
Seharian ini Haidar disibukkan dengan pekerjaan. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan apa lagi minggu depan dia berencana untuk pergi bersama dengan Yumna untuk honeymoon yang dia sendiri masih bingung akan pergi ke mana. Bertanya kepada Yumna pun rasanya tidak akan menjadi sebuah kejutan, apa lagi saat sebelum tidur Yumna mengatakan terserah dia saja.
"Ah, aku bingung, gimana kalau ngajak pergi, tapi Yumna pernah pergi ke sana? Kan nantinya nggak surprise juga," ujar Haidar.
Pekerjaan di sore ini dia ambil dan baca, tapi lagi-lagi pikirannya tertuju pada tempat yang akan mereka kunjungi nantinya. Padahal belum tentu juga jika Yumna telah pergi ke tempat itu.
Dia merasa kebingungan, gumaman Yumna semalam membuatnya mengingat kata itu. Entahlah, rasanya kata 'are' bukan kata yang biasa dipakai orang lain, kecuali ukuran tempat kan?
"Are?" gumam Haidar lagi sambil mengetuk pulpen ke keningnya. Kata itu terus terpikir di dalam ingatannya. Jika bermimpi, untuk apa Yumna mengatakan are?
'Are. Luas? Apa yang luas? Apa Yumna ingin beli tanah?' batin Haidar. Akhirnya Haidar menepiskan pikirannya itu meskipun dia juga merasa bingung.
"Apa aku tanya Syifa, ya? Atau Mama Lily?" gumamnya lagi di tengah bacaan yang ada di tangannya.
"Eh, nanti kalau ada yang bilang sama Yumna gimana?"
Haidar menjadi galau sendiri.
Ketukan di pintu terdengar dengan pelan saat Haidar belum selesai dengan pekerjaannya, tak lama seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa kopi yang Haidar pesan tadi.
"Sore, Pak Haidar." Wanita itu masuk dan menyimpan secangkir kopi tersebut.
"Sore. Terima kasih, Mbak," ucap Haidar tanpa menolehkan kepalanya.
"Apa Bapak akan lembur?" tanya sekretarisnya itu.
"Iya, tapi nggak akan sampai malam, kok."
"Apa saya juga harus ikut lembur?" tanya wanita itu lagi.
Kali ini Haidar mengalihkan tatapannya dan tersenyum kecil. "Tidak usah, Mbak pulang saja. Anak-anak pasti sudah menunggu di rumah," jawab Haidar. Wanita itu terlihat enggan, tak enak hati rasanya jika atasan lembur sedangkan dirinya tidak bisa membantunya. Terlalu baik Haidar sehingga jika sedang ada jam tambahan dirinya tidak pernah disuruh ikut lembur.
"Bapak yakin saya nggak usah lembur?"
"Iya, tidak usah. Saya kan tadi sudah minta Mbak buat siapkan sebelumnya, lagian ini juga bukan pekerjaan yang sangat mendesak. Santai saja dan pulang," titah Haidar lagi. Akhirnya wanita yang usianya empat tahun di atas Haidar itu pergi dari sana untuk pulang.
Jika di perusahaan lain, seorang sekretaris adalah wanita muda dengan status single, berbeda dengan perusahaan ini. Setidaknya setelah Haidar yang memegang perusahaan, semua aturan berubah. Dari segi berpakaian para karyawan dia ubah, tak ada lagi baju ketat dan kurang bahan, tak ada rok yang terlalu tinggi sehingga memperlihatkan area paha terlalu banyak. Make up dan perhiasan yang tidak boleh berlebihan. Sekretaris yang dulu juga digantikan dengan wanita yang telah menikah, itu bertujuan untuk menghindari kecemburuan yang bisa saja terjadi terhadap dirinya. Akan tetapi, hal itu sepertinya tidak pernah terjadi, tak ada kata cemburu dari mulut istrinya selama ini, dan hal itu membuat Haidar merasa aneh.
__ADS_1
Dia diam-diam ingin juga dicemburui oleh sang istri, seperti yang terjadi kepada Papi Arya yang sering dimarahi oleh Mami Mitha. Terlihat manis jika melihat kedua orang tuanya itu. Yumna berbeda, dia seakan tidak pernah menampakkan kecemburuannya sama sekali.
Dering telepon terdengar dengan sangat nyaring sekali, Haidar mengambil ponselnya yang ada di sebelah laptop, tampak nama Papi Arya ada di sana.
"Kamu sudah memutuskan mau pergi kemana?" tanya Papi Arya dari seberang sana.
Haidar menghela napasnya dengan sedikit berat, kebingungan yang melanda sedari kemarin belum terpecahkan juga.
