YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
307


__ADS_3

Yumna telah selesai menyapu di halaman, dia kembali ke rumah dan pergi ke dapur untuk mencuci tangannya. Di belakang, Haidar mengikuti dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Makanannya enak nggak, Pak? Tadi saya beli di dekat perempatan sana tuh," ucap Yumna menunjuk dengan menggunakan dagunya. Pak Dani yang sedang mengunyah makanan menelannya dengan susah payah demi untuk menjawab pertanyaan dari sang majikan.


"Enak, Mbak. Makanan di sana emang enak banget," ucap Pak Dani sambil menganggukkan kepalanya.


"Bapak juga pernah beli di sana?" tanya Yumna.


"Iya, sesekali aja sih beli di sana, agak jauh jadi nggak berani kalau ninggalin rumah lama-lama," ucap Pak Dani lagi. "Mbak Yumna nggak makan sama Mas Haidar?" tanya Pak Dani bertepatan dengan keluarnya Haidar dari dalam kamar mandi.


"Saya sudah makan tadi di sana, Haidar juga sudah makan tadi sebelum pergi cari itu," jawab Yumna. Pak Dani hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan acara makannya kembali.


"Sayang, aku ke kamar dulu ya. Mau telepon mami," pamit Haidar, Yumna menganggukkan kepalanya dan memberikan hp dan dompetnya untuk disimpan ke dalam kamar.


"Titip, aku mau lap kompor dulu. Tadi lupa," ucap Yumna. Haidar pergi dari sana menuju kamarnya.


"Sudah, Mbak. Nanti saya yang bereskan dapur. Mbak Yumna istirahat saja dulu," ucap Pak Dani.


"Ah, sudah. Nggak usah. Bapak makan saja yang tenang, cuma lap kompor aja dikit kok." Tolak Yumna.


Pak Dani tersenyum senang, Yumna sama baiknya seperti sang ibu, tidak pernah semena-mena kepada bawahannya.


Wajah bekas memasak tadi pagi juga belum dicuci, Yumna mengambilnya dan hendak mencuci benda tersebut, tapi bekas bumbu yang dia lihat di sana rasanya menggoda juga untuk sekedar dia cicipi.


"Huwekk!" Yumna hampir saja muntah saat merasakan bumbu telur balado dari ujung telunjuknya, wajahnya terlihat aneh dan juga bergidik akibat rasa asin di mulutnya yang terlalu parah. Yumna segera menyimpan wajan itu lagi dan membungkuk di depan wastafel, berkumur-kumur dengan air yang mengalir dari kran.


Mendengar hal itu membuat Pak Dani bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Yumna dengan khawatir.


"Mbak Yumna kenapa?" tanya Pak Dani menepuk pelan pungung Yumna, refleks dia melakukan hal itu. Sadar dengan kelancangannya, Pak Dani menarik tangannya dan memilih mencarikan air minum untuk Yumna.


"Minum dulu, Mbak." Air yang ada di dalam gelas dia sodorkan kepada Yumna. Gegas Yumna menerima gelas tersebut dan meminumnya hingga setengah kosong.


"Makasih, Pak." Udara Yumna hirup dalam-dalam, sedikit sesak dan sakit di perutnya karena hampir muntah tadi.


"Mbak Yumna kenapa? Hamil?" tanya Pak Dani bingung. Melihat majikannya muntah-muntah seperti tadi membuat dia meyakini jika Yumna tengah hamil muda.


"Yumna menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Pak. Saya nggak hamil."

__ADS_1


"Terus tadi itu? Muntah-muntah?" tanya Pak Dani lagi.


"Saya mau muntah karena ini." Tunjuk Yumna pada wajah yang dia angkat di depannya. "Asin," terang Yumna.


Pak Dani mencolek bumbu merah tersebut dan mencicipinya, sedikit lebih banyaj dari yang Yumna tadi masukkan ke dalam mulutnya.


"Huweeekk. Asin!" seru Pak Dani sambil berdecap mulutnya, wajahnya meringis merasai asin yang teramat sangat di sana. "Pasti Mas Haidar ini ya yang masak? Asin banget, kayak sekarang ini kita lagi berenang di lautan," ucap Pak Dani lagi. Wajah Yumna seketika menjadi datar menatap Pak Dani sehingga membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya.


"Ini saya yang masak, Pak!" seru Yumna menatap dingin Pak Dani. Pria paruh baya itu menutup mulutnya. Salah. Seharusnya dia tidak mengatakan soal siapa yang masak, cukup asin saja. ASIN!


"Eh, saya kira ini masakan Mas Haidar. Maaf," ucap Pak Dani.


"Saya ... lanjut makan dulu ya, Mbak. Di pos saja sambil jaga, takut ada tamu yang datang," ucap Pak Dani lagi sambil bergeser dengan pelan ke arah meja dan mengambil piringnya, lalu dengan senyuman yang tampak kaku di bibirnya dia mulai pergi dari hadapan Yumna.


Yumna melirik wajan yang ada di tangannya, teringat jika Haidar telah menipunya tadi. Gegas wanita itu berjalan ke arah kamar dan mencari Haidar.


"Ada apa, Sayang? Nih aku lagi telepon sama Mami." Haidar tersenyum dan bingung saat melihat sang istri datang dengan wajah marah dan wajan di tangannya.


"Ini!" Tunjuk Yumna ke arah wajan tersebut.


