
Lily menatap bingung kepada pemuda di hadapannya. Dia baru pertama kali ini melihat pemuda tampan dan gagah bersama dengan Yumna.
"Bukan Ma. Ini Yumna yang salah. Yumna juga tidak melihat saat berbelok. Jadi menabrak mobil milik Pak Juan." ucap Yumna.
Lily semakin bingung karena keduanya mengaku bersalah.
"Sudahlah masuk dulu. Ini Syifa tolong dibawa ke dalam." tunjuk Lily kepada anak keduanya yang kini masih berada di tangan Yumna dan Juan.
Bima yang melihat Syifa dibawa masuk dengan dipapah oleh Yumna dan seorang pria segera mendekati mereka.
"Ada apa ini?" Bima mengambil alih Syifa dari Yumna dan Juan.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja menabrak kedua Putri bapak." Bima menoleh kepada pria yang baru saja berbicara. Dia terkejut karena melihat seseorang yang dikenalnya.
"Nak Juan, kan?" Bima menatap pria itu dengan tak percaya. Juan yang merasa namanya disebut menolehkan kepala menatap orang yang memanggilnya. Dia sama terkejutnya menatap pria itu dengan tak percaya.
"Pak Bima?!" Juan sungguh tidak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya. Seorang pengusaha ternama yang sangat ia kagumi sedari dulu. Bima adalah salah satu pengusaha yang cukup sukses dan disegani oleh rivalnya.
__ADS_1
"ah ya ampun ... saya tidak menyangka bisa bertemu dengan Bapak di sini. jadi, Yumna adalah putri Bapak?" Juan tersenyum senang. Bima menganggukan kepalanya.
"Papa, tidak bisakah kalian mengobrol di dalam saja? Aku sudah capek berdiri!" Syifa berseru dengan kesal kepada papanya. Bima dan Juan sama-sama tersenyum meringis mendengar keluhan kekesalan dari Syifa.
Akhirnya semua orang masuk ke dalam rumah. Juan meminta maaf kepada keluarga Yumna tentang kecelakaan ini.
"Terima kasih karena kamu sudah mau mengantarkan kedua anak saya pulang."
"Ah tidak, saya merasa bersalah karena telah membuat celaka keduanya. Dan saya juga beruntung karena bisa bertemu dengan Bapak di sini." Juan tanpa canggung mengatakan hal itu. Dia memang sangat senang mengetahui jika Yumna adalah Putri pertama dari Bima Satria Mahendra.
"Panggil juga Pak sopir untuk makan bersama dengan kita." titah Bima kepada Juan. Namun, sopir itu menolak untuk makan malam dengan mereka. Akhirnya hanya empat orang yang makan malam bersama di meja makan itu. si kembar belum kembali dari acaranya. barulah setelah mereka selesai makan malam kedua orang dengan wajah yang sama itu masuk dan menghampiri mereka di meja makan. Keduanya merasa heran dengan adanya pria yang mereka temui di bandara.
setelah mengobrol dan berbasa-basi sedikit setelah makan malam itu Juan berpamitan dengan keluarga Bima.
Bima Lily dan Yumna mengantarkan kepergian pemuda itu di depan teras.
"Dia baik ya Pa. Dia juga sopan. Mama suka." Bima mengernyitkan dahinya hingga berkerut.
__ADS_1
"Suka dengan brondong seperti dia?" nada suara Bima terdengar kesal. lili yang mendengar ucapan suaminya itu kini mendelik seraya mencebik.
"Suka lah dia kan masih fresh," dengan tidak peduli Lily berbalik arah dan berjalan menjauh dari suaminya itu. Bima dan Yumna saling berpandangan lalu Bima segera berlari menyusul istrinya ke dalam rumah.
Syifa yang duduk di ruang tamu hanya menatap papanya yang mengejar sang istri, bak drama yang diperankan oleh anak SMA. bedanya ini versi tuanya.
"Ma tunggu. apa sih yang mama bilang? gak jelas banget deh!" Bima tidak sabar dia berlari semakin cepat menyusul istrinya ke dalam kamar.
Yumna baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati adiknya yang kini menatap lurus kearah kamar orang tuanya.
"Mama kenapa sih Kak?" tanya sifa dengan bingung. Yumna kini mendudukan dirinya di samping sang adik. Dia hanya mengangkat kedua bahunya dengan cuek.
Dua orang yang sama wajahnya turun dari lantai atas dan menghampiri kedua kakaknya yang tengah duduk menikmati cemilan. Syifa tepatnya. padahal baru beberapa menit yang lalu gadis itu baru saja makan dengan porsi yang lumayan.
"Jangan ngemil mulu kenapa sih?" Azkhan merebut makanan yang ada di tangan Shiva. Sedangkan Arkhan duduk di samping Syifa. Dengan tangan jahilnya pemuda itu memukul betis Syifa.
"Arkhan? Sakiit!!" Syifa berteriak terpekik dengan kelakuan kurang ajar adiknya ini. memang dasar mereka ini, kalau tidak ada memang mau buat dia rindu.
__ADS_1