukuh ingin Yumna memakai gaun indah yang khusus di buat untuk hari pernikahannya.


Yumna membalik-balikan gambar desain itu dengan malas, tidak ada yang menarik hatinya sama sekali. Baginya semua gaun pernikahan itu sama. Putih, mengembang, dengan payet, dan segala hal ribet lainnya. Apalagi menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai. Dia melirik ke arah Allea yang menatapnya dengan antusias, sedangkan Lily menatap putrinya dengan penuh tanda tanya. Yumna terlihat bosan dan tidak bersemangat.


"Mana yang kamu pilih?" tanya Lily. Yumna sudah melihat hampir seluruh gambar desain yang ada. Dia hanya mengangkat bahunya.


"Terserah mama saja lah!" ucap Yumna. Lily melongo dengan sikap putri sulungnya ini. Dia mencubit lengan Yumna gemas karena sudah hampir satu jam Yumna masih belum menemukan apa yang dia suka.


"Yang mau menikah itu kamu. Bukan mama!" ucap Lily geram sambil melotot.


"Ih mama sakit!" Yumna mengusap lengannya yang terasa panas. "KDRT nih mama!" cicit Yumna sambil memanyunkan bibirnya.


"Habisnya kamu nih ya, mama dan tante Allea sudah tunggu dari tadi kamu malah bilang terserah mama!" seru Lily kesal.


"Lagian kan sama saja ma, gaun pengantin juga gitu-gitu doang! Yang penting aku gak mau yang ribet, jangan terlalu panjang, jangan terlalu terbuka. Jangan terlalu mewah. Sederhana dan nyaman! Itu saja. Simpel kan?" ucap Yumna ringan sambil tersenyum dengan lebar.


Lily menggelengkan kepalanya sedangkan Allea menghela nafas berat nan lelah. Sedari dulu Yumna tidak pernah bisa di ajak kerja sama dalam memilih gaun, dia hanya bisa menepuk dahinya pelan.


Lily memutar kursi Yumna hingga mereka saling berhadapan.


"Yumna, Please deh. Yang serius!" pinta Lily. Yumna menggaruk belakang lehernya. "Kamu itu seperti bukan calon pengantin. Mama lihat kamu seperti terpaksa begitu, apa benar?" tanya Lily menatap Yumna tajam, membuat Yumna terkesiap.


"Eh maksud mama, apa? aku... serius kok mau ni-nikah. He-em serius!" ucap Yumna terbata.


"Tapi kenapa kamu seperti gak serius, Yumna? Kamu itu mau nikah loh, harus tampil cantik dan menawan, jangan cuek gini!"


"Serius kok Ma, Yumna cuma ngerasa pusing semua gaun terlihat sama buat Yumna." Ucap Yumna, lalu beralih pada Allea dengan tersenyum merasa bersalah. "Maaf ya tante Lea. Bukan maksud Yumna menyinggung nih, cuma dari semua ini Yumna bingung."


"Kamu ini, gak sopan! Tante Allea ini desainer yang cukup ternama, kamu saja yang gak punya selera!" ejek Lily membuat Yumna tidak terima.


"Ih aku juga punya selera kali ma." Ucap Yumna tidak mau kalah.


"Sudah-sudah." Allea melerai keduanya sambil menggerakkan tangannya meminta kedua ibu dan anak itu berhenti berdebat.


"Sekarang tante mau tanya, Yumna mau model seperti apa?" tanya Allea, Yumna terdiam mencoba berfikir.


"Ya yang tadi itu tante, gak terlalu panjang, gak terbuka, gak ribet, gak berat." Yumna menghitung dengan jarinya.

__ADS_1


"Oke. Tunggu sebentar siapa tahu gambaran ini cocok buat kamu." Allea bangkit dan menuju rak buku di dinding sebelah kiri. Dia mengambil sebuah album besar tapi lebih tipis dari miliknya tadi.


"Ini punya bunda Dena. Siapa tahu kamu ada yang cocok, tante siap untuk buatkan!" ucap Allea sambil menyerahkannya pada Yumna.


