
"Muka kamu lucu," ujar Yumna di tengah rasa sakit yang menderanya.
"Ish, Kakak. Di saat seperti ini malah ngelawak!" ujar Arkhan sebal.
"Siapa yang ngelawak? Serius juga!" ujar Yumna santai.
Arkhan berusaha untuk mengabaikan ucapan kakaknya yang tidak masuk akal, sepertinya akibat merasa sakit maka dari itu sang kakak berbicara melantur.
“Ar. Kakak lapar, belikan nasi Padang dong!” ujar Yumna yang membuat sang adik melongo. Sempat-sempatnya memikirkan nasi Padang di saat yang seperti sekarang ini.
“Oke. Setelah kita ke rumah sakit, aku belikan.”
“Nggak mau nanti, sekarang lah. Kakak laparnya juga sekarang.”
“Kalau berojol di sini bagaimana?” tanya Arkhan khawatir.
“Kakak kira nggak akan sih, kamu cari deh watung nasi Padang yang sepi biar cepet dilayani. Kakak lapar banget pengen makan dulu sebelum lahiran,” ujar Yumna lagi meyakinkan.
Arkhan sempat tak percaya, tapi Yumna terus merengek bak anak kecil meminta makanan itu.
“Ya, udah. Tapi bener ya, jangan dulu berojol di sini. Aku nggak bisa soalnya kalau bantu lahiran,” ujar sang adik.
Akhirnya di tengah perjalanan menuju ke rumah sakit, Arkhan berhasil menemukan warung nasi Padang yang cukup besar, tapi sepi dari kendaraan. Entah makanan itu enak atau tidak, yang penting sang kakak tidak merengek lagi dan mereka akan cepat sampai ke rumah sakit.
“Tunggu di sini. Aku turun dulu,” ujar Arkhan saat memarkirkan mobilnya di depan tempat makan tersebut. Arkhan memesan dan meminta cepat dilayani, dia juga beberapa kali pergi untuk melihat keadaan sang kakak yang terkadang meringis kesakitan.
“Kamu tunggu di sana aja, Kakak nggak apa-apa kamu tinggal,” ujar Yumna yakin.
“Nggak, aku takut kalau Kakak mau lahiran di sini.” Arkhan bersikeras untuk menunggu di samping mobil sementara pemilik warung makan itu menyiapkan pesanannya.
Tidak sampai lima menit lamanya, Arkhan telah mendapatkan pesanan sang kakak dan kembali melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.
__ADS_1
Makanan tersebut Yumna nikmati dalam piring yang Arkhan beli sekalian dari warung nasi Padang tersebut, dia memikirkan untuk membayar piring itu bila mana Yumna ingin makan di mobil dan pastinya tidak akan mudah untuk memakannya jika hanya memakai tangan kosong.
“Terima kasih, Om!” ujar Yumna menirukan suara khas anak kecil. Tanpa menunggu lagi, Yumna memakan nasi tersebut meski sesekali dia meringis kesakitan menahan rasa nikmat yang kedua kalinya di kehamilannya ini.
“Kakak masih bisa makan?” tanya Arkhan melirik sang kakak yang sudah mulai menikmati makanan itu.
“Iya, lagi pengen banget. Padahal tadi pagi nggak kepengen makan apa-apa,” ujar Yumna. Akhir-akhir ini selera makannya tidak terlalu banyak, bahkan sampai Haidar kesal karena porsi makannya sangat sedikit.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka telah sampai ke rumah sakit. Arkhan meminta seorang perawat untuk membantu membawa kakaknya masuk ke dalam. Arkhan mengikuti perawat itu yang membawa sang kakak dan dia langsung melakukan regristrasi.
“Kak, apa udah kasih tau Bang Haidar?” tanya Arkhan.
“Belum, tunggu dokter datang dulu. Jangan dulu bikin heboh, Arkhan!” peringat sang kakak. “Oh, ya. Makanan punya Kakak mana? Belum kamu buang, kan?” tanya Yumna.
“Belum, masih ada di mobil. Masih mau habiskan?” tanya Arkhan yang diangguki oleh Yumna. “Tunggu sebentar, aku juga ambilkan tas baju bayi dulu.”
Arkhan pergi dari sana dan Yumna menunggu kedatangan dokter untuk memeriksanya.
Dokter belum juga datang meskipun Yumna telah hampir menghabiskan makanannya. Arkhan yang ikut menunggu di sana menjadi kesal sendiri, beberapa kali menatap ke arah pintu dan tidak juga pintu itu terbuka, hanya perawat yang datang untuk memeriksa keadaan Yumna, tapi Arkhan belum puas jika belum bertemu dengan dokter. Memang rumah sakit ini lebih ramai dari waktu itu mereka datang. Mungkin itu sebabnya dokter juga belum datang untuk memeriksa keadaan Yumna.
