YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
11. Haidar


__ADS_3

Haidar menepikan mobil yang di kendarainya di sebuah apartemen mewah. Dia berjalan dengan santai sambil memutar kunci mobil di jari telunjuknya, sedangkan satu tangan lagi ia masukkan ke dalam saku celananya. Mulutnya bersiul dengan riang, dia berjalan menuju lift lalu menekan tombolnya. Menunggu hingga lift terbuka, dia mengecek hpnya. Beberapa notif dari orang-orang yang berbeda, dan juga dari orang yang membuat dia mendengus kesal. Haidar kembali memasukkan hpnya ke dalam saku celana. Pintu lift terbuka, Haidar masuk lalu menekan angka 21.


Sampai di lantai 21, Haidar melangkahkan kakinya ke sebuah unit lalu menekan tombol angka. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Haidar segera mendorong pintu itu lalu masuk ke dalam sana. Mengedarkan pandangannya ke semua tempat, tak ada siapapun seperti biasa. Tapi saat Haidar menyimpan kunci di atas meja terdengar suara aneh dari dalam kamar yang tidak tertutup rapat.


Haidar memutar bola mata malas. Dia sudah cukup hafal dengan kebiasaan orang yang menghuni apartemen ini. Terkadang mereka sangat sembrono tidak mengunci pintu. Pernah pada suatu hari Haidar melihat mereka sedang bercinta tanpa menutup pintu kamar dan tanpa mengunci pintu apartemen. Masih beruntung Haidar yang masuk kesana. Aaahh tapi bukan keberuntungan buat Haidar, karena mereka membuat Haidar panas dingin meski hanya sekilas melihat mereka saling menghentak, tapi Haidar pria normal. NORMAL!! Catat!


Haidar menunggu kedua orang itu selesai. Dia duduk di sofa dengan memasang headset di telinganya. Volume full. Itu lebih baik daripada dia mendengar suara jeritan dan pekikan aneh dari dalam kamar itu.


Merasa lapar, Haidar bangkit, membuka jas hitamnya dan menyimpannya di sandaran kursi, tanpa melepas headsetnya. Dia menuju dapur kecil terbuka yang ada disana. Membuka satu pintu lemari, beruntung masih ada stok mie instan disana.


Haidar merebus air, guna memasak mie instan itu. Dia begitu asyik membolak balikan mie di dalam panci sambil bernyanyi lirih mengikuti suara yang ia dengar di telinganya.


"Woyy!!!!" seseorang menarik kabel headset dari telinga Haidar dan memekik keras terdengar tepat di samping telinganya, hingga Haidar terlonjak kaget. Hampir saja dia menyenggol panci berisi mie itu.


"Gue tanya juga, diem aja sih. Bud*k!!" cercanya smbil tertawa karena melihat reaksi Haidar yang lucu menurutnya. Haidar memegangi dadanya yang naik turun, dengan mata melotot. Satu tangannya bertumpu pada meja kompor yang terbuat dari marmer berkualitas tinggi.


"Woyy, sadar lo!" ucap pria itu sambil menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Haidar. Haidar tersadar, dia mengelus dadanya yang berdetak dua kali lebih cepat.


"Apa sih bang! Ngagetin aja!" Haidar mengangkat sendok di tangannya dan hendak ia daratkan di wajah teman sekaligus abangnya itu.


"Oy, dasar Asem lo!" pekiknya lagi sambil menghalangi wajahnya dengan tangan. "Muka gue bisa bonyok!"


"Bodo! Elo dah bikin gue jantungan!" cercanya lalu mematikan kompor dan memindahkan lembaran mie itu ke dalam mangkok.


"Elo dari pesta tapi masih lapar?" tanyanya heran.


"Gue gak makan di pesta."


"Tumben." ucapnya sambil membuka kulkas dan mengambil minuman dingin di botol.


"Ada sesuatu!" ucapnya cuek, mengaduk mie dengan bumbu yang sudah ia masukkan di mangkok tadi.


"Apa?" menenggak minuman.


Haidar menoleh. "KEPO!"


"Sialan lo!" cercanya sambil melayangkan tinju di lengan Haidar. Haidar dengan santai melahap mie itu setelah meniupnya hingga tidak terlalu panas.


