
Yumna terdiam sambil terus menscroll layar hp di tangannya. Begitu banyak foto Haidar dengan Vio. Mereka sangat mesra dengan senyum bahagia terukir disana. Beberapa foto kebersamaan mereka yang terlihat sangat serasi. Dan satu yang paling terakhir dari galeri itu. Haidar dan Vio dengan seragam SMA.
Kini gantian Haidar yang tertawa melihat kediaman Yumna. Dia tertawa sambil mengejek Yumna.
"Sekarang elo percaya kan? Atau belum? Perlu gue lihatin semua chat gue sama dia biar elo percaya?" Tambah Haidar membuat Yumna melemparkan hp yang di pegangnya begitu saja pada Haidar. Untungnya Haidar dengan sigap menangkap hpnya hingga tidak jatuh
"Eh, yang bener aja lo. Main lempar segala! Rusak entar hp gue!" kesal Haidar mengusap layar hpnya dengan sayang.
"Cih kalau elo udah punya Vio kenapa bawa-bawa gue dalam masalah elo? Kenapa gak bilang aja sama mami elo buat nikahin elo sama dia?" decih Yumna.
"Justru itu. Gue udah bilang sama Vio, gue udah lamar dia dari dulu, tapi dulu dia masih meniti karir. Dan kemarin waktu gue lamar lagi, dia masih punya kontrak sama agensi-nya setahun lagi. Gue mau nungguin dia, tapi mami dan papi terus jodohin gue dari dulu. Mereka gak setuju gue nikah sama Vio sebelum dia berhenti jadi model. Sedangkan itu cita-cita Vio sedari dulu. Dan gue gak bisa rusak reputasi dia dengan memperkenalkan diri gue sebagai pacarnya. Karir dia sedang bagus-bagusnya sekarang!"
"Mami dan papi suruh gue tunangan sama yang lain, gue gak mau. Jadi dari dulu gue main kabur-kaburan karena gak mau di jodohin. Dan sekarang puncaknya, mami dan papi tidak bisa di bantahkan lagi. Mereka malah ingin gue menikah." Haidar berhenti bicara sejenak. Dia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Gak tahu deh, mungkin kalau kali ini gue kabur, mami dan papi akan coret gue dari KK. Tapi bukan itu yang gue fikirin, gue gak masalah hidup kekurangan, Vio juga bilang gak pa-pa. Gue udah biasa kerja kasar apapun dari dulu. Gue udah biasa hidup jadi gelandangan, tapi mami... gue kepikiran setiap mami sakit!" raut wajah Haidar berubah sendu. Membuat Yumna merasa iba. Pun dengan dirinya, yang sering melihat Lily melamun sambil memandangi foto Yumna saat kecil. Apalagi saat Lily tidak mau bicara karena Yumna menolak di jodohkan beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Hahh... gue juga sepertinya gak punya pilihan. Gue gak mau di jodohin sama si mesum itu." ujar Yumna lesu. Ya memang pilihan yang sulit, tapi kesepakatan yang tadi di ajukan Haidar tidak terasa buruk juga bagi Yumna.
"Oke lah. Tapi kita harus buat hitam di atas putih!" tegas Yumna. "Gue mau ada beberapa kesepakatan yang kita bikin, biar elo gak salah langkah dan salah faham soal hubungan kita nanti. Deal?!"Yumna mengulurkan tangannya.
"Oke. Terserah elo. Ingat ini hanya untuk satu tujuan kita masing-masing!" Haidar menyambut uluran tangan Yumna. Mereka saling tersenyum penuh arti.
"Udah ah gue lapar!" Yumna menarik tangannya dari Haidar. Lalu mengambil sendok dan memakan makanannya yang sudah dingin. Haidar menatap Yumna lamat-lamat.
"Apa?" cecar Yumna pada Haidar.
Yumna terdiam. Memang benar, rasanya sudah tidak seenak saat masih panas. Ini gara-gara dia terlalu fokus dengan masalah yang harus di selesaikan.
"Ikut gue!" Haidar berdiri dan menarik tangan Yumna. Yumna tersentak kaget mengambil tasnya dengan satu tangan yang bebas. Dia masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Eh mau kemana?" tanya Yumna saat berhasil menelan makanannya.
__ADS_1
"Cari yang enak!" jawab Haidar terus membawa Yumna ke parkiran dimana motornya berada.
"Tapi mobil gue?" tunjuk Yumna pada mobilnya yang ada di ujung.
"Urusan nanti!" Haidar memakaikan helm-nya ke kepala Yumna dan menguncinya dengan benar. Menarik Yumna agar naik ke atas motornya.
Yumna berpegangan pada tepian jaket Haidar, saat Haidar melajukan motornya sangat kencang. Sebenarnya dia merasa takut, tapi mencoba untuk mempercayakan keselamatannya pada pria itu. Lagi!
Haidar merasakan pegangan Yumna yang semakin kencang di kedua sisi jaketnya. Dia tersenyum, dan ingat jika dulu Yumna pernah memaki dan memukulinya setelah dia turun dari motor yang ia kemudikan kencang saat kabur dari para bodyguard maminya di Singapura.
Haidar mengambil satu persatu tangan Yumna dan melingkarkannya ke depan tubuhnya dengan sempurna.
Yumna merasa malu, pasalnya dadanya bersinggungan langsung dengan punggung hangat Haidar meski pria itu memakai jaket di tubuhnya. Dia merasa malu, gugup, dan sepertinya ingin melompat turun dari motor agar detak jantungnya normal kembali.
Haidar menatap Yumna dari spion di sampingnya, dia tersenyum karena Yumna tidak berani melihat ke arah jalan. Dia lebih memilih bersembunyi di belakang punggung Haidar.
__ADS_1
"Kamu masih sama seperti dulu!" senyum Haidar mengembang, dia melajukan motornya semakin kencang membuat Yumna memeluknya semakin erat. Rambut Haidar yang mulai memanjang di bagian depan di terpa angin, hingga semakin berantakan, tapi tidak mengurangi ketampanan seorang Haidar Ezra Rahadian!