
Haidar pergi ke rumah Agnes, dia butuh teman mengobrol sekarang. Biasanya Bang Ben selalu bisa menjadi
teman curhatnya, tapi malam ini sial sekali dia tidak ada!
Haidar berada di salah satu ruangan. Rumah Agnes memiliki ruang bar lengkap dengan berbagai macam minuman alkohol, dari mulai kadar alkohol rendah sampai tinggi.
Menatap jauh ke luar jendela yang terbuka. Dia menenggak minuman di tangannya. Satu gelas wine sudah ia habiskan.
"Jangan minum terus. Kamu gak tahan sama alkohol!" Agnes merebut minuman di tangan Haidar, tapi pria itu menepis tangan Agnes.
"Ada masalah apa sih sampai minum segala. Kamu kan udah lama gak minum?"
"Bukan urusan elo!" bentak Haidar. Agnes merasa kesal, jika sudah begini Haidar sangat sulit untuk diajak bicara. Dia akhirnya mengalah saja untuk pergi ke dapur, perutnya lapar.
Setelah selesai dengan makan malamnya, Agnes kembali ke dekat Haidar. Di lihatnya pria itu sedang melabuhkan kepalanya di atas meja. Dia mengetuk-ketuk gelas dengan jari telunjuknya. Matanya sudah merah setengah tertutup. Dia juga meracau tidak jelas.
"Kejam!" tiba-tiba saja Haidar bicara seperti itu saat Agnes baru saja duduk di dekatnya.
"Siapa yang kejam?" Agnes mencoba bertanya.
"Wanita itu lah yang kejam." tutur Haidar.
"Wanita yang mana?"
"Yang ada dirumah gue!"
"Tante Mitha?"
"Bukan! Si cewek bar-bar!" Haidar geram karna Agnes tidak mengerti juga.
"Yumna?" Siapa lagi masa mau sebutin Bi Nah?!
"Hemm."
"Memangnya kenapa?" Agnes mencoba menyelidik. Orang mabuk lebih gampang diajak bicara.
"Masa dia minta cerai sama gue?" tutur Haidar, lalu menenggak minuman yang masih ada sedikit di dalam gelasnya.
"Cerai?" Agnes terkejut.
"Iya. Cerai. Padahal kan belum waktunya. Masih ada sembilan bulan sebelas hari lagi." Haidar menghitung dengan menggunakan sepuluh jarinya.
"Gue inget tuh, karena gue juga simpan catetannya di hp gue!" ucap Haidar tak sadar.
Agnes merasa bingung. Apa maksud Haidar dengan waktu sembilan bulan sebelas hari?
__ADS_1
"Kenapa harus sembilan bulan?"
"Ya harus lah! Perjanjiannya kan selama setahun. Dan dia minta cerai secepat ini. Ini kan tiga bulan juga belum." tuturnya lalu menambahkan lagi minuman ke dalam gelasnya.
Agnes terkejut dengan ucapan Haidar. "Jadi elo sama Yumna nikah itu pake perjanjian?" Agnes penasaran. Haidar hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gue gak mau di jodohin sama si Lala. Dan Yumna gak mau di jodohin sama .... sama siapa namanya?" menoleh bertanya pada Agnes.
"Mana gue tahu!" jawab Agnes.
"Su .... No .... Suseno! Eh ...." Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rambutnya semakin berantakan karena ia garuk.
"Suseno kan bapaknya! Pokoknya anaknya Pak Suseno! Ah elo pasti gak kenal! Gue juga gak kenal! Hahaaa...."
Agnes menggelengkan kepalanya. Dasar Haidar, kalau udah mabuk ya begini!
"Dia bilang kan dulu sepakat buat nikah sama gue selama satu tahun. Eeehh kemarin siang malah dia jalan sama cowok lain. Ya gue marah lah! Gue seret tuh istri gue sampe pulang ke rumah, sampe gue lupa kalau gue datang ke kafe sama pacar gue...."
"Vio?" tanya Agnes menebak.
"Iya lah. Pacar gue siapa lagi?" jawab Haidar.
"Yumna bilang, dia cuma temen. Tapi masa temen ngikutin terus? Waktu gue di Lombok dia ada. Disini juga dia ada! Nguntit Yumna, kan dia?!" menatap Agnes berharap sepupunya memberi jawaban. Sedangkan yang di tatap hanya diam.
"Ya. Emang dia kenapa kalau ngikutin Yumna?"
"Emang elo kemana sampe elo gak ada?" tanya Agnes, semakin ingin mengulik hidup Haidar.
"Gue temenin Vio." jawab Haidar, lagi-lagi dia menenggak minumannya.
"Jadi elo honeymoon ke Lombok sama Vio juga?" Agnes menatap Haidar tak percaya.
"Emh.... Vio ada pemotretan disana dan gue ajak Yumna buat pergi kesana. Gue kan mau lama-lama sama Vio. Kalau mami tahu gue masih ketemu sama Vio, gue bisa di cincang habis sama mami!" Haidar mengerucutkan bibirnya, sebal.
