
Selesai mandi. Haidar membaringkan dirinya di belakang Yumna. Dia tidur dengan memeluk bantal guling, menatap punggung Yumna yang terlihat kulitnya yang putih.
Menghembuskan nafasnya beberapa kali.
Ah apa yang aku fikirkan? Biarkan saja, kalau dia ingin cerai. Ya cerai saja!
Tiba-tiba saja dia kesal saat lagi-lagi mengingat keinginan Yumna. Haidar membalikan dirinya dengan kasar ke arah lain hingga kini mereka saling memunggungi.
Hal itu membuat Yumna terbangun, karena merasakan kasurnya yang bergoyang. Dengan mata setengah mengantuk Yumna menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Haidar yang sudah tidur membelakanginya.
...***...
"Yumna, Haidar. Bagaimana keputusan kalian? Kalian gak jadi cerai kan?" tanya Mitha saat mereka semua sedang sarapan. Mitha berharap kedua anaknya ini membicarakannya baik-baik dan membatalkan rencananya itu.
"Kami sudah membicarakannya, Mi. Kami akan tetap berpisah." ucap Haidar.
"Yumna? Benar itu? Apa kalian tidak bisa perbaikan lagi?" tanya Mitha pada Yumna yang hanya diam.
"Kalian pasti hanya berfikiran pendek. Kalian butuh liburan, waktu kalian kan di pakai bekerja, hanya bertemu kalau malam saja. Ya. Haidar, biar Mami yang akan bantu untuk urus perusahaan. Kamu dan Yumna berlibur saja. Siapa tahu kalau kalian pulang dari sana, kalian gak akan berfikiran untuk bercerai lagi." ucap Mitha penuh harap.
"Maaf, Mi. Kami sudah membicarakannya baik-baik. Yumna kira kalau pernikahan kami di lanjutkan juga tidak akan baik. Semua memang sudah salah sejak awal. Yumna pergi ke kantor dulu ya, Mi. Pi." ucap Yumna seraya pamit dan berdiri. Dia meninggalkan ketiga orang itu yang kini hanya diam mematung di tempatnya.
Haidar melirik piring Yumna yang masih sisa setengah. Lagi-lagi rasa tak nyaman itu muncul.
"Haidar, apa maksud Yumna dengan sudah salah sejak awal? Apa kalian melakukan hal yang tidak-tidak, maka dari itu Yumna bilang seperti itu? Masalah apa sih yang kalian punya? Pasti semua bisa di perbaiki. Jangan senaknya bicara ingin bercerai!" Mitha meradang.
"Mami gak perlu tahu!" ucap Haidar lalu berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya. Mitha dan Arya saling memandang.
"Pi. Bagaimana ini? Bagaimana kita bisa bantu kalau mereka saja gak mau kasih tahu kita alasannya!" tanya Mitha.
"Mami tahu kan bagaimana sifat Haidar, biarkan dia tenang dulu. Mami dekati saja Yumna dan tanyakan alasannya. Mungkin Yumna lebih bisa di ajak bicara daripada Haidar." ucap Arya. Mitha melanjutkan sarapannya dengan tanpa minat.
...***...
__ADS_1
Haidar baru saja keluar dari rumah, dia melihat Yumna yang masih berdiri di pinggir jalan. Pasti menunggu taksi. Haidar berhenti di depan Yumna, menurunkan jendela setengah.
"Hei. Ayo gue antar!" ajak Haidar. Yumna tersenyum dan mengangguk Dia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
"Seatbelt-nya jangan lupa di pakai! Keselamatan itu lebih penting daripada jidat elu kepentok dashboard!"
"Iya, bawel!" ucap Yumna kesal. Pagi-pagi sudah mendengar omelan Haidar saja. Yumna menarik seatbelt dan memakainya. Sudut bibirnya tertarik sedikit ke samping.
Pun dengan Haidar, dia merasa senang jika Yumna kembali dengan muka masamnya.
"Haidar."
"Hem?"
"Mami marah."
"Bukan marah, tapi kecewa."
"Jadi gak enak sama mami dan papi." tutur Yumna.
"Lusa gue mau pulang ke rumah mama." ucap Yumna.
"Oh, oke gue anter. Ada acara apa? Mau nginep?" Tanya Haidar yang tak sadar dengan arti dari ucapan Yumna.
"Gue pulang dan gak kembali ke rumah mami."
Ciiittt.
"Awww!" Yumna memekik terkejut saat Haidar menghentikan laju kendaraannya. Seketika suara-suara klakson berbunyi nyaring dari belakang dan juga terdengar umpatan para pengendara kepada Haidar.
"Woy, Mas. Nyetir yang bener dong! Bahaya berhenti mendadak!" teriak seseorang.
"Gak bisa nyetir ya!" umpat seorang yang lain.
__ADS_1
Haidar tersadar, dia kembali melajukan mobilnya dan menepikannya di tepi jalan.
"Elo mau pulang dan gak kembali?" tanya Haidar. Yumna mengangguk.
"Iya, lah. Kalau gue masih di rumah elo, gimana mau fokus dengan perceraian kalau gak tega lihat wajah sedih mami. Gue lebih baik pulang supaya perceraian kita berjalan dengan lancar."
Haidar mengeratkan pegangan tangannya pada kemudi.
"Oke, kalau itu mau elo. Gue juga harus serahin elo balik sama Papa Bima." ucap Haidar lalu kembali melajukan mobilnya ke jalanan yang mulai ramai.
Hanya diam yang menyelimuti mereka hingga pada akhirnya mereka sampai di pelataran kantor Yumna.
Yumna turun dari mobil Haidar. Haidar menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Nanti sore mau gue jemput gak?" tanya Haidar.
"Gak usah, lah. Gue pulang sendiri aja." jawab Yumna, Rasanya kecewa mendengar penolakan gadis itu.
"Ya udah, gue pergi ya!" pamit Haidar. Yumna mengangguk dan melambaikan tangannya pada Haidar.
Harus dibiasakanYumna! Dulu juga kamu berangkat dan pulang sendiri! batin Yumna lalu melangkahkan kakinya ke dalam area kantor.
...*...
"Pagi Pak Haidar!" sapa Tina si sekretaris dengan ramah saat Haidar baru saja sampai.
Brakkk!
Tina menggelengkan kepalanya saat Haidar menutup puntunya dengan kasar. Lagi-lagi datang dengan muka masam. Alamat akan kena semprot sebentar lagi.
"Tinaaaa!!!" teriak Haidar dari dalam ruangan.
Tuh, kan!
__ADS_1
"Iya pak!" seru Tina seraya bangkit dari kursinya.
"Bismillah, jauhkan hamba dari setan yang terkutuk, ya Allah!" doa Tina sambil membuka pintu.