YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
223. CEO Takut Istri


__ADS_3

Haidar telah sampai di depan perusahaan milik Bima. Di tangannya dia membawa sesuatu untuk diberikan pada mantan dan juga calon mertuanya itu.


Dadanya berdebar dengn tidak karuan. Akankah Bima menerima apa yang dia bawa atau malah melemparnya ke luar jendela?


Dengan langkah yang pasti Haidar memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam sana. Seorang resepsionis yang mengena Haidar menyambut kedatangan pria tampan itu.


"Selamat datng, Pak Haidar," sapa wanita itu dengan ramah.


"Siang. Apa Pak Bima ada?" Wanita yang ada di hadapan Haidar mengerutkan keningnya. Mantan menantu dari bosnya itu dia kira datang untuk bertemu dengan Yumna, biasanya sih begitu. Pernah dia menemukan pria itu menjemput Yumna.


"Ada, sih. Tapi apakah Pak Haidar sudah bikin janji?" tanya wanita itu lagi.


Haidar mengusap hidungnya yang tidak gatal sama sekali.


"Belum, sih. Makanya saya kesini untuk bertanya. Sekalin tadi saya lewat," ujar Haidar.


"Maaf, Pak Haidar. Bisa ditunggu sebentar? Saya akan tanyakan sama sekretaris Pak Bima, apakah Pak Bima sedang sibuk atau tidak," ujar wanita itu. Haidar mengangguk dan tetap berdiri hingga wanita yang ada di hadapannya selesai menelepon.


"Apa Pak Bima sedang sibuk?" tanya Haidar lagi.


"Maaf, Pak Haidar. Pak Bima sedang ada rapat dengan jajaran direksi," ujar wanita itu lagi dengan tidak enak hati.


Haidar menghembuskan napasnya dengan lesu. Susah payah dia mendapatkan apa yang ada di tangannya, tapi sepertinya dia tidak bisa menemui pria itu dan memberikannya secara langsung.


"Mau bagaimana? Kembali nanti atau ditunggu? Atau saya akan hubungi Pak Haidar kalau rapat itu sudah selesai," ujarnya lagi.


Haidar tidak punya banyak waktu. Dia juga ada pertemuan di jam dua siang nanti.


"Saya pulang saja. Ini, tolong sampaikan sama Pak Bima. Dari saya," ujar Haidar menitipkan makanan yang dia bawa.


"Baik, saya terima dan saya akan sampaikan ini pada Pak Bima." Wanita dengan nama Nina itu menerima pemberian Haidar.


"Terima kasih," ucap Haidar. Dia telihat lesu kembali keluar dari dalam perusahaan itu.


'Semoga saja Papa Bima mau menerima pemberianku. Jangan sampai dibuang,' batin Haidar di dalam hati.


*


Suara ketukan di pintu terdengar dengan jelas, tak berapa lama pintu itu terbuka. Seorang sekretaris masuk dengan membawa sesuatu yang ada di tangannya.


"Selamat siang, Pak.


Bima yag sedang sibuk dengan pekerjaannya menoleh dan terdiam dengan apa yang wanita itu bawa.


"Siang. Ada apa?" tanya Bima.


"Ini, Pak Haidar membawakan sesuatu untuk Bapak," ujarnya lagi.

__ADS_1


Bima mengerutkan keningnya, menatap sesuatu yang besar di tangan sang sekretaris.


"Buka!" titah Bima. Sekretaris itu dengan patuh membuka apa yang ada di tangannya. Seketika tercium aroma wangi menyeruak saat tutupnya sudah terbuka dengan sempurna.


"Buang!" titah Bima lagi. Sekretaris mengangkat kepalanya, menatap Bima dengan bingung.


"Eh, tapi ...."


"Aku bilang buang!" titah Bima lagi dengan nada yang tegas. Dia kembali pada laptop yang ada di hadapannya.


"Baik," ucap sekretarisnya dengan takut. Dia segera kambali membungkus makanan dengan wangi dan tampilan yang menggoda selera.


'Ah, sayang sekali kalau ini dibuang,' batinnya sedih.


"Maaf, Pak. Saya lancang, tapi kalau boleh, saya akan berikan saja makanan ini pada yang lain. Mubazir kalau harus dibuang," ucapnya dengan takut.


"Terserah," ucap Bima tidak peduli. Dia meneruskan pekerjaannya kembali.


Sekretaris itu kembali ke luar dengan membawa makanan yang Bima tolak tadi.


Bima menghentikan ketikan di laptopnya.


"Berani sekali anak itu. Dia kira aku bisa disogok dengan makanan?" ujar Bima dengan kesal.


Suara teleppon terdengar kembali di ruangan Bima. Dengan segera Bima mengangkat telepon yang ada di depannya.


"Maaf, Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap seseorang di balik telepon itu.


Bima hendak menutup telepon. Akan tetapi, suara teriakan yang terdengar di seberang sana membuatnya urung melakukan hal itu.


