YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
117. Aldy: Dia Orang yang Tak Baik!


__ADS_3

"Argghhtt..! Sialll!!!" Haidar membanting pintu kamarnya dengan keras. Dia sangat kesal sekarang. Mama tak mengizinkannya bertunangan dengan Vio, sedangkan papa... katanya mendukung, tapi sepertinya papa juga setuju dengan mama.


"Argghh!!!" Lagi-lagi berteriak kesal sambil menendang yang ada di hadapannya. bahkan sofa yang tak bersalah pun menjadi sasarannya.


Dada Haidar naik turun karena emosi, kepalanya berdenyut karena amarah. Dari dulu... Bahkan dari saat mereka masih SMA, mama tak pernah menyukai Vio. Entah kenapa. Padahal dulu Vio adalah gadis kalem yang banyak disukai orang-orang. Apa mungkin karena dia tak sepadan dengan keluarganya? Apa mungkin dia hanya gadis dari keluarga miskin?


Haidar mengusap wajahnya dengan kasar. Dia akan buktikan kepada mama jika apa yang mama pikirkan tentang Vio itu salah!


...***...


Yumna berjalan dengan anggun memasuki pelataran kantor. Beberapa orang yang mengenalnya menundukkan kepala dengan hormat. Takmenyangka jika sosok yang selama ini ada bersama mereka bukanlah orang biasa.


Tak ada lagi kaca mata besar yang menutupi wajah cantiknya, tak ada lagi rambut yang hanya di cepol atau di ikat tinggi-tinggi di atas kepala. Baju besar dengan model ketinggalan zaman. Dia kini menjadi dirinya sendiri.


Yumna Azzura Mahendra.


Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai, berkulit putih dan berparas cantik. Rambut tergerai indah sebatas punggungnya. Dia adalah seorang wakil CEO yang kini memiliki posisi sama pentingnya dengan sang papa.


Dion menunduk saat Yumna melewatinya. Tak dia sangka kalau ternyata dugaannya salah selama ini. Yumna bukanlah simpanan dari Bima Satria, tapi dia adalah putri pertama dari keluarga Mahendra. Yang dia tahu selama ini, putri Bima adalah Syifa, beberapa kali pernah datang ke kantor untuk menemui sang papa. Dan juga putra kembar Pak Bima. Dia tak menyangka kalau selama ini justru putri pertama Pak Bima adalah orang yang dia sukai. Yumna si Gadis Culun yang sederhana.


Dion menganggukan kepalanya saat Yumna melewatinya, Yumna balas mengangguk dengan keramahtamanahan semua karyawan papanya. Seperti apa yang selalu diajarkan oleh Bima, bahwa dirinya tak boleh memandang rendah meski mereka karyawan, justru pemimpinlah yang lebih membutuhkan bantuan dari para karyawannya. Tak ada karyawan maka sebuah perusahaan tak akan pernah berdiri.


Untuk menghilangkan segala hal yang mengganggu fikirannya, Yumna memutuskan untuk mengambil posisi yang dulu ditawarkan Bima. Ini lebih baik daripada dia terus saja memikirkan perceraiannya dengan Haidar, toh susah sendiri dengan memikirkan perasannya, lalu bagaimana dengan Haidar? Apa dia ingat dengan dirinya?


Yumna kini disibukkan dengan segala hal pekerjaannya, sampai-sampai Bima sendiri merasa kasihan karena Yumna bekerja terlalu keras. Antara menyukai pekerjaan dan juga pengalih perhatian, Yumna tak peduli jika dirinya pulang di jam sembilan malam. Arkhan dan Azkhan terkadang bergantian menjemput sang kakak jika sudah pulang larut malam.


Pintu di ketuk dari luar, selang berapa lama terbuka. Terlihat Bima masuk ke dalam dengan langkah lebarnya.


"Kita pulang sama-sama?" tanya Bima setelah sampai di depan mea kerja sang putri.


Yumna menatap jam di pergelangan tangannya, masih jam enam kurang sedikit.


"Nanti saja, Pa. Aku masih belum selesai dengan pekerjaanku."


Bima mendekat dan melihat apa yang Yumna kerjakan.


"Ini bukan pekerjaan mendesak, papa butuh ini juga masih lusa. Kamu bisa melanjutkan ini besok." ungkap Papa.

__ADS_1


"Tanggung, Pa. Papa puang saja duluan, setelah ini selesai aku akan cepat pulang." ucap Yumna seraya tersenyum. Papa menggelengkan kepalanya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa jika Yumna sudah memutuskan. Dia adalah cerminan dirinya dan juga Lily, dengan keras kepala seperti dirinya dan juga kegigihan yang besar seperti Lily.


"Ya sudah, papa akan minta Si Kembar buat jemput kamu, ya. Telfon saja kalau kamu sudah selesai." titah papa pada akhirnya. Yumna menganggukkan kepalanya.


Bima keluar dari dalam ruangan itu untuk pulang, sedangkan Yumna meneruskan pekejaannya kembali.


Ting...


Satu notif terdengar di hp Yumna. Meski dia merasa sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia selalu ingat dengan membaca pesan yang masuk ke dalam hpnya. Bagaimana jika pesan itu penting? Mungkin saja itu pesan dari adik kembarnya yang sudah datang menjemputnya. Yumna melihat jam di tangannya, ya ampun ini sudah hampir jam delapan ternyata. Dia sampai lupa waktu mengabari adiknya.


