
Apa yang sebenarnya mami mau? Kenapa juga harus dia yang datang untuk antarkan makanan ini. Mami benar-benar ...
Haidar merasa geram sendiri. Dia ingin mengumpat, tapi jika dia mengumpati wanita itu atau mengumpat pada mami bagaimana kalau gadis ini melapor pada mami? Tentu Mami Mitha pasti akan marah dan juga memukulnya. Wanita setengah tua itu terlihat tak berdaya jika di depan orang lain, tapi di depannya ... Ah, singa betina yang galak!
"Sudah kan? Sekarang kamu pulang saja sana! Aku masih banyak pekerjaan!" Haidar menggerakkan tangannya untuk mengusir gadis itu dari sana. Dia hanya ingin bekerja tanpa mendengar suara yang lain, apalagi suara cempreng gadis ini. Sangat mengganggu!
"Ih, kamu ini. Usir aku? Aku laporkan sama mami ya. Enak saja main usir segala. Aku ini kan kangen sama kamu Haidar, kita udah beberapa hari gak ketemu kan? Masa kamu juga gak kangen sama aku sih?" tanya gadis itu sambil mendudukkan dirinya di kursi di depan Haidar.
Haidar mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mengusir gadis ini pergi dari sini. Jika wanita yang ada di sini dia tidak akan bisa bekerja, yang pasti hanya akan mendengar suaranya dengan lengkingan nada yang tinggi seperti sekarang ini.
"Haidar ayo makan siang dulu!" titah gadis itu kepada Haidar. Dia berdiri untuk meraih rantang makanan dan membukanya untuk Haidar. Seketika terlihat nasi dan juga sayur yang ada di dalam sana. Haidar hanya meliriknya dengan tidak berminat. Dia merasa kasihan jika makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Seenak apapun makanan yang diberikan kepadanya tidak akan dia merasakan rasa nikmat dari makanan itu.
Bisa tidak sih, dia pergi saja? Inginnya sih mengusir, tapi akan sangat merepotkan jika dia melakukan itu. Lagi-lagi karena mami. Pulang nanti pasti dia dicekik oleh mami. Memang mami yang kejam!
" haidar, ayo makan! Aku sudah susah payah membantu mami memasak itu. Masa kamu mau mengabaikan makanan enak itu sih?" tanya gadis itu lagi. Haidar menghembuskan nafasnya dengan berat. Dimakan salah, tidak dimakan juga salah. Wanita itu sangat bersih dengan mami. Cerewet.
" iya aku makan!" Seru haidar dengan kesal. Dia menarik kasar rantang makanan yang ada di depannya. Gadis itu menopang dagunya dengan tangan kanannya. Dia tersenyum sambil memperhatikan haidar yang kini makan dengan lahap.
" kamu lapar sekali ya?" tanya gadis itu.
"Hem!" Haidar hanya menggeram sebagai jawabannya. Dia kemudian melanjutkan makannya meski rasanya nano-nano. Tidak seenak seperti yang dia lihat.
__ADS_1
"Bagaimana masakan aku? Enak tidak?" tanyanya lagi dengan senyum di bibirnya.
"Mau jawaban jujur atau bohong?" Tanya haidar dengan tidak peduli. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, merasa sebal dengan ucapan pria yang ada di hadapannya.
" ayolah, sesekali jawablah enak," pinta wanita itu.
"Kalau aku bilang enak, tentu aku bohong dong!" Jawab haidar dengan tenang. Dia tidak peduli raut wajah yang kini tengah menatapnya berubah menjadi masam.
"Sekarang pulanglah Rin, aku sudah makan dan kau boleh pulang!"
" tidak mau!" Seru gadis yang dipanggil Rin itu. Dia malah menatap lekat haidar yang hampir menghabiskan makanannya.
9"Aku mau di sini sampai kamu menghabiskan makanan kamu dan juga kamu memberikan sesuatu untuk aku." Gadis itu menadahkan kedua tangannya. Senyum di bibirnya mengembang sempurna.
"Hadiah ulang tahun aku!"
Haidar terdiam mendengar kata-kata itu. Dia menyalakan hp nya untuk sekedar melihat tanggal yang tertera, wajah Haisar lngsung memerah, dia tidak tau apa yang yang hars dia lakukan.
"Aku lupa! Kamu ulang tahun ya?"
"Ih Haidar! Kamu lupa dengan ulang tahu aku?" tanya Rin dengan cemberut. Dia sangat marah dengan Haidar yang melupakan hari pentingnya ini.
__ADS_1
Haidar hanya meringis tersenyum. Dia menyadari kesalahannya, yaitu melupakan hari ulang tahun Arini.
"Ok. Hadiah apa yang kamu mau?" tanya haidar.
Arini terdiam dan berpikir. " Aku mau belanja yang banyak!" Jawab Arini dengan riang.
Haidar memutar bola matanya dengan malas. Namun, dia juga mengeluarkan sesuatu dan dalam dompetnya. Sebuah kartu dengan debit yang lumayan.
"Disana ada 150 juta. Jangan lebih dari itu!" Haidar memberi peringatan. Arini menerima kartu itu dengan wajah yang cemberut.
"Apa-apaan 150 juta? Harga tiga sepatuku saja sudah bisa menghabiskan uang yang ada di dalam kartu ini!" Arin mengetuk meja dengan menggunakan kartu yang diberikan oleh Haisar. Gadis itu lalu kemudian pergi dari hadapan haidar.
"Haidar!" Teriak gadis itu sebelum keluar dari sana. Haider menoleh ke arahnya. "Nanti kalau ini kurang transfer lagi ya!" Teriaknya nya dari ambang pintu. Haidar tidak menjawab, dia hanya mengangkat satu tangannya dan memberikan jempol kepada gadis itu.
Kenapa beda sekali dengan kakaknya? Dia lebih barbar!
Haidar segera mengambil telepon dari mejanya dan segera menghubungi seseorang.
"Agnes! Tolong jaga adik mu yang baik. Dia baru saja merampok ku!"
Agnes tertawa mendengar Haidar sudah marah di siang hari ini.
__ADS_1
Haidar menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan wanita itu. Kenapa mereka sangat gampang menghamburkan uang?