"BIMA SATRIA MAHENDRA!!" teriakan itu bernada khas sekali membuat telinga Bima sakit dan berdengung.


"KAMU BILANG TIDAK MAU BERTEMU DENGANKU?!" teriak suara itu lagi.


Bima terkejut ketika mendengar suar ayang lain dari yang tadi. Wajahnya pucat seketika setelah menyadari siapa yang bicara dan berteriak di ujung telepon.


"Eh, Una. Sayang, maaf. Aku kira seseorang yang lain," ujar Bima dengan nada yang takut.


"SIAPA? APA DIA WANITA?" Lily berteriak lagi.


"Bu-bukan!" sanggah Bima dengan cepat. "Bukan wanita, tapi laki-laki," tambahnya.


"APA? KAMU TIDAK PUAS DENGAN WANITA SAMPAI KAMU CARI LAKI-LAKI?" teriakan itu semakin keras terdengar. Telinga yang sakit dan juga kepala yang tiba-tiba berdenyut hebat, Bima rasakan sekarang.


"Ya ampun, Una. Jangan berteriak seperti itu. Kamu di mana. Biar aku susul. Di bawah, kan?" tanya Bima.


"Tidak perlu! Aku akan naik sendiri!" teriak Lily sebelum terdengar suara 'tuttt-tuttt' di telinganya.

__ADS_1


"Ya ampun. Apa yang akan terjadi?" gumam Bima.


Tak lama Lily sampai di ruangannya. Wajah wanita yang telah hidup degannya selama lebih dari dua puluh ahun itu terlihat cemberut. Datang dengan langkah kaki yang kasar mendekat ke arah Bima.


"Keterlaluan sekali kamu, Mas!" teriak Lily. Bima segera berdiri dan menyambut kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu dengan merentangkan kedua tangannya. Tak lupa dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Mencoba terlihat manis di mata Una tersayang.


Bukannya masuk ke dalam pelukan suaminya. Lily melipat kedua tangannya dengan kesal.


"Apa? Tidak mau aku peluk?" tanya Bima sedikit kecewa.


"Keterlaluan sekali kamu, Mas! Kamu menolak kedatangan aku!" seru Lily masih kesal. Di rumah, dia sudah dibuat kesal oleh kelakuan Syifa dan si kembar, di sini dia malah ingin diusir oleh suaminya sendiri!


"Eh, bukannya gitu." Bima mendekat dan menarik Lily ke dalam pelukannya. "Tadi aku ada seseorang yang datang ...."


"Siapa?" tanya Lily penasaran.


"Ada, seseorang yang tidak diundang," jawab Bima.


"Siapa?" tanya Lily sekali lagi. Dia mendorong dada Bima dan menatap pria itu dengan tajam.


Bima yang ditatap sedemikian rupa oleh istrinya jadi serba salah.


"Hanya orang iseng."


"Siapa? Haidar?" Pertanyaan Lily membuat Bima menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kamu tau?" tanya Bima balik.


"Resepsionis yang kasih tau aku. Dan kamu gak mau ketemu sama dia. Kenapa?" tanya Lily dingin.


Bima meringis mendengar pertanyaan dari istrinya tersebut. Ingat dengan apa yang mereka bahas beberapa hari yang lalu.


"Itu ... aku sedang sibuk," jawab Bima.


"Aku gak lihat kamu sedag sibuk. Apa kamu menghindari dia?" tanya Lily lagi.


Bima semakin bingung, apalagi kalau istrinya ini sudah marah. Syerem!


"Tidak menghindari juga sih, tapi aku cuma tidak ingin bertemu dengan diadulu," jawab Bima dengan suara yang pelan.


"Kamu keterlauan, Mas. Jangan kamu persulit dia. Aku tidak mau kalau sampai Yumna marah sama kita, terutama sama kamu!" ucap Lily menunjuk tepat ke arah wajah Bima.


"A-aku gak akan mempersulit, aku cuma mau lihat kesungguhan dia dalam mendekati Yumna lagi. Kamu tahu, kan sayang. Sebagai seorang ayah, aku gak mau Haidar melakukan hal yang sama lagi."


Lily menghela napasnya cukup kasar dan duduk di kursi yang ada di dekatnya.


"Aku ingin Yumna bahagia, Mas. Kita juga tidak perlu melarang hubungan mereka."

__ADS_1


"Aku juga, Sayang. Aku ingin Yumna bahagia dengan orang yang dia cintai, tapi pria yang baik juga. Anak kecil itu sudah mempermainkan Yumna sampai anak kita sering menangis," ucap Bima. Dia berjongkok di depan kaki Lily dan menatap istrinya dengan sayang.


Lily kembali menghela napasnya dengan berat. Memang benar apa yang Bima katakan, tapi dirinya juga tidak mau membuat Yumna sedih untuk yang kedua kali.


__ADS_2