Tubuh Haidar seketika menegang, melihat wajan itu rasanya dia tahu dengan apa yang telah terjadi. "Oh, aku lupa cuci itu ya?" Haidar menekan tombol mengakhiri panggilan, membuat Mitha yang ada di rumahnya berdecak kesal. Senyum di bibirnya tampak kaku.


"Aku cuci dulu, deh," ucap Haidar lalu bangkit dari tepi kasur. Dia hendak mengambil wajan tersebut, tapi Yumna menjauhkan wajan itu dari Haidar.


"Ni-nipu apa?" Haidar menelan ludahnya sedikit susah payah, tatapan Yumna bagai orang yang sedang kerasukan.


"Haidar!" teriak Yumna sambil mengangkat wajan itu ke atas kepalanya, Haidar terkejut dia menghalangi wajahnya dengan kedua tangan.


"Eh, Sayang?" ujar Haidar, dia mengira jika Yumna akan melayangkan wajan itu ke wajahnya, tapi Yumna kemudian berhenti dan menurunkan benda itu. Yumna terisak pelan dan terduduk di lantai.


Mendengar isakan Yumna membuat Haidar menurunkan tangannya saat tidak terjadi sesuatu yang tadi sempat dia bayangkan. Rasa khawatir semakin menjadi tatkala melihat Yumna dudu di lantai yang dingin.


"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Haidar. Gegas laki-laki itu mendekat ke arah Yumna dan memegang pundak istrinya.


"Kamu jahat!" teriak Yumna. "Jahat!" Tangisnya semakin kencang.


"Eh, aduh. Ini kenapa? Kok nangis? Aku jahat apa?" tanya Haidar dengan khawatir dan juga bingung.


"Ini!" Tunjuk Yumna ke arah wajan yang ada di lantai di sampingnya. "Kamu bilang enak, ini asin Haidar!" teriak Yumna.

__ADS_1


Pak Dani yang melanjutkan makannya di teras rumah mendengar tangisan Yumna, sempat laki-laki itu khawatir akan teriakan majikannya itu, tapi sedetik kemudian dia merasa lega jika itu bukanlah sesuatu yang harus dia khawatirkan.


"Ya ampun, ada apa dengan Mbak Yumna, ya? Biasanya aja nggak pernah nangis. Apa mungkin dia lagi hamil ya?" gumam Pak Dani berbicara sendiri dan kemudian kembali melanjutkan makannya lagi.


Haidar merasa bersalah dengan kejadian ini. Akan tetapi, dia hanya ingin membuat istrinya senang dengan menutupi rasa masakan tadi. Mana tahu jika akan seperti ini.


'Harusnya tadi aku juga cuci wajan itu. Kenapa sampai terlewat sih,' gumamnya kesal kepada dirinya sendiri.


"Sayang. Maaf," ucap Haidar sambil duduk di depan Yumna.


"Jahat!" Yumna masih sesenggukan.


Haidar mengambil tangan Yumna dan mencium punggung tangannya dengan lembut.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku cuma nggak ingin mood kamu jadi turun. Kamu udah susah payah masakin aku makanan, aku harus hargai perjuangan kamu, kan?" ujar Haidar menenangkan sang istri yang dia sendiri bingung kenapa dengan sikap Yumna yang seperti anak kecil.


"Tapi- tapi kamu ... ini asin, Haidar! Aku aja mau muntah!" Yumna menangis lagi. Rasanya sangat bersalah sekali menyajikan makanan yang buruk untuk suaminya itu. Dia mencoba mengingat, dan yakin jika tadi sepertinya tidak mencicipinya terlebih dahulu.


"Hei, udah dong. Nggak apa-apa. Lihat aku nggak muntah kan? Masakan kamu memang belum enak, tapi aku makan sampai habis kan?" ujar Haidar lagi.


Yumna menghentikan tangisannya, menatap ke arah suaminya. Senyum tersungging di bibir Haidar, akhirnya Yumna berhenti menangis.


"Iya! Masakan aku memang belum enak!" teriak Yumna lagi, kini menangis semakin keras lebih dari yang tadi, bahkan kali ini Yumna mendorong bahu Haidar hingga terjengkang ke belakang. Yumna berdiri dan berlari ke arah tangga dan naik ke lantai atas.


"Sayang!" teriak Haidar dengan cepat bangkit dan menyusul Yumna.


Langkah kaki Yumna sangat cepat sekali sehingga kini dia sudah berada di lantai atas dan hampir mencapai kamar. "Haidar jahat!" teriak Yumna lagi.


Haidar yang baru saja sampai di ruang tamu berpapasan dengan Pak Dani.


"Mbak Yumna kenapa, Mas?" tanya Pak dani yang membawa piring kotor di tangannya. Haidar hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan laki-laki itu.


"Tapi kalian nggak bertengkar, kan?" tanya Pak Dani lagi.


"Saya bingung Yumna tiba-tiba aja nangis, Pak."


"Karena wajan itu ya? Masakan Mbak Yumna asin?" tanya Pak Dani lagi.


"Iya."

__ADS_1


"Sabar, Mas Haidar. Badai pasti akan berlalu," ucap Pak dani kini menepuk bahu Haidar. Pak Dani hendak melangkah ke arah dapur, tapi dia kemudian menghentikan langkah kakinya.


"Mas Haidar, lihat Mbak Yumna tiba-tiba moodnya gitu, mungkin nggak sih kalau Mbak Yumna lagi hamil?"


__ADS_2