
Ciiittttt.
Haidar tidak bisa lagi mengelak, bantingan setir dan juga rem tidak bisa membuat mobil itu lantas berhenti dengan aman. Mobil terjungkal, miring dan berputar setelah body-nya menghantam pagar jalanan.
Ben terbangun dari tidurnya sesaat setelah merasakan benturan keras. Tubuhnya terasa di hempas dengan kencang, serasa sedang berada dalam wahana adu nyali di ketinggian. Di bawa terbang ke atas, lalu sebelum benar-benar siap, dihempaskan ke bawah. Seakan siap melepaskan nyawanya dari ketinggian sana.
Ben menatap Haidar yang tengah merintih kesakitan. Mobil berdiri dengan posisi miring, membuat tubuh Haidar terjepit olehnya. Sial baginya, dia lupa tidak memakai sabuk pengaman. Gegas Ben menumpukan kedua tangannya untuk bangkit. Berusaha menjauh dari tubuh Haidar.
"Haidar. Elo gak apa-apa?" tanya Ben. Haidar hanya merintih kesakitan seraya memegangi lengannya.
"Haidar, jawab gue!" teriak Ben sembari mengguncang bahu Haidar. "Haidar!!" teriak Ben takut.
"Bang elo berisik, ih! Gue gak apa-apa. Masih belum mati! Tapi kuping gue sakit elo teriak disana!" kesal Haidar. Ben menghela nafas lega, dia segera membantu membuka seatbelt yang ada pada tubuh Haidar, lantas bangkit dan mencari pijakan yang aman. Jangan sampai menginjak tubuh Haidar.
__ADS_1
Ben mencoba membuka pintu mobil, tidak bisa terbuka sama sekali. Dengan sikunya Ben mencoba memecahkan kaca bagian depan mobil. Bagaimanapun juga Haidar tengah kesakitan, keningnya juga terkena pecahan kaca.
Beberapa kendaraan yang melintas berhenti, dan berdatangan untuk melihat keadaan. Ada pula yang mendekat untuk membantu mereka. Suara riuh beberapa orang terdengar.
Siku lengan Ben sudah sakit. Kaca mobil yang sudah retak bahkan tidak bisa ia pecahkan meski telah mengerahkan seluruh tenaganya. Tapi Ben tidak menyerah.
"Yang di dalam, awas! Lindungi tubuh kalian!" teriak suara dari luar. Ben berbalik dan melindungi Haidar.
Kaca depan mobil pecah. Beberapa mengenai punggung Ben yang ia gunakan sebagai tameng. Beruntung malam ini Ben memakai jaket.
"Ayo cepat bantu. Segera keluarkan korban!" teriak seorang pria dari luar. "Pak. Anda tidak apa-apa?" tanya pria itu pada Ben. Ben hanya mengangguk dan berusaha mengangkat tubuh Haidar.
"Pak. Bapak keluar saja dulu. Biar temannya kami yang bantu. Bapak juga terluka!" teriak pria itu lagi seraya menarik lengan Ben. Ben merasakan perih yang menusuk di keningnya. Satu tangannya ia gerakkan mengusap di tempat rasa perih itu berasal. Benar saja, darah segar sangat banyak kini di telapak tangannya.
__ADS_1
Ben keluar dari dalam mobil itu, duduk di tepi jalan dan diberi minum oleh salah seorang yang ada disana. Sedangkan yang lain membantu Haidar keluar dari dalam mobil. Ada pula yang sigap menelpon ambulans dan polisi.
Ben menatap evakuasi Haidar, seseorang membantu membersihkan darah di kening Ben dengan tisu. Tidak ia rasakan keningnya yang sakit. Dia hanya mengkhawatirkan keadaan Haidar sekarang.
...***...
Langkah kaki Mitha dan Arya tergesa menyusuri lorong rumah sakit. Mitha sangat khawatir setelah mendengar kabar kecelakaan itu dari Ben. Gegas ia dan suami berangkat ke rumah sakit di pagi buta.
Mitha membuka pintu, disana sudah ada Agnes yang duduk di sebelah Ben di sofa. Sedangkan Haidar berbaring di atas brankar. Tangan kanannya di gips, begitu juga dengan kakinya yang penuh perban. Kepala Haidar juga tak luput dari balutan perban yang melilit. Wajah Haidar penuh luka sayatan, pastilah dari kaca mobil yang pecah.
Mitha mendekat ke arah Haidar, tangis yang sedari tadi ia tahan kini pecah sudah. Rasa khawatir semenjak keluar dari rumah kini terjawab sudah dengan keadaan Haidar yang tidak berdaya.
"Haidaaarrr!!!"
__ADS_1