"Bang."


"Hem?" pria bernama Benjamin yang akrab di panggil Ben, hanya bergumam, mengeluarkan garpu dan menggulung mie dengan ukuran besar lalu melahapnya. "Apa?" bertanya dengan mulut penuh, sambil berusaha mengunyah.


"Yah, bang. Itu makanan punya gue! Main comot aja!" Cerca Haidar sembari menjauhkan makanan miliknya, ia menatap mulut Ben yang menggembung.


"Makanan punya elo, tapi ngambilnya di dapur gue?" sindir Ben setelah menelan makanannya. Haidar hanya terkekeh.


"Hehe, gue kan laper bang, lagian elo lama amat mainnya gak ada apa-apa lagi di meja makan. Jadi gue selaku tamu gak mau nyusahin tuan rumah!" menyengir dengan wajah tanpa dosa.


Ben memutar bola mata malas. Kebiasaan!


"Lagian elo bang, kalau mau main kuda-kudaan, di kunci kek pintunya, kebiasaan banget deh lo!"


"Udah di kunci, cuma kamar aja yang enggak!"


"Hooh. Mending kalau tertutup rapat. Ah kalian udah nodain mata gue yang suci ini."


"Preettt. Suci dari Hongkong!" cerca Ben.


"Yang bener Singapore bang. Singapore!" menekan kata Singapore dengan nada sok english nya. Haidar merasa bangga sambil menepuk dadanya.


"Cih, jijik! Singapore tapi gak di gunain sama sekali. Karatan lo, otak lo juga! wkwkwk!"


Haidar merasa kesal tapi dia malas untuk berdebat lagi.


"Agnes mana?" tanya Haidar, entah dia lupa atau pura-pura lupa.

__ADS_1


"Tidur lah. Dia capek, baru pulang dari perjalanan jauh." jawab Ben.


"Iya lah udah perjalanan jauh sampe disini malah elo kerjain juga, ya pasti cape lah!" sindir Haidar, yang di sindir hanya menyengir lalu menyesap minumannya.


"Apa kata si Ronald gue gak bisa dateng?" tanya Ben lagi.


Haidar baru saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ya, hak papahh!" susah untuk menjawab di karenakan mulutnya terlalu penuh.


"Telen dulu woy!" Haidar mengelak saat botol kosong milik Ben melayang ke dekat kepalanya. Dengan cepat Haidar mengunyah dan menelan.


"Gila lo bang, elo mau gue sesek nafas?" ujar Haidar setelah menghirup udara dalam-dalam.


"Lagian elo juga, kalau mau ngomong tuh telen dulu! Kayak gak di ajarin nyokap aja."


"Hehe. Sorry, laper!" tersenyum malu, "Ya kata si Ronald gak pa-pa. Berhubung si Agnes juga gak bisa datang dari kemarin-kemarin dan malah malam ini baru sampe, dia sih maklum. Cuma...." menggantung ucapannya.


"Apa?!" Tanya Ben tidak sabar. Tubuhnya condong ke depan.


"Hadiahnya aja, dia minta elo bayarin bulan madu ke Greenland."


Ben memundurkan tubuhnya kembali bersandar di kursi. "Cih, mau beku dia? Dasar modus!" mendecih sambil tertawa miring.


"Modus?" Haidar bingung.


Ben mengangguk. "Iya modus, kalau dingin kan bisa minta peluk terus, minta...." terjeda, melirik Haidar dengan tatapan mengejek "...wkwkwk."


Haidar merasa canggung dengan ucapan Ben. Dia memutar bola mata malas. Tahu akan kemana arah tujuan obrolannya nanti.


"Gue pulang bang!" Menghindar sebelum di ceramahi panjang lebar. Lagipula makanannya juga sudah habis. "Itu kunci mobil elo di meja, thanks ya!" Haidar bangun dari duduknya. "Dan sekalian, gue titip piring kotor." Haidar menyimpan piring bekas pakainya ke dalam watafel.


"Cihh, dasar! Elo pulang dari sini pake apa? Bawa aja itu mobil! Gue pake yang lain besok." titahnya, menatap punggung Haidar yang mulai menjauh.