Lily juga ikut melihat bersama Yumna. Matanya berkaca-kaca, teringat akan Dena, istri Bima yang pertama. Yumna dan ketiga adiknya juga sudah mengetahui perihal cerita masa lalu sang ibu, minus soal pernikahan kontrak mereka dan juga Lily yang pergi meninggalkan Bima. Itu hal yang tidak baik untuk di ceritakan pada anak-anak, bukan?


Yumna terus membuka satu persatu gambar di tangannya. Pandangannya tertuju pada sebuah desain yang sederhana tapi terlihat elegan.


"Ini bukannya gaun pernikahan mama dulu ya?" tunjuk Yumna pada sebuah gambar yang terasa familiar. Lily mengangguk sambil menyusut air mata di sudut matanya.


"Kamu masih ingat?" tanya Lily, dia terkejut karena Yumna masih ingat dengan gaun itu, padahal pada waktu itu usia Yumna masih lima tahun. Yumna mengangguk.


"Gaun itu masih ada, mama simpan di lemari." ucap Lily.


"Kamu mau gaun seperti ini?" tanya Allea menatap Yumna saat pandangan Yumna tak teralihkan dari gambar sketsa itu.


"Pakai baju yang mama dulu juga Yumna gak pa-pa. Lagian cuma di pakai buat hari itu doang kan?" jawab Yumna membuat Lily merasa gemas dibuatnya.


"Ih kamu ini! Kamu harus punya gaun sendiri. Mama gak mau penjemin gaun mama dulu." ucap Lily mencubit pipi Yumna. Yumna merasa kesal mamanya selalu saja memperlakukan dia seperti anak kecil. Allea merasa pusing karena melihat perdebatan di antara ibu dan anak itu. Lagi-lagi dia melerainya. Terkadang Yumna bisa seperti anak kecil jika hanya berdua dengn sang mama, berbeda jika dia sedang berada di hadapan yang lainnya.


"Sudah kalau kamu mau gaun yang seperti mama Lily tante akan buatkan, tapi jangan sama persis lah ya, bedain dikit gak pa-pa kan?!" tanya Allea.


"Heemmm, terserah para tetua saja lah. Yumna mah menurut saja." ucap Yumna akhirnya yang membuat kedua orang tua itu berdecak kesal.


Akhirnya setelah melewati proses pengukuran Lily dan Yumna keluar dari tempat itu. Mereka berjalan ke luar menuju dimana mobil mereka terparkir di dekat sana.


"Mama lapar, makan dulu yuk!" ajak Lily pada putrinya lalu tanpa menunggu jawaban dia menarik tangan Yumna ke sebuah restoran yang hanya terhalang beberapa tempat dari sana.


Mau tidak mau Yumna menurut. Mereka masuk ke dalam sana dan mencari tempat duduk kosong. Kebetulan di dekat jendela ada sebuah meja kosong, mereka segera berjalan ke arah sana.


"Sayang sekali ya, Haidar gak bisa ikut buat bikin baju." ucap Lily saat setelah mereka duduk di sana.


"Dia sibuk ma. Lain kali Yumna akan suruh Haidar buat pergi kesana buat ukur bajunya." ucap Yumna santai. Dia sebenarnya sudah bosan dan lapar sedari tadi, tapi para mama itu membuat Yumna tidak bisa pergi begitu saja.


Tak sengaja Yumna melihat seseorang di sana, terhalang tiga meja tak jauh darinya. Seorang pria sedang duduk dengan seorang wanita. Sepertinya mereka juga sedang makan siang berdua. Mereka sangat serasi, saling menyuapkan makanan satu sama lain.


"Yumna kamu lihat apa sih? Mama tanya juga dari tadi!" tanya Lily sambil memutar tubuhnya hendak melihat ke arah pandang Yumna. Tapi Yumna menahan tubuh Lily.


"Eh ma, mama mau tanya apa?" Yumna menahan bahu Lily, hingga sang mama kembali menatap pada Yumna.

