
"Yumna, soal yang tadi siang gue minta maaf!" ucap Haidar.
"Gue gak sadar kalau gue udah kasar sama elo. Dan gue juga ingkar janji sama elo. Maafin gue!" sesalnya. Haidar menahan nafasnya menunggu jawaban dari Yumna.
Yumna menghentikan gerak jarinya pada ponselnya. Dia menyusut satu bulir air mata yang entah sejak kapan keluar dari mata cantiknya.
"Gue udah maafin elo!" ucap Yumna membuat Haidar merasa lega luar biasa.
"Haidar. Mari kita bercerai." Yumna menambahkan. Haidar terkesiap mendengar perkataan Yumna. Dia terbangun seketika duduk dan menghadap ke arah Yumna.
"Apa elo bilang?" tanya Haidar, dia menarik bahu Yumna memaksa gadis itu supaya berputar menghadapnya.
Yumna menundukan pandangannya, dia menghela nafasnya berat.
"Gue bilang. Ayo kita bercerai!"
"Kenapa?" lirih Haidar.
"Karena elo udah melanggar janji elo." ucap Yumna, kini dia berani menatap Haidar.
Haidar menggelengkan kepalanya. Rasanya tidak terima dengan permintaan Yumna.
"Kenapa? Elo gak mau? Suatu saat kita juga harus berpisah, Haidar. Gue rasa ini saatnya sebelum kita terlanjur membuat kesalahan." ucap Yumna.
Haidar masih terdiam, begitu juga dengan Yumna.
Sedari siang tadi Yumna sudah memikirkan hal ini. Kali ini dia harus yakin dengan perceraiannya.
Sungguh dia tidak mau keduanya sampai merasakan penyesalan pada akhirnya. Apalagi dia tahu dengan kemarahan Haidar yang bisa saja membuat dia tak bisa mempertahankan dirinya dan kemudian terjebak dengan Haidar untuk waktu yang lama.
Haidar masih terdiam. Yumna terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Lagipula apa yang Yumna katakan mungkin benar. Cepat atau lambat perpisahan akan terjadi juga. Dia sadar perlakuannya pada Yumna sudah di luar batas. Bahkan dia sudah berani meninggalkan Vio saat di kafe tadi.
Akh... Vio .... Dia jadi ingat dengan pembicaraannya tadi siang dengan kekasihnya itu. Dari nada suaranya dia terdengar cemburu.
Bercerai .... bercerai ...
Memikirkan hal itu membuat emosi Haidar naik turun.
"Oke. Kalau memang itu yang elo mau. Kita akan ajukan perceraian kita ke pengadilan secepatnya!" ucap Haidar emosi lalu dia berdiri dan meninggalkan Yumna dengan membanting pintu kamarnya.
Yumna menatap pintu yang baru saja tertutup dengan keras. Dia menghembuskan nafasnya. Menghalau rasa sesak yang kini menyelubungi hatinya.
__ADS_1
'Kenapa rasanya sesak sekali? Harusnya aku senang kan dia setuju dengan perceraian ini?' batin Yumna, dia memegangi dadanya yang kini terasa sakit. Mata Yumna memanas dan siap meluncurkan cairan hanya yang bening lagi.
"Ada apa denganku?" Yumna tertawa lirih, dia lantas menyusut sudut matanya yang basah.
Haidar berjalan menuruni tangga dengan langkah kasarnya. Mitha yang masih menonton acara sinetron dengan Bi Nah terusik dengan langkah kaki Haidar yang berisik.
Brukk!!
Pintu kamar tamu di tutup dengan kasar oleh Haidar. Mitha dan Bi Nah saling berpandangan, lalu kembali mengalihkan tatapan mata mereka ke arah pintu kamar.
"Ada apa lagi ya Bi dengan mereka?" tanya Mitha.
"Tidak tahu, Bu. Sepertinya mereka masih marahan!" tutur Bi Nah. Mitha menyandarkan dirinya dengan kasar pada sandaran sofa.
"Hahhh .... Apa aku harus turun tangan dengan urusan mereka? Aku tidak tahan kalau mereka saling marahan!" geram Mitha mengusap wajahnya kasar.
"Lebih baik jangan. Biarkan mereka belajar untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri." Bi Nah menyodorkan air putih pada majikannya.
"Tapi aku tidak tahan, Bi. Rasanya rumah jadi angker kalau mereka marahan seperti itu!" Mitha lalu meminum airnya dan menyerahkan lagi pada Bi Nah.
"Iya, ya. Coba kalau mereka akur kan enak, rumah jadi ceria seperti biasa." ucap Bi Nah.
Haidar menghempaskan dirinya dengan kasar di atas kasur. Rasanya ingin marah karena Yumna menginginkan bercerai darinya.
Haidar meremas tangannya pada seprai. Dia merasa geram sendiri.
Keesokkan harinya. Haidar dan Yumna berangkat ke kantor bersama-sama. Namun tidak seperti hari biasanya, mereka hanya diam dari sejak sarapan bersama sampai masuk ke dalam mobil. Mitha sampai menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan kedua anaknya itu.
Haidar dan Yumna sudah berada di dalam mobil. Mereka hanya diam sampai mereka tiba di tempat tujuan.
"Nanti malem gue akan bilang sama mami kalau kita akan berpisah!" ucap Yumna membuat Haidar mengeratkan pegangan tangannya pada kemudi.