"Ah ya, jasnya gue laundry deh besok, dan sekalian minta dianterin kesini sama tukang laundry gebetan abang! Bye!" Haidar cepat menghindar sebelum sandal rumah milik Ben berhasil mendarat di wajahnya dan hanya mengenai daun pintu. Ben hanya menggelengkan kepala menatap ke arah pintu dimana Haidar sudah tidak lagi disana.


"Cih anak itu! Menyebalkan, kalau saja bukan sepupu Agnes..." ucapannya terhenti, tangannya meremmas tisu yang ada di depannya.


"Untung Agnes tidur, bisa gawat kalau dengar tukang laundry sering godain gue!"


*


Haidar turun dengan lift ke lantai sepuluh dimana temannya yang juga teman Ben juga salah satu penghuni unit apartemen ini. Seperti di tempat Ben, Haidar juga hafal dengan nomor sandi unit ini. Dia segera menekan tombolnya dan beberapa saat menunggu Haidar masuk ke dalam sana.


Terlihat ruangan gelap gulita. Hanya ada satu lampu remang-remang di sudut ruangan. Darren memang tidak suka jika tidur dengan lampu yang terang. Dia seperti kelelawar gua yang lebih sering menikmati waktu kesendiriannya dengan kegelapan. 'Dark Devil Prince', julukannya. Kenapa? Karena dia pria brengsek yang suka kegelapan. Brengsek sebab di antara yang lainnya, dia lebih senang bermain wanita. Rasa sakit hati karena di tinggal saat hari pernikahannya hampir tiba membuat Darren menjadi seorang casaanova. Sialnya calon istrinya pergi dengan orang yang sudah ia anggap saudara sendiri.


Haidar berjalan ke arah kamar Darren yang terbuka, dia melihat kamar itu sangat berantakan. Sepatu wanita di depan kamar terpisah dengan sebelah lagi yang ada di dekat ranjang, tas, baju, dan underwear di lantai. Pria itu sedang tidur bertemankan seorang wanita.


"Ya sudah lah. Pasrah deh kalau denger suara yang mengerikan." Haidar berujar lalu menutup pintu kamar itu hingga rapat.


Menghela nafas lelah, ya memang dia lelah. Sangat lelah sekarang. Haidar membuka jasnya dan menyimpannya di sandaran kursi. Menjatuhkan dirinya di atas sofa, melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya.


Tak lama Haidar tertidur saat waktu sudah mendekati tengah malam.


Haidar bergerak saat dirinya merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bibirnya, helaan nafas seseorang begitu wangi tercium di hidungnya. Dan 'ouhhh aassshhhh'... tanpa sadar Haidar meracau dalam mimpinya, dia merasa nikmat saat sesuatu menghimpit miliknya, menjepit, dan membuat dirinya rileks...


Semakin lama semakin terasa nyata. Hingga suara seseorang membangunkan Haidar. Haidar terkejut luar biasa saat mendapati seorang wanita berpakaian minim tengah merangkak di atas tubuhnya. Memegang miliknya!


"Apa yang kamu lakukan?" Cerca Haidar mendorong wanita itu, hingga terjengkang.


"Awww." wanita itu terpekik saat bokong sintalnya menyentuh lantai.


"Vanya, jangan ganggu dia! Tidak cukupkah yang kau dapat dariku tadi?" tanya Darren dengan botol minuman di tangannya. Dia berjalan mendekat dengan memakai celana super pendek ketat, dengan kimono tidur yang sengaja tidak ia ikat, hingga terlihat otot-otot di tubuhnya yang menonjol. Bahkan Haidar selaku pria juga turut menikmati keindahan tubuh pria itu. Merasa iri dengan tubuh perfect Darren.


Darren mendudukan dirinya dengan angkuh di sofa, dia menaikan satu kakinya ke atas kaki yang lain.

__ADS_1


"Kabur lagi?" tanya Darren, membuat Haidar hanya bisa tersenyum.


"Darren, dia dorong aku tadi!" wanita itu berdiri dan dengan tak tahu malunya dia duduk di samping Darren, mengusap-usap lembut dada Darren dengan sikap sangat manja.


"Cih, mencari perhatian!"batin Haidar tak suka.


