
Haidar menerima pesan tersebut saat hendak akan pulang, dia sedikit kecewa membaca pesan dari Yumna. Inginnya pergi dengan Yumna untuk bersenang-senang. Akan tetapi, ada baiknya juga dengan bekerja maka akan membuat Yumna lupa soal anak.
Helaan napas terdengar dari mulut Haidar, dengan cepat membalas pesan Yumna.
Gak apa-apa. Kalau begitu makan malam nanti aku yang akan masak. Apa aku boleh jemput kamu? Ketikan balasan pesan dari Haidar.
Baru saja Haidar menyimpan hpnya, terdengar sebuah ketukan pada pintunya.
"Masuk," ucap Haidar. Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok sekretaris dengan tubuh molek yang kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Wanita itu mendekat dan berdiri di depan meja Haidar.
"Maaf, Pak. Ada tamu yang mencari Bapak," kata sekretaris Haidar sambil menatap kagum sosok bos barunya. Atasannya kali ini lebih muda dan juga lebih tampan daripada yang sebelumnya.
"Siapa?" tanya Haidar.
"Pak Mario, dari perusahaan Hartanto."
"Bukannya saya sudah bilang tadi pagi. Apa kamu tidak jelas mendengarnya?" tanya Haidar dengan nada yang dingin, seketika wanita itu terkesiap dan juga menunduk dalam. Jari tangannya saling meremmas satu sama lain di depan tubuhnya.
"Maaf, Pak. Saya hanya ingin memastikan kalau Bapak sedang tidak sibuk," ucap wanita itu dengan takut. Haidar menatapnya dengan tatapan yang dingin.
"Saya akan membawa Pak Mario kemari. Permisi," ucap wanita itu lagi, lalu segera pergi dari hadapan Haidar untuk membawa tamunya ke ruangan ini. Wajah Haidar yang tampan dan tampak seperti lelaki nakal, membuat wanita itu rasanya ingin selalu hadir dan mencari alasan untuk selalu menemui Haidar.
Huh, galak sekali! Padahal aku udah pakai baju ini. Apa masih kurang, ya? batin wanita itu seraya melihat pakaiannya yang semakin hari semakin tinggi. Dia menatap pintu yang baru saja ditutup, sedikit mencebikkan bibirnya, rasanya kesal juga jika lama-lama usahanya tidak diperhatikan oleh pria itu.
Haidar kembali kepada pekerjaannya. Kedatangan Mario di saat mendekati jam pulang kerja membuat Haidar mau tidak mau kembali mengecek berkas, bahan materi yang akan mereka bahas.
Huh, kenapa juga harus datang di jam sekarang sih. Haidar mengembuskan napasnya kesal, sedari siang Haidar menunggu, tapi laki-laki itu malah datang di saat dia ingin pulang. Dia hanya melihat jam yang terus berputar di tangannya. Jika pembahasan mereka akan lama, Haidar pasti akan terlambat juga untuk pulang.
"Selamat sore, Pak Haidar," ucap seorang laki-laki muda yang baru saja masuk ke dalam ruangan Haidar.
__ADS_1
Haidar memaksakan senyumannya, berdiri, lalu menyambut kedatangan laki-laki itu. "Selamat sore, Pak Mario. Apa terlalu sulit untuk menemukan jalan menuju ke sini?" tanya Haidar sambil mengulurkan tangannya.
Mario membalas uluran tangan Haidar. "Maaf, aku tadi ada urusan sebentar."
"Sebentar? Lebih baik jangan datang sekalian. Kamu tau ini jam berapa?" tanya Haidar sambil duduk di kursi kebesarannya, begitu juga dengan Mario yang tersenyum malu. "Ini sudah hampir jam pulang kerja. Sialan kamu!" cecar Haidar kesal.
Mario yang mendapatkan tatapan tajam dari Haidar hanya tersenyum terkekeh, tanpa dosa sama sekali. "Maaf, Bro. Tadi Sassy marah, gue gak bisa biarin dia kayak gitu. Masa depan gue sedang dipertaruhkan," ucap Mario sambil duduk di hadapan Haidar.
"Ah, elu. Alasan Sassy terus. Basi!" ujar Haidar tampak kesal. Mario tertawa sekali lagi sambil menggaruk belakang kepalanya.