"Terserah!" ucap Haidar. Yumna ke luar dari dalam sana tanpa menoleh lagi ke belakang. Haidar melajukan kendaraannya dengan cepat keluar dari area perusahaan itu. Dia merasa marah saat Yumna kembali mengatakan hal itu.
Malam tiba. Setelah makan malam Yumna dan Haidar menghadap mami Mitha dan menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"APA!!" suara Mitha terdengar melengking di udara. Yumna hanya Menundukan kepalanya sedangkan Haidar mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kalian bercanda! Mana boleh seperti itu. Kalian ini baru menikah kurang dari tiga bulan sudah mau bercerai?!" Mitha merasa marah dengan keputusan kedua anaknya. Ibaratkan hanya karena gerimis kecil mereka meminta berpisah? Dadanya kembang kempis merasa emosi. Mitha tak rela kedua anak itu berpisah.
Yumna hanya bisa meremas ujung bajunya. Ia sudah mengira mami pasti akan marah!
__ADS_1
"Kami merasa tidak cocok satu sama lain, Mi." ucap Haidar. Hanya itulah alasan yang bisa ia berikan pada maminya.
"Gak cocok?! Kalian itu kan pacaran udah lama dan kalian bilang gak cocok?" tanya Mami Mitha meradang.
"Itu kan pacaran Mi. Tahu kan kalau lagi pacaran bagaimana. Ingin cepat menikah dan kami juga gak tahu kalau akhirnya seperti ini," ucap Haidar. Dia melirik ke arah Yumna dengan kesal. Yumna membuat dia terpaksa menyetujui perceraian ini lebih cepat dari perjanjian.
"Mami gak setuju! Kalian gak boleh cerai! Mami gak setuju! Pokoknya gak setuju!" teriak Mitha kemudian bangkit berdiri.
"Apa yang gak setuju, Mi?" papi Arya baru saja datang kembali dari luar kota. Mendengar suara sang istri yang berteriak keras hingga terdengar keluar, membuat dia setengah berlari dari depan.
"Tanyakan saja sama mereka! Pokoknya mami gak setuju! Yumna. Haidar. Mami harap kalian bicarakan lagi baik-baik keputusan kalian. Jangan membuat keputusan dengan seenaknya." Mitha kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.
Papi Arya melonggarkan dasinya. Dia kemudian melipatnya dan menyimpannya dalam saku kemejanya.
"Apa yang kalian lakukan sampai mami marah seperti itu?" tanya Arya masih berdiri di tempatnya.
"Kami mau bercerai, Pi!" tutur Haidar dengan santainya.
"Cerai? Kalian bercanda!" seru papi tak percaya menatap Haidar dan Yumna bergantian.
"Kami tidak bercanda. Kami memutuskan untuk bercerai." ucap Haidar.
"Yumna. Benar apa kata Haidar?" tanya Papi Arya. Yumna mengangguk membenarkan pertanyaan papi.
"Iya, Pi. Kami ingin bercerai."lirih Yumna.
Papi Arya menggelengkan kepalanya mendengar keputusan kedua anak itu.
"Kalian itu baru saja menikah. Wajar jika ada masalah dan kalian marahan, tapi semua itu kan bisa di bicarakan dengan baik-baik. Gak perlu sampai kalian berpisah seperti itu. Mami dan Papi juga pernah bertengkar seperti kalian, tapi kami tidak pernah sampai ingin berpisah selama masalah itu bisa kami selesaikan. Fikirkan baik-baik. Pernikahan itu bukan untuk main-main. Bukan untuk coba-coba!" tutur Papi Arya. Yumna dan Haidar hanya diam.
"Malam ini fikirkan baik-baik. Dan bicarakan berdua. Papi mau besok pagi kalian tidak membahas soal perceraian lagi!" ucap Papi Arya lalu meninggalkan Yumna dan Haidar berdua disana.
Arya pergi ke kamarnya. Mitha terlihat duduk di tepi ranjang, masih emosi. Arya menyimpan tas dan juga jasnya di sofa, lalu dia mendekat ke arah dimana istrinya berada.
Arya menjatuhkan dirinya di atas kasur yang empuk hingga tubuh Mitha melonjak sedikit. Dia sangat lelah hari ini, pekerjaannya dan juga perjalanan yang cukup jauh menguras tenaganya. Apalagi saat pulang ke rumah mendapati masalah kedua anaknya yang ingin bercerai.
"Pi. Mami gak mau sampai mereka bercerai, Pi!" ucap Mitha dengan emosi yang meluap.
"Papi juga gak mau. Tapi kita harus serahkan semuanya pada mereka. Kita hanya harus membimbing mereka, tapi juga tidak boleh ikut campur dengan permasalahan mereka." ucap Arya dengan bijaknya.
Haidar dan Yumna masih terdiam di tempatnya dengan pemikiran masing-masing. Mereka tak berbicara sama sekali, sampai akhirnya Haidar memutuskan untuk bangkit berdiri.
__ADS_1
"Gue keluar dulu. Kalau mami tanya. Gue nginep di tempat Agnes." ucap Haidar, tanpa menunggu jawaban Yumna dia pergi keluar dari sana.
Yumna hanya memandang punggung Haidar yang kemudian menghilang di balik pintu.