"Nggak, nanti aja, Ar. Lagian juga dokter belum jelas ini gimana. Nanti kalau bikin heboh lagi Kakak yang nggak enak. Sudah tunggu aja, dokter juga nggak akan lama kayaknya," ucap Yumna. Arkhan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya menuruti kakaknya yang sangat keras kepala.
Yumna meringis menahan sakit, menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan.
"Sakit banget ya?" Arkhan tidak tahan lagi melihat kakaknya yang tampak kesakitan. Yumna tersenyum dan menggelengkan kepala. Namun, Arkhan sangat yakin jika itu menyakitkan untuk Yumna. "Mau aku bantu apa gitu biar nggak sakit?" tanya Arkhan sekali lagi.
"Usap pinggang Kakak aja deh."
"Di sini?" tanya Arkhan menyentuh pinggang sang kakak yang melebar semenjak kehamilan.
"Iya, nah kayak gitu. Enak," ujar Yumna merasakan sedikit nyaman di pinggangnya. Inginnya sih, Haidar yang ada di sini, tapi melihat jam yang menempel di dinding membuatnya mengira-ngira jika Haidar mungkin saja masih meeting dengan kliennya.
__ADS_1
"Lahiran itu enakan normal atau sesar sih?" tanya Arkhan iseng.
"Ya mana Kakak tau. Kan baru pertama ini kakak mau lahiran."
"Eh, iya juga, sih."
"Aduh," ringis Yumna saat anak yang ada di kandungannya bergerak kencang.
"Eh, kenapa? Jangan dulu lahiran. Dokter belum datang!" seru Arkhan.
"Nggak, belum. Cuma nendang aja."
Arkhan mengusap pinggang Yumna lagi, lucu juga melihat sang kakak seperti ini, badan yang dulu tipis kini melebar akibat adanya dua keponakannya di dalam sana.
"Kak, kalau lahiran sakit normal atau sesar?" tanya Arkhan lagi.
"Astaga! Kamu nanyanya gitu aja, kan tadi udah dijawab, nggak tau kan baru pertama ini. Mungkin nggak tau juga ya yang sakit yang mana. Kalau kata dokter sih, lahiran normal tuh sakitnya waktu mengeluarkan bayi, kan katanya ibaratkan tulang kita dipatahkan bersamaan," ujar Yumna. Arkhan meringis mendengar perkataan sang kakak. "Kalau sesar, banyak yang bilang lahiran itu nggak sakit karena kita kan dibius, tapi setelah selesai sesar itu yang terasa sakitnya, pemulihannya. Nggak tau deh kalau sewaktu operasinya gimana, kan kulit perut ibu hamil tuh disayat setiap lapisan sampai di rahim, terus setelah bayinya di keluarkan, dokter jahit lagi kulit yang disayat tadi setiap lapisannya sampai selesai." Yumna mengoceh, mengatakan yang dia tahu yang mana seperti yang pernah dijelaskan oleh dokter dan juga apa yang dilihatnya lewat laman YouTube selama ini.
"Kak, jangan diterusin. Ngeri." Yumna menahan tawa saat mendengar ringisan Arkhan. Adiknya itu bergidik mendengar ucapan sang kakak. Terlalu ngeri untuk membayangkan setiap lapis kulit yang mereka sayat demi mengeluarkan sang bayi. Sungguh perjuangan sang ibu sangat besar sekali demi kelahiran sang anak. Terlalu saja jika ada anak yang melawan ibunya di dunia ini.
Tak lama dokter datang dan meminta maaf karena dirinya lama berada di luar.
"Bagaimana Kakak saya, Dokter? Apa akan melahirkan hari ini?" tanya Arkhan pada sang dokter.
"Iya, dari gejalanya memang Ibu Yumna akan melahirkan, sudah pembukaan keempat."
Yumna dan Arkhan merasa senang.
"Jadi kira-kira berapa lama lagi bisa masuk meja operasi?" tanya Arkhan kepada sang dokter.
"Emm, Dokter. Kalau saya mau lahiran normal apa bisa? Nggak ada masalah kan kalau lahiran normal saja?" tanya Yumna kepada dokter tersebut. Entah kenapa rasanya dia enggan untuk melakukan operasi karena yang sesungguhnya Haidar lah yang mengajukan dirinya untuk melakukan operasi saja karena kelahiran anak kembar pertama mereka.
__ADS_1
"Tidak ada masalah kalau Ibu Yumna mau melahirkan normal. Kondisi ibu dan bayinya dalam keadaan yang baik."
Yumna tersenyum senang, dia meminta dokter untuk melakukan persalinan normal saja.