Yumna mengambil hpnya.


Aldy💌


Dia terdiam saat melihat satu nama yang ada di layar hpnya. Sudah sangat lama sekali saat terakhir dirinya menerima pesan dari Aldy. Saat acara lamaran dengan Haidar dulu. Akh... Jika dulu dia akan merasa senang dan berdebar saat mendapat pesan dari Aldy kenapa dia sekarang merasa biasa saja?


Aldy💌


Aku tunggu di bawah sekarang juga.


Yumna💌


Aku sedang sibuk.


Aldy💌


Aku tunggu sampai selesai.


Yumna menghela nafasnya. Dia tahu sifat Aldy, jika dia berkata menunggu maka pria itu akan menunggu. Ini sudah jam hampir jam delapan malam rencananya pulang satu jam lagi. Terpaksa dia bangkit dan membereskan tasnya. Dia tak mau membuat anak orang menunggu. Tak lupa dia juga menyimpan data pekerjaannya dengan aman di layar komputernya.


Aldy sedang berdiri dengan bersandar di pintu mobilnya. Dia sedang mengecek hpnya, satu tangan yang lain ia masukkan ke dalam saku celananya.


Jika dulu Yumna akan melihat hal itu sebagai hal yang keren, kali ini dia terlihat biasa saja.


"Al!" panggil Yumna. Yang di panggil menoleh ke arah asal suara. Dia tersenyum dan menjauhkan diri dari mobilnya.


"Aku kira kamu gak akan turun!" ucap Aldy, Yumna hanya tersenyum tanpa menjawab.

__ADS_1


Aldy membukakan pintu untuk Yumna. "Kita pergi!" ajaknya.


"Tapi Si kembar sebentar lagi jemput aku." tolaknya secara halus.


"Aku baru saja chat mereka berdua, mereka setuju aku yang jemput. Ada hal yang ngin aku bicarakan sama kamu juga." ucapnya.


Akhirnya Yumna mengangguk, entah pria ini akan membicarakan apa dengan dirinya.


Aldy membawa Yumna ke sebuah restoran, dia memesankan makanan kesukaan Yumna. Mereka makan malam bersama.


Mereka makan dengan diam, tak ada satu orang dari mereka yang berbicara hingga makanan mereka hampir tandas. Yumna menatap Aldy dengan bingung, sepanjang perjalanan tadi mereka diam, dan kini mereka makanpun masih diam. Apa yang pria itu mau?


"Kamu ajak aku kesini apa hanya untuk makan malam saja?" tanya Yumna akhirnya, dia tak tahan dengan kesunyian di antara mereka.


Aldy menelan makanan terakhirnya dan mengambil minum, ia tenggak perlahan minuman itu hingga benjolan di lehernya bergerak naik turun.


"Apa benar yang mami bilang kalau kamu dan Haidar berpisah?" Yumna tahu siapa mami yang Aldy maksud. Mami Celia. Akh... wanita tua itu tak bisa menjaga bibirnya!


Aldi anggap 'iya' dengan kediaman Yumna.


"Aku sudah sangka kalau dia bukan orang yang baik buat kamu! Makanya dulu aku gak ingin kamu melanjutkan pertunangan kamu dengan dia." ucap Aldy.


Yumna tertawa. Orang lain hanya tahu dia tak baik, tapi mereka tak tahu apa permasalahan yang mereka berdua alami.


"Itu maksud dan tujuan kamu ajak aku makan malam disini?" tanya Yumna. Aldy hanya diam, tak mengerti dengan apa yang Yumna bicarakan.


"Ini masalah aku dan Haidar. Kami memang akan berpisah. Aku sudah ajukan surat perceraian kami ke pengadilan. Dan mengenai baik atau tidaknya dia, aku yang tahu, aku yang faham, Al. Aku gak mau kamu menjadi seperti orang lain yang menilai sesuatu dari luarnya saja. Dia tak seburuk yang kalian lihat, kami hanya tidak cocok satu sama lain."


"Trimakasih atas makan malamnya." Yumna beranjak bangun dan melangkahkan kakinya meninggalkan Aldy yang terpaku terdiam di tempatnya, dia tak menyangka kalau Yumna ternyata masih membela lelaki yang tampak tak peduli padanya itu.


Dia segera keluar untuk menyusul Yumna, dia yang membawanya kemari, dan dia juga yang harus mengantarkannya kembali pulang. Sialnya Yumna baru saja masuk ke dalam taksi yang kini membawanya.


Yumna sudah masuk ke dalam taksi tak peduli dengan panggilan Aldy yang masih terdengar di luaran sana. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Menghirup dan mengeluarkan nafasnya dengan kasar.


Bukan dia membela Haidar. Tidak sama sekali. Tapi dia tak ingin Aldy menjadi orang yang punya pemikiran buruk. Mana Aldy yang bisanya cuek, mana Aldy yang biasanya menghiburnya meski hanya diam?


Aldy yang entah kemana selama dua bulan lebih ini dan kemudian muncul hanya untuk memberikan statementnya!

__ADS_1


__ADS_2