YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
270. Pelukan Hangat


__ADS_3

"Mami mau cobain, kita juga coba, yuk!" ujar Haidar dengan senyuman jahil di bibirnya, tak lupa dengan gerakan alis yang naik turun serta menyenggol bahu Yumna.


"Gak mau, ih. Kamu tuh ya. Masa mau langsung pake yang kayak gitu? Encok nanti!" tolak Yumna. Haidar terkekeh mendengar Yumna yang bersungut seperti itu.


"Kan kata Mami, suruh cobain. Siapa tahu nanti butuh garansi karena cacat produksinya, jadi kita bisa ajukan ganti yang baru ke tokonya," ucap Haidar kepada Yumna.


"Dah gak perlu, aku gak mau sakit pinggang gara-gara kursi itu. Kamu aja yang main sendiri!" ucap Yumna lalu menyingkir dari hadapan Haidar.


"Eh, Sayang. Mau kemana kamu?" tanya Hiadar pada Yumna yang telah menjauh.


"Mandi," jawab Yumna. Haidar tersenyum jahil dan mengikuti Yumna ke arah kamar mandi.


"Aku juga mau ikut!" ucap Haidar. Yumna yang mendengar ucapan Haidar segera melarikan dirinya dengan cepat dan masuk ke dalam kamar mandi sebelum laki-laki itu berhasil mengikutinya.


Pintu ditutup sebelum Haidar bisa masuk ke dalam sana. "Yang! Kok ditutup pintunya?" tanya Haidar samvbil menggedor pintu kamar mandi tersebut.


"Enggak! Kamu mandi sendiri aja nanti!" teriak Umna dari dalam kamar mandi. Dada Yumna berdebar dengan sangat keras. Dia masih belum siap jika harus mandi berdua dengan Haidar. Benar-benar belum siap jika ....


"Ah, ampun pikiranku jadi kotor," ujar Yumna sambil menggelengkan kepalanya. Bukan dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia wanita dewasa yang bisa berpikir dengan sangat jelas. Bayangan olah raga berdua di dalam air terlintas di kepalanya.


Haidar tersenyum geli di luar kamar mandi, melihat Yumna tadi yang berlari dan langsung menguinci pintu kamar mandi membuat dirinya ingin tertawa. Ini hal yang sangat langka yang bisa membuatnya tertawa.


"Awas aja, sekarang gak mau mandi bareng, gak lama lagi malah nagih minta mandi bareng," ucap Hiadar sambil terkekeh pelan.


Selesai dengan mandinya, Yumna perlahan membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke luar. Dia ingin melihat apakah ada Haidar di sana. Masih sedikit canggung dan malu dengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Tidak ada," gumam Yumna saat tidak melihat Haidar di ruangan tersebut. Yumna melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah lemari dan mencari pakaian tidur yang akan dia kenakan. Sesekali menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Aman, aku harus cepat. Duh, tadi lupa gak bawa baju ke kamar mandi," gumamnya lagi. Dengan cepat Yumna memakai dal*man milliknya, dia memakainya dengan cepat sambil melirik lagi dan lagi, tanpa Yumna sadari jika ada sepasang mata sedang tersenyum di luar kamarnya menatap sang istri yang celingukan sambil memakai pakaiannya dengan cepat.


"Awww!" teriak Yumna terkejut saat ada sepasang tangan besar meligkar di perutnya saat dia tengah memakai pakaiannya. Dadanya seketika kembali berdebar saat merasakan hangat pelukan dan juga napas yang berasal dari laki-laki yang ada di belakangnya.


"Ha-Haidar ...."


"Jangan bicara. Izinkan aku peluk kamu sebentar saja. Aku sangat rindu sekali sama kamu, Yumna," ucap Haidar.


Yumna berdiri mematung, dia tidak bisa bergerak, tangannya menahan handuk yang ada di depan tubuhnya, takut jika benda itu akan merosot dan membuat buah yang ada di depan tubuhnya itu terlihat. Dia belum beruntung rupanya. Dia kira Haidar tidak sedang berada di ruangan itu, nyatanya baru celana piyama panjang yang dia kenakan, atasan belum dia pakai sama sekali, dan Haidar sudah ada di sana. Akan tetapi, kenapa dia tidak melihat laki-laki itu masuk ke dalam kamar?


"Haidar."


