YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
21 Rasa canggung.


__ADS_3

"Sebenarnya perasaan elo ke cowok tadi gimana?" tanya Haidar menyelidik. Mereka berdua sedang duduk di atas bangku kayu yang ada disana. Di depannya bunga-bunga mawar milik Lily tertanam dengan indahnya, wanginya merebak di antara malam.


"Biasa aja!" ucap Yumna, Tapi Haidar tidak lantas percaya, mengingat bagaimana raut wajah Yumna berubah saat ada Aldy.


"B aja, apa LB?" tanya Haidar lagi.


"LB apa?" tanya Yumna heran.


"Luar Biasa!" jawab Haidar.


"Emang kelihatan banget ya?" tanya Yumna dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Haidar.


"Hem, banget!" jawab Haidar lagi. "Trus kenapa elo gak terus terang sama dia?"


Yumna memilin ujung dressnya. Diam tidak berkata apa-apa.


"Ya udah, kalau gak mau cerita gak pa-pa kok!" ujar Haidar.


Yumna menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Dia udah punya cewek, lihat kan waktu kemarin di pestanya Tia?" Haidar mengangguk mengerti.


"Jadi elo bertepuk sebelah tangan nih?" Yumna mengangguk membenarkan.


"Dari dulu, waktu kecil!" jawab Yumna. "Karena nungguin dia gue jadi gak bisa sama yang lain."


Haidar sedikit terkejut. Ternyata Yumna sama seperti dirinya jika sudah mengenai pasangan. Setia. Hanya saja sekarang Haidar harus menghianati Vio, dan Yumna harus berpura-pura, sambil menata hatinya kembali.


"Mau gue bantu elo sama dia?" ujar Haidar membuat Yumna seketika menatap pria di sampingnya itu. Lalu tersadar jika Aldy sulit untuk di raih.


"Hahh, emang bisa? Gue aja yang dari dulu gak bisa jangkau dia!" Yumna pesimis, apalagi sekarang Aldy tahu jika Yumna dan Haidar bertunangan.

__ADS_1


"Ya kan perlu di coba!" tutur Haidar.


Lagi-lagi Yumna menarik nafasnya. "Gimana nanti deh." ucap Yumna lagi.


"Kok gitu?" Haidar beringsut sedikit duduknya, hingga dia menghadap pada Yumna. "Gini deh, kita kan saling bantu nih. Elo bantu gue buat sama Vio, dan gue akan bantu elo buat dapetin cowok yang elo suka. Gimana?"


Yumna berfikir sedikit. "Umm... boleh sih. Tapi kalau sama Aldy, gak tahu. Dia aja udah punya pacar, cantik, seksi lagi. Dada sama bokongnya montok, lah gue?" tanya Yumna pada Haidar.


Haidar memindai Yumna dari atas ke bawah. Memang menurut Haidar Yumna dan cewek yang di bawa Aldy waktu itu berbeda. Tapi jika dari wajah, Yumna cantik meski tidak memakai riasan sama sekali. Dan malam ini meski riasannya natural, Yumna terlihat sangat, sangat cantik. Apalagi di bawah sinar bulan ini. Mata Yumna bersinar, wajahnya semakin berseri, bibirnya terlihat menggoda. Apalagi saat angin malam berhembus, membuat rambut Yumna beterbangan surainya menutupi wajahnya.


"Siapa bilang elo gak cantik. Cantik kok!" ucap Haidar memuji kecantikan Yumna. Seketika Yumna merasa panas di pipinya hingga merona.


"Maksud gue. Hmmm... cantik enggaknya seseorang kan relatif tuh, dan gue pikir elo cantik, sama seperti Vio, meski gak pakai dempul kelihatan cantik!" mendengar dirinya di samakan dengan Vio entah kenapa membuat Yumna merasa kesal. Tapi ya sudahlah! Memang benar apa kata Haidar, cantik itu relatif!


Angin lagi-lagi berhembus, kali ini sedikit kencang menghantarkan hawa dingin pada kedua insan itu. Daun-daun kering beterbangan jatuh ke tanah. Satu helai daun kering jatuh di atas rambut Yumna.


"Biar gue bantu. Penampilan elo berantakan!" ucap Haidar, dia mendekatkan dirinya pada Yumna dan membantu merapikan rambutnya.


"Sudah." ucap Haidar, entah kenapa dia merasa canggung. Apalagi saat keduanya tidak sengaja saling menatap. Haidar dan Yumna sama-sama beringsut mundur. Memberikan ruang di antara mereka, seakan takut jika yang lain mendengar degup jantung masing-masing.


...*...


"Om lihat apa?" Syifa menggoyangkan tangan Reyhan yang sedari tadi menatap ke arah dua sejoli yang sedang duduk di atas bangku taman. Reyhan terkesiap, hampir saja minuman di tangannya terlepas karena terkejut. Dia segera membalikan badan dan melihat Syifa sedang berdiri di sampingnya.


"Tidak sedang apa-apa. Hanya mencari angin!" ucap Reyhan lalu menenggak minumannya.


"Cari angin?" Syifa mengernyitkan dahinya. Reyhan berdiri di dekat pintu.


'*P*adahal selangkah lagi keluar kan, kalau disini apa kerasa anginnya?' batin Syifa.

__ADS_1


"Kalau cari angin itu di luar Om, bukannya di dalam! Tuh selangkah lagi!" tunjuk Syifa dengan dagunya. Reyhan hanya tersenyum malas. Dia lebih baik menghindar dari Syifa, daripada mendengar ocehan bocah ini yang pasti akan membuat kepalanya sakit.


"Gak perlu, udah cukup kok anginnya! Kamu kalau mau cari angin, silahkan saja. Aku akan kembali lagi ke dalam." Reyhan berbalik dan pergi meninggalkan Syifa disana.


Syifa mengulurkan tangannya. "Tidak kerasa anginnya!" dia mengangkat bahunya cuek, lalu berbalik dan mengikuti langkah Reyhan.


Reyhan berjalan cepat, dia sedikit tidak suka dengan Syifa. Anak itu setiap kali selalu merepotkan, cerewet, dan sedikit menyebalkan!


"Semoga dia tidak lihat yang aku lakukan tadi!" gumam Reyhan lirih.


Ada sedikit rasa sakit di hatinya saat melihat kedekatan Haidar dan Yumna, dan tadi saat Haidar dan Yumna saling berdekatan, rasanya Reyhan ingin datang dan memisahkan mereka. Membopong Yumna ke dalam, membuang cincinnya dan menyematkan cincin lain di jari manis milik Yumna. Berteriak pada semua orang kalau dirinya menolak Haidar bertunangan dengan Yumna, dan menjadikan Yumna dan dirinya akan bertunangan.


Reyhan menghela nafas berat. Dia menyimpan gelas kosong di atas meja.


"Om, buang nafasnya gitu banget! Beban hidup berat ya?" Reyhan tertegun, lalu menoleh ke samping.


'Dia lagi?'


Syifa tersenyum lebar ke arah Reyhan.


"Bocil, mau tahu aja!" ucap Reyhan lalu dia melangkah menuju kerumunan orang-orang. Diantara orang dewasa akan lebih baik dan dia yakin Syifa tidak akan mengikutinya.


Syifa mengambil sepotong kue, lalu ia bawa ke arah dimana teman yang lainnya berada.


"Syukur deh, tuh bocil gak ikutin kesini!" gumam Reyhan pelan.


"Ada apa Rey?" tanya Kakek saat mendengar gumaman tak jelas dari asistennya itu.


Reyhan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada kek!"

__ADS_1


__ADS_2