__ADS_1


"Itu, pelayan sudah datang kamu mau pesan apa?" tanya Lily lagi. Yumna menoleh ke arah samping. Saking sibuknya menatap pasangan itu, dia tidak sadar kalau ada seseorang yang menunggunya menyebutkan pesanan.


"Eh, ma. Lebih baik jangan disini ya. Yumna lagi pengen makan yang lain! Maaf ya, mbak!" ucap Yumna sambil menarik tangan Lily untuk berdiri.


"Ma. Ayo."


"Eh kemana?" tanya Lily bingung, dia terpaksa bangun dan mengikuti putrinya keluar dari dalam restoran. Yumna tidak melepaskan tangan mamanya, dia terus menarik tangan Lily dan berjalan dengan cepat.


"Kamu itu kenapa sih?" tanya Lily pada putrinya.


"Itu ma, anu..."


"Apa?" tanya Lily lagi.


"Disana kayaknya makanannya gak enak ma." Ucap Yumna tapi pandangannya sesekali tertuju pada pria yang duduk bersama wanita tadi dari luar. Jendela besar itu memperlihatkan dengan jelas apa saja yang ada di dalam sana. Dia yang tak lain adalah Haidar bersama Vio. Dia takut jika terus berada disana Lily akan melihat Haidar dengan wanita itu.


"Kamu itu kenapa sih. Mama itu udah sering makan disana. Makanannya enak kok!" ucap Lily.


Yumna tersenyum dengan sangat lebarnya. "Yumna... lagi pengen bakso! He-em, bakso. Udah lama gak makan bakso sama mama, kan ya? Yuk mah kita nge-bakso!" ajak Yumna dia masih menarik tangan sang mama. Sekali lagi dia melirik ke arah dimana Haidar masih duduk disana dengan tawa lebar bersenda gurau bersama Vio, dan juga me tapi wanita itu dengan perasaan bahagia.


Yumna dan Lily sampai di sebuah warung bakso langganan mereka sedari dulu. Tanpa menyebutkan pesanan pun, sang penjual sudah sangat hafal dengan kesukaan kedua orang itu.


Lily menggelengkan kepalanya melihat putrinya melamun saat sang penjual mempersilahkan keduanya menikmati hidangan di depannya. Yumna mengambil saos dan sambal, tanpa sadar dia terus saja membalikan botol berisi sambal di atas mangkoknya. Pandangannya terlihat kosong, wajahnya suram.


"Yumna!" seru Lily saat melihat sebanyak apa sambal di mangkok putrinya. Dia menahan tangan Yumna. Yumna tersentak kaget. Dia tersadar.


"Kamu itu kenapa? Lihat sebanyak apa sambalnya?" tunjuk Lily pada mangkok miliknya. Yumna tersenyum meringis.


"Gak sengaja!" ucap Yumna sambil memindahkan kembali sambalnya dengan menggunakan sendok ke atas tisu yang di ambilnya.


"Kamu itu kenapa seperti yang sedang kesal begitu!" tanya Lily lagi. Yumna tersentak dengan ucapan sang mama.


"Enggak kok ma! Aku biasa aja!" sanggah Yumna. Dia kemudian mengaduk makanannya dan mulai memakannya perlahan. Terlintas bayangan saat Haidar menyuapi Vio tadi, mereka sangat serasi dan mesra. Apalagi mereka saling tertawa dan tersenyum, tak lupa dengan mata mereka yang saling berpandangan satu sama lain.


Yumna memotong bakso miliknya dengan kasar hingga terdengar suara sendok dan mangkok yang beradu keras. Beberapa orang menatapnya, lalu kembali pada kegiatannya masing-masing.


"Yumna bisa pelan sedikit gak sih? Kamu itu kenapa?" Tanya Lily yang melihat Yumna tidak seperti biasanya. Yumna tersadar, dia juga tidak tahu kenapa, tapi dia merasa sangat kesal hari ini.


"Gak pa-pa, ma!" ucap Yumna lalu kembali pada makanannya. Dia mencoba menenangkan dirinya.

__ADS_1


'Untung saja mama gak lihat. Kalau sampai ketahuan, bisa gawat tadi!' batin Yumna.


__ADS_2