"Makanya lain kali jangan ganggu dia. Dia itu terlalu suci untuk kau lecehkan!" ucap Darren sambil menunjuk kening wanita itu. Wanita itu mengerucutkan bibirnya membuat Darren tertawa dan melahap bibir wanita itu di depan Haidar.


"Tidak tahu malu!" cerca Haidar sambil menuju ke kamar Darren. Darren hanya tertawa lalu melanjutkan aktifitasnya memagut bibir wanita itu.


"Kalian bermainlah di luar aku ngantuk!" Haidar menutup pintu kamar dengan kesal. Menendang pakaian yang menghalangi jalannya, lalu menjatuhkan dirinya di kasur.


"Tahu gitu mending gue nginap di tempat bang Ben! Disini gue malah hampir di perkosa." sesal Haidar. Lalu membungkus dirinya dengan selimut dan kembali tertidur.


*


Keesokan harinya di apartemen Ben. Bel di pintu terdengar nyaring beberapa kali. Ben yang baru saja selesai mandi, membuka pintunya. Terlihat seorang wanita cantik dengan dandanan berlebihan berseragam laundry tersenyum menatap Ben yang hanya terbalut handuk sebatas pinggang. Tatapannya terhenti pada roti sobek yang terpampang nyata di depannya.


"Ada apa?" bertanya ketus meski sebenarnya tahu apa yang di pegang wanita itu.


"Bang Ben, ini Sasi bawakan jas punya Bang Ben, Haidar tadi yang bawa ini ke bawah." ucapnya lembut, dengan nada di buat mendesah, tubuhnya tidak mau diam, menggeliat pelan kesana kemari seperti ulat.


"Oh ya. Trimakasih!" ucap Ben ketus lalu Menarik jas itu dari tangan Sasi, nama sebenarnya adalah Tati, tapi biar keren dia selalu menyebut dirinya Sasi. Ben hendak menutup pintunya, tapi di tahan oleh kaki Sasi.


"Ah bang Ben!" Sasi mengaduh berharap Ben sedikit bersimpati. Ben memutar bola mata malas. Dia tahu trik itu. Tidak hanya sekali dua kali wanita ini berbuat seperti itu.


"Apa lagi?" Ben mulai kesal.


"Anu bang Benh, ituhh... Haidar belum bayar jasnya!" Nada suaranya semakin mendayu.


"Tunggu sebentar!"


Blam.


Ben menutup pintu dengan keras. Sasi yang menunggu di luar merasa sedikit kesal, tapi kemudian tersenyum jika mengingat Ben.


"Siapa sayang?" tanya Agnes yang baru keluar dari kamar, wanita itu memakai baju tidur satin yang seksi dengan belahan dada rendah dan tinggi tepat di bawah bokongnya, dia malas memakai baju bagus jika di dalam rumah.


"Itu, Tati. Orang laundry. Antar jas yang di pakai Haidar kemarin."


"Ooh." Agnes berlalu.


"Sayang." memanggil Agnes. "Bisakah kamu kasih ini sama Tati?" Mendekati istrinya dan memberikan sejumlah uang pada Agnes.


"Aku malas ketemu dia!" ujar Ben.


"Dasar Haidar, dia benar-benar menyuruh wanita itu untuk datang kesini!" geram Ben tak suka.


Agnes mengambil uang itu lalu berjalan ke arah pintu. Pintu terbuka senyum Tati yang mengembang seketika sirna saat melihat wanita cantik nan seksi yang berada di dalam unit tempat Ben berada.


"Ini uangnya. Sudah pergilah jangan ganggu suamiku!"


Blam!!


Belum sempat bicara pintu tertutup dengan keras.


Agnes kembali ke dalam, dia menghampiri suaminya.


"Apa dia sering ganggu kamu?" tanya Agnes duduk di tepian ranjang.


Ben hanya mengedikan bahunya seraya berjalan ke depan istrinya.


"Haidar. Anak itu benar-benar berandalan!" kesal Ben. Agnes hanya tertawa sambil menyilangkan satu kakinya.


"Kalau dia tidak punya uang kenapa tidak meninggalkan jas itu disini semalam?" menggeram kesal. Agnes berhenti tertawa dia menggerakkan jarinya mengundang sang suami untuk lebih mendekat lagi.

__ADS_1


__ADS_2