Tanpa Haidar sadari, hidung itu kini semakin menempel pada kulit leher Yumna dan baru saja dia memberikan kecupan kecil yang membuat bulu roma Yumna meremang. Yumna tidak bisa lagi menahan diri, lututnya sudah lemas dan gemetar memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Haidar memberikan warna merah pada leher Yumna tanpa dia sadari. Dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya saat ini. Melihat kecantikan istrinya dan juga rambut basah Yumna menjadikan Haidar sangat suka sekali. Seksi menurutnya.


Haidar melepaskan tubuh Yumna, memutar tubuh istrinya itu sehingga kini menghadap ke arahnya. Tatapan mereka bertemu dan hal itu membuat Yumna terkunci dan tidak bisa bergerak. Yumna tidak bisa menolak saat Haidar emndekat dan mencium bibirnya hingga tanpa sadar dia sudah terdorong punggung Yumna ke pintu lemari. Suara d*sah dan decap ciuman itu terdengar dengan sangat jelas sekali. Tak ada lagi pemikiran takut dalam diri Yumna, bahkan dia kini sangat menikmati sekali apa yang dilakukan suaminya ini kepadanya.


Ciuman Haidar kini mulai turun ke lehernya, Yumna tidak akan lagi menolak jika memang ini saatnya untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada suaminya ini. Rasa hangat, rasa nikmat, rasa nyaman, dia rasakan kini. Kecupan ringan dan membekas Haidar berikan di leher istrinya, sehingga Yumna mengeratkan handuk pada tubuhnya. Haidar mengambil tangan Yumna yang ada pada handuk, dia menekan bahu Yumna lebih dekat lagi sehingga tubuh mereka kini semakin dekat.


Kruuukkk ....


Suara perut dari Yumna terdengar dengan sangat jelas, membuat Haidar menghentikan aksinya, dia urung membuka handuk yang masih melilit tubuh Yumna. Di tatapnya istrinya itu yang kini juga melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu lapar?" tanay Haidar, Yumna merasa malu, tapi akhirnya menganggukkan kepala.


"Maaf," ucap Yumna sambil tersenyum malu. Dia menyesal di saat yang seperti ini malah ada satu yang mengganggunya. Haidar tersenyum dan mengusap kepala Yumna dengan lembut.


"Gak apa-apa, makan dulu, yuk. Kamu tadi siang gak bener kan makannya?" ucap Haidar. Laki-laki itu kini mengambilkan pakaian Yumna yang tadi terjatuh ke lantai akibat terkejut tadi. Dia memakaikan piyama berkancing itu pada kedua bahu Yumna.


"haidar!" pangiil Yumna sambil menarik lengan Haidar saat suaminya itu hendak pergi. "Apa kamu marah?" tanya Yumna dengan rasa bersalah.


"Marah?"


Yumna menunduk takut, takut jika dia melihat wajah kecewa suaminya itu.


"Aku gak marah, lagian memang kalau kamu lapar bisa menyaingi aku di atas kasur?" tanya Haidar sambil terkekeh menatap wajah istrinya yang berubah merah.


"Ih, kamu nih. Aku–."


"Aku gak marah, Sayang. Justru aku tuh sayang sama kamu. Kamu lapar gitu, nanti kan kalau sudah anu-anu kamu tidur, besok pas bangun lemes, dong." Haidar tersenyum lalu mengecup bibir Yumna sekilas.


Bukan hanya perkataan Haidar saja yang membuatnya terkejut, tapi juga perlakuan Haidar yang barusan membuat Yumna tidak percaya karena telah dicium oleh laki-laki itu.


"Aku pesankan makanan, kulkas juga masih kosong, kan?" tanya Haidar yang membuat Yumna menepuk keningnya.


"Astaga! Aku lupa buat minta mbak isi kulkas," seru Yumna. "Maaf, Haidar. Aku lupa." Yumna merasa sangat bersalah dengan hal tersebut. Dia masih belum bisa menjadi istri yang baik, bahkan untuk urusan kulkas saja dia masih lupa mengisinya.


"Gak apa-apa, pesan makanan sana biar cepat kita makan. Kalau belanja dulu, masak dulu, kapan kita makannya? Aku pesankan. Kamu cepat pakai baju dulu," ujar Haidar. Yumna menatap Haidar yang kini telah pergi ke tepi kasur untuk memesan makanan.

__ADS_1


__ADS_2