"Belum, Yumna ingin pergi ke tempat yang dingin, tapi aku bingung mau bawa dia kemana."
"Memangnya kalian nggak dibicarakan dulu berdua? Kenapa kamu yang harus bingung?" tanya Papi Arya.
"Kalau dibicarakan jadi nggak surprise dong, Pi. Aku tuh maunya bawa dia ke tempat yang dingin juga indah, yang bisa bikin dia tersenyum lebar dan mata berbinar. Kan rasanya senang tuh kalau datang ke sana dia terkejut dan bilang gini, 'Haidar. Ini indah banget! Aku suka. Makasih, Sayang.' Kan rasanya aku yang jadi suami gimanaaa gitu kalau lihat kejutannya berhasil," jawab Haidar.
Arya menggelengkan kepalanya dan berdecak. "Ya ampun, lebay!" ucap laki-laki itu. "Seharusnya kamu bicarakan lagi dengan Yumna. Kalau nggak dibicarakan mau gimana tau Yumna mau kemana. Kalian harus segera pergi, sebelum pekerjaan kamu akan semakin lebih banyak lagi akhir tahun nanti," tambah Arya.
"Iya, Pi. Kasih aku referensi deh, di mana tempat yang indah, tapi dingin," pinta Haidar.
Arya berpikir sebentar. "Kenapa harus dingin? Nggak ke tempat panas saja?" tanya Arya.
Tiba-tiba saja terdengar tawa terbahak-bahak dari papinya itu. "Ah, Papi tau. Papi ngerti sekarang!" seru laki-laki itu. Haidar semakin malu, meski tidak dilihat sama sekali oleh ayahnya itu.
"Apa kalian mau pergi main ski dan kereta luncur?" ujar Papi Arya.
Haidar terdiam menanggapi, dia yang tadi sudah malu luar biasa hanya terkekeh pelan dan mengangguk seakan Papi Arya bisa melihatnya dari sana.
'Aku kira Papi tau tujuan Yumna,' batin Haidar.
"Iya, itu dia, Pi. Bener, itu." Haidar membenarkan, bisa jadi juga jika Yumna ingin main salju selain main-main selain di atas ranjang.
"Coba tanya Agnes atau Ben," ujar Papi Arya.
Pembicaraan mereka terhenti karena Papi Arya sudah akan pulang, sementara Haidar kembali mengerjakan tugasnya hingga selesai. Tak lupa Haidar juga mengirimkan pesan kepada istrinya itu bahwa dia akan pulang terlambat.
Hp Haidar menyala, dia membaca balasan pesan yang Yumna berikan padanya.
[Beneran lembur?] Tulis pesan tersebut membuat Haidar mengerutkan keningnya.
__ADS_1
[Iya, aku lembur.]
[Fotoin.]
[Foto apa?] tanya Haidar dari pesan tersebut.
[Foto kamu di kantor sekarang.]
Kening Haidar semakin berlipat membaca pesan tersebut.
'Apa Yumna nggak percaya aku lembur?' Akan tetapi, dia melakukan hal itu juga demi menyenangkan hati istrinya.
***
Di rumah, Yumna tengah menanti balasan pesan dari Haidar, sedikit membuat kesal karena orang yang dia tunggu sedari pagi ternyata akan pulang terlambat.
Hp kembali menyala, tampak di sana Haidar mengirimkan foto dengan gaya yang cool sedang mengetik di laptopnya.
Dia tersenyum senang setelah melihat gambaran suaminya di sana.
***
Haidar telah pulang ke rumahnya menjelang malam, dia merasa bersalah karena tidak bisa memasakkan makan malam untuk sang istri. Sebelum sampai di rumah tadi dia mampir sebentar ke sebuah restoran, membelikan makan malam untuk mereka berdua.
"Sayang! Aku pulang!" teriak Haidar setelah masuk ke dalam rumah. Yumna yang telah menunggu sedari tadi segera bangun dari duduknya dan mendekati Haidar, tiba-tiba memeluk laki-laki itu dengan erat dan terisak. Sontak Haidar menjadi bingung dengan kelakuan istrinya ini.
"Eh, kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Haidar khawatir, Yumna hanya menjawab dengan gelengan kepala saja, tapi tetap menarik napasnya keras sehingga terdengar suara khas saat cairan hidungnya tertarik kembali.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Haidar sekali lagi, Yumna menggeleng lagi.
...****************...
ngetik ya besok lagi yaðŸ¤, mau urus sebelah dulu, Morgan-Lyla sama Amara
Mampir sini dulu, sambil nunggu Yumna update lagi. Besok update nya 😅
__ADS_1