YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
353


__ADS_3

Haidar merasa kehilangan dan frustrasi semenjak tidak ada Yumna di sampingnya, bayangan wanita itu terus-menerus mengganggunya. Dia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang ini, semoga saja Yumna berada di dalam keadaan yang baik dan juga di tempat yang nyaman.


Pintu terbuka setelah terdengar ketukannya beberapa kali. Haidar terkesiap ketika sekretarisnya masuk ke dalam sana. Sepertinya dia melamun sedari tadi.


"Maaf, Pak. Saya sudah ketuk pintunya sedari tadi," ucap wanita itu seraya mendekat.


"Oh, ya. Tidak apa-apa. Maaf. Apa ada sesuatu?" tanya Haidar.


"Apakah berkas yang akan digunakan untuk rapat hari ini sudah Bapak cek? Bagaimana? Apakah masih ada yang kurang atau perlu di revisi?" tanya wanita itu lagi. Haidar tersadar dan menatap berkas yang sama sekali belum dilihatnya, hanay dibuka dengan tanpa minat.


"Saya belum membacanya," ucap Haidar. Sekretarisnya terpaku mendengar jawaban dari atasannya ini.


"Apakah Bapak ada masalah?" tanyanya lagi.


Haidar sedikit ragu, tapi akhirnya dia menyuruh wanita itu duduk di depannya.


"Duduk saja, saya ingin bertanya sebentar."


Wanita itu sedikit ragu, tapi dia menurut juga dan menunggu. Sepertinya ada sesuatu yang membuat atasannya ini sedari beberapa hari kemarin tidak fokus dengan pekerjaannya.


"Biasanya, kalau Mbak marah dengan suami, Mbak akan pergi ke mana?" tanya Haidar memberanikan diri, tentunya dengan malu-malu. Kini wanita itu mengerti, ternyata istri dari atasannya ini sedang pergi karena marah rupanya.

__ADS_1


"Tergantung sih, Pak. Kalau saya pribadi karena sudah punya anak ya nggak akan pergi, tetap bertahan karena adanya anak," jawab wanita itu yang membuat Haidar tidak puas akan jawaban yang dia terima.


"Tapi dulu waktu saya belum punya anak sih pernah juga pergi dari rumah, hehe," ucap wanita itu lagi dengan malu.


"Kemana?" tanya Haidar dengan cepat.


"Yang pasti saya nggak akan ke rumah orang tua karena saya nggak mau orang tua tanya soal saya pulang atau pergi dari rumah," ucap wanita itu lagi. Haidar menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Masuk akal juga dengan penuturan wanita ini.


"Terus kemana dong?"


"Saya lebih milih buat nenangin diri di tempat yang sepi."


"Bujuk dari telepon atau pesan udah, tapi sebelum saya tenang juga saya nggak pulang dulu sih. Maaf ya, Pak. Saya ini orang yang tenang, tapi kalau sudah disinggung dan disakiti sama suami, saya milih buat menyingkir, takut saya jadi beringas dan bicara kasar. Mungkin kalau istri Pak Haidar orang yang punya sifat kayak saya, mungkin loh ya Pak. Bisa jadi ada beberapa faktor sih kalau pergi, nggak ingin bicara kasar dan menyinggung pasangan yang mana akan membuat suasana menjadi lebih panas lagi. Kedua, ya pengen kasih tau aja sama suami kesalahan dia bagaimana. Biar mikir aja dengan perginya kita. Itu aja sih, butuh tempat tenang buat mikir kelanjutannya kayak gimana."


Haidar merasa salah tingkah dengan ucapan wanita tersebut, dan mencoba untuk menutupi. "Itu bukan cerita saya. Saya cuma tanya aja kok!" elaknya yang membuat sang sekretaris menahan tawanya, Haidar tidak bisa membohonginya karena dia lebih berpengalaman soal ini.


"Ya sudah, Mbak balik ke tempat lagi deh, ini saya kasih nanti."


Wanita itu kemudian pamit kepada Haidar.


"Oh, ya Pak. Satu lagi. Lebih baik Bapak siapkan hati deh."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Haidar bingung.


"Karena dalam diamnya wanita dan perginya dia bisa jadi kami para wanita sedang berpikir tentang masa depannya harus bagaimana. Saya pamit ya."


Sebelum Haidar bisa bertanya lagi, wanita tersebut sudah menghilang dari pandangan Haidar.


***


Sudah hampir satu minggu Yumna berada di tempat lain. Dia sedang menenangkan diri, meski rasanya salah karena telah pergi, tapi rasa egonya begitu besar. Tak ingin rasanya lelah mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu dan bisa membuat moodnya down.


Yumna menatap ke kejauhan sana, di mana banyak pepohonan hijau yang tampak teduh dari tepi jendela tempatnya berdiri sambil mengusap perutnya lembut. Dia memang merindukan suaminya, tapi nanti, tunggu sebentar lagi. Dia ingin tahu bagaimana hidup Haidar beberapa hari ini tanpa dirinya.


Suara dering telepon terdengar dengan sangat jelas dari ponsel milik Yumna yang berada di atas bantalnya, segera Yumna pergi ke sana dan mengambil benda pipih miliknya.


"Iya?"


"Oh, oke. Aku baik saja di sini. Tidak apa-apa," ucap Yumna, bagaimana dengan dia?"


"Hem. Aku tau."


Panggilan itu kemudian terputus. Yumna menyimpan kembali ponselnya di tempatnya semula.

__ADS_1


__ADS_2