"Ya itu kan salah elo sendiri. Kenapa juga masih berhubungan sama Vio."
"Karena gue cinta sama dia. Dia itu cinta pertama gue."
"Terus kenapa elo gak nikahin dia dan malah nikahin Yumna?"
"Elo juga tahu jawabannya. Dan jangan sebut-sebut nama Yumna!!" Haidar menggebrak meja dengan keras. Agnes yakin tangannya pasti sakit.
"Gue sebel sama dia! Gara-gara dia, gue ninggalin Vio. Dan itu bukan cuma sekali. Waktu di Lombok juga gue sering ninggalin Vio karena si barbar itu! Dia itu keluar lamaaaa banget. Sebagai laki-laki kan gue takut, kalau terjadi apa-apa sama dia gimana? Mana hpnya suka gak aktif lagi. Eeehh pulang-pulang dia bawa belanjaan banyaaaak banget! Gue juga kan bisa belanjain dia. Gak usah tuh dia minta di belanjain sama tuh cowok. Gue bahkan bisa beli semua mall disini buat dia. Biar dia belanja sepuasnya!" Haidar kesal bibirnya terus nyerocos seperti teko air uap yang terus berbunyi sebelum kompor di matikan.
"Memangnya kenapa? Lagian kan kalian juga menikah karena perjanjian! Kalau perjanjiannya dari awal gak ngelarang buat jalan sama cowok lain, ya jangan marah lah!" ucapan Agnes membuat Haidar kembali menggebrak meja.
__ADS_1
Brakkk.
"Gak bisa! Gue gak bisa gak marah sama dia! Sakit!" Haidar menepuk dadanya dengan keras.
"Disini. Sakit!" tunjuknya ke dadanya lalu kembali memukulnya keras seakan dia ingin mengeluarkan sesuatu yang menusuk di dalam jantungnya. Dari pembicaraan Haidar barusan, Agnes menangkap sesuatu yang ada pada diri Haidar. Dia cemburu!
"Elo suka sama Yumna?" lirih Agnes.
Haidar memdelik pada Agnes.
"Suka? Enggak lah!" Haidar menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri. "Mana ada gue suka sama cewek barbar seperti dia. Dari perjanjian kita nih ya. Kami itu gak boleh suka satu sama lain. Gue cuma suka sama Vio, dan Yumna juga gak suka sama gue! Gue mana mungkin suka sama dia. Dia itu berisik kalau mau tidur sampai-sampai gue sering di usir dari kasur, apalagi kalau deket-deket sama dia. Pipi gue jadi korban gara-gara gak sengaja pegang-pegang dia! Padahal di luaran sana banyak yang mau tidur sama gue. Eeehh dia malah gak mau gue sentuh!"
"Jadi dia masih virgin?" tanya Agnes tak percaya. Haidar mengangguk.
"Serius?!" tanya Agnes lagi dengan keras.
"Ish. Elo nih berisik! Kalau gak percaya bawa aja dia ke rumah sakit. Tanya sama dokter, dia masih perawan apa enggak? Tapi gue juga gak tahu sih. Dia kan jalan terus sama temennya itu. Gue gak tahu Yumna sudah ... sudah ... " Haidar terdiam. Tiba-tiba saja dia merasa marah. Dadanya naik turun.
"Gak bisa! Gue gak akan terima kalau Yumna dan dia sampai... dia...."
Bruk!
Tak tahan lagi, kepala Haidar terkulai di atas meja. Kedua matanya tertutup rapat. Agnes menggelengkan kepalanya, sudah sangat lama Haidar tidak minum alkohol.
Agnes perlahan memapah Haidar dengan semua kekuatannya.
"Elo, mau bawa gue kemana?" lirih Haidar diantara ketidakberdayaannya.
"Ke kamar!" jawab Agnes.
Susah payah Agnes membawa Haidar ke kamar tamu, beruntung hanya berbeda dua kamar dari ruangan minumnya.
Bruk!
Agnes melempar tubuh Haidar yang berat.
"Dasar Kingkong! Badan segede gaban, nyusahin gue!" cerca Agnes pada tubuh tak berdaya itu.
Haidar bangkit duduk, dia melihat seseorang yang tak ingin di lihatnya, tapi sangat di rindukannya. Haidar mengulurkan tangannya dan menarik tangan Agnes hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
"Haidar lepasin gue!" Agnes meronta di atas tubuh Haidar, takut jika pria itu melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Sebentar aja. Sebelum elo hilang dari pandangan gue. Sebentar aja, Yumna. Elo gak pernah biarin gue peluk elo. Nanti kalau elo pergi gue pasti akan sepi. Gak bisa gitu elo tinggal lagi di samping gue?" Agnes mendongak dia melihat mata Haidar yang tertutup rapat. Suara dengkuran halus Haidar terdengar jelas. Haidar bermimpi!
Perlahan Agnes bangun dari atas tubuh Haidar. Dia menyelimuti Haidar dengan selimut hangat.
__ADS_1
"Yumna...! Elo tega!" racau Haidar. Agnes menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Fix, pria ini sudah jatuh cinta dengan istrinya!