Tak lama dari itu, sekretaris Haidar masuk kembali dengan membawa sebuah nampan berisikan dua buah cangkir teh hangat. Langkah kakinya yang jenjang mulai memasuki ruangan tersebut, pinggul yang berisi bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Silakan dinikmati teh hangatnya," ucap sekretaris tersebut sambil menyimpan cangkir di hadapan tamu dan juga Haidar. Senyum manis disuguhkan oleh wanita tersebut, membuat Mario bersiul sambil mengedipkan matanya.
"Apa ada yang harus saya lakukan lagi, Pak?" tanya wanita itu dengan nada yang sangat halus.
Mario menatap wanita itu tanpa berkedip. "Ada," jawabnya dengan cepat tanpa memalingkan wajahnya dari sekretaris Haidar yang cantik dan semok. "Temani malamku, mau gak?" tanya Mario tanpa malu sama sekali. Haidar yang melihat kelakuan dan ucapan Mario hanya menatap malas laki-laki hidung belang ini, sedangkan sekretaris Haidar tersenyum salah tingkah.
"Ah, kenapa wanita secantik ini hanya menjadi bawahan seseorang? Sayang sekali, padahal dalam gambaran ku kamu bisa lebih dari ini," ucap Mario semakin membuat dia salah tingkah.
Haidar tak tahan dengan pembahasan sampah dua orang ini. "Ekhem! Pak Mario, mari kita mulai apa yang seharusnya kita bahas," ucap Haidar.
Mendengar deheman dari atasannya ini, wanita itu segera menegakkan tubuhnya. "Saya akan kembali ke ruangan, jika ada yang diperlukan panggil saja saya," ucapnya lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan pergi dari sana.
Mario mengikuti kepergian tubuh semok itu dengan kedua bola matanya yang sayu.
"Sudah puas? Baru aja kamu resah sama masa depan kamu dan Sassy," ujar Haidar menatap Mario malas.
"Berani lapor, lihat aja apa yang akan aku lakuin besok!" ancam Mario.
__ADS_1
"Terserah, lagian kita tidak jadi kerja sama juga gak masalah," jawab Haidar acuh. Mario segera tersadar dan tersenyum kecil.
"Jangan lah. Aku udah jauh datang ke sini kok malah gak jadi."
"Lagian kamu udah telat 3 jam lebih, di dalam dunia bisnis seharusnya aku udah gak peduli lagi sama kamu," ucap Haidar. Dia tidak peduli seandainya saja kerjasama ini tidak akan berlanjut, tidak rugi juga kehilangan satu orang dengan jam karet seperti Mario.
"Jangan lah kejam macam tu. Awak kan baik, awak kan orang yang handsome, berbudi luhur. Tolonglah saya," ucap Mario dengan logat Melayu-nya yang sangat kental, tak lupa dengan tangannya yang terkatup rapat di depan dadanya. Tinggal bertahun-tahun di Singapura dan bergaul dengan orang Melayu membuat dia terkadang memakai bahasa tersebut.
"Ish, cepat. Apa yang mau kamu bahas?" ucap Haidar sambil melihat jam di tangannya. Sangat membuang waktu sekali berbicara dengan laki-laki ini.
"Soal kerjaan besok aja lah gue datang lagi, udah sore nih."
"Terus?" tanya Haidar bingung.
"Temenin gue malam ini yuk."
"Kemana?" tanya Haidar.
"Ada relasi gue yang ngajak meeting, cuma gue kayaknya butuh bantuan elo. Mau gak. Please!" ucap Mario lagi masih mengatupkan kedua telapak tangan di depan tubuhnya.
"Bantuan apa?" tanya Haidar sambil menyandarkan punggungnya.
"Temenin gue di meeting itu. Gue gak tau lagi harus minta tolong sama siapa klau bukan sama elo." Mario memohon dengan sangat.
Haidar menghela napasnya sedikit kasar. "Itulah gunanya elo gunain otak Lo, percuma belajar jauh, sekolah tinggi kalau gak dipake," ujar Haidar lagi. Mario bersungut, meski benar apa yang Haidar katakan barusan, dia yang dulu sering menyepelekan pekerjaan kini harus serius demi masa depannya.
"Dimana meetingnya?" tanya Haidar.
"Club Bintang Senja," ucap Mario.
__ADS_1
Haidar terdiam mendengar tempat tersebut.