
Yumna menikmati secangkir kopi sambil menikmati sore di balkon kamar atas. Dia termenung sendiri. Hidupnya sekarang sungguh rumit. Nyatanya dia sendiri yang membuat hidupnya rumit seperti ini!
Haruskah aku mengakhiri kontrak pernikahan ini?
Tapi pernikahannya dengan Haidar baru saja seumur jagung, apa yang akan mama dan papanya katakan kalau dia berstatus janda di usianya yang masih muda? Bahkan banyak kasus seperti itu bukan? Lalu bagaimana dia akan menghadapi dunia?
Aaah abaikan! Ini hidupku!
Oke. Setelah Haidar pulang dari honeymoon nya aku akan langsung bicarakan ini sama dia dan juga para orangtua! Nyatanya bahaya kalau Haidar kalap dan pada akhirnya aku sendiri yang rugi dengan pernikahan ini! Aku gak mau hidup dengan pria yang bisa berbuat apapun tapi untuk orang lain! Bahkan dia rela berbohong sama orangtuanya demi keuntungan dia sendiri.
Mengingat 'honeymoon' dia jadi geram sendiri. Harusnya honeymoon jadi momen yang indah dan menyenangkan, tapi dia hanya menjadi alasan untuk Haidar honeymoon dengan pacar gelapnya!
Yumna berdiri saat melihat pak Dani berteriak dari bawah dan mengacungkan bungkusan makanan yang baru di terimanya dari bang ojol. Dia segera berlari ke bawah, dan menerima bungkusan makanan itu.
"Makasih ya, pak!"
"Iya neng, sama-sama. Padahal kalau neng Yumna mau makan bisa saya masakin, neng. Gak usah pesen segala!" ucap pak Dani.
"Ah, gak apa-apa pak. Lagian kan bukan tugas pak Dan juga kan masak di dapur. Ya sudah, Yumna mau makan dulu ya, pak." pak Dani mengangguk lalu kembali ke tempatnya untuk meneruskan permainan catur yang sempat terhenti.
Yumna membuka bungkusan di tangannya, seketika wangi aroma ayam K*C tercium di hidungnya.
"Hmmm.... wangi... nyam-nyam!" ucapnya seraya menggosokkan kedua telapak tangannya. Dua buah potong paha ayam berbalut tepung yang menggugah selera.
"Waktunya makan!" Dia makan dengan lahap, perutnya yang lapar tak bisa menunggu lagi sampai waktu makan malam tiba. Setelah sampai tadi Yumna kembali tertidur sampai siang hari dan ia malas sekali untuk beranjak bangun. Jadilah dia hanya berbaring seharian. Dan bangun ketika perutnya terasa sangat lapar.
"Gini nih, kalau gak bisa masak.
Delivery terus!" mengunyah hingga mulutnya penuh. "Padahal mama jago masak! Tapi kenapa gak nurun sama aku ya?" bicara sendiri. Yumna mengangkat bahunya lalu kembali melanjutkan makan.
Selesai makan, Yumna kembali ke kamarnya. Dia mengambil hpnya dan melihat banyaknya notif yang ada disana. Mode silent membuat dia tidak bisa mendengar suara hpnya. Belasan panggilan dan juga beberapa pesan dari Haidar. Juga ada panggilan dan pesan dari Seno.
"Hehh... aku kira dia gak akan telfon! Mau apa dia telfon sebanyak ini?"
Mata Yumna membelalak saat membaca pesan dari Haidar.
"Apa maksudnya dia, aku pergi sama cowok lain?" Yumna merasa geram sendiri. Bukankah pagi tadi saat di taksi dia sudah mengirimkan pesan kalau dia baru saja sampai di Jakarta!
Baru saja Yumna akan menghubungi Haidar, pria itu sudah menghubunginya terlebih dahulu.
Yumna menjauhkan hpnya dari telinga. Suara Haidar melengking menyakitkan telinganya.
__ADS_1
"Hei, hei. Kenapa elo Marah? Apa maksud pesan elo gue sama cowok lain, hahh?! Gue ini pulang! Bukannya kabur sama cowok lain! Emang elo kira gue cewek apaan yang mau nginap sama cowok lain. Emangnya elo yang suka bermalam sama cewek elo!" bentak Yumna.
"...."
"Iya, gue pulang duluan! Emang elo gak baca pesan gue? Tadi pagi gue kirim pesan kalau gue baru sampai di bandara!"
"...."
"Gak ada? Maksud elo gue bohong gitu?"
"...."
"Dasar rese! Nyebelin lo! Emang sehina itu ya gue dimata elo!" bentak Yumna lalu mematikan telfonnya dengan kesal. Dia melemparkan hpnya ke atas kasur, lalu tak lama ia kembali mengambilnya dan men-screenshoot pesan yang tadi dia kirimkan padanya. Jelas-jelas Haidar sudah membacanya. Tak lupa dia mengambil gambar dalam kamar Bima yang terdapat foto pernikahan mama dan papanya.
"Enak saja! Aku ini wanita baik-baik! Seenaknya saja dia bilang aku bermalam dengan orang lain!" kesalnya. Meskipun iya dalam perjanjian Yumna boleh mencari pria lain tapi kalau di tuduh seperti itu siapa yang mau terima?
"Huhhh. Aku aja gak pernah protes sama dia, kalau dia sama Vio atau sama cewek lain sekalipun. Kenapa dia mencampuri urusanku?!" Yumna membaringkan dirinya dengan kasar di atas kasur, hpnya kembali menyala lalu mati. Bagitulah beberapa saat.
Dengan kesal Yumna mengangkat panggilan itu tanpa membaca nama si pemanggil.
"Apa sih? Gue kan udah bilang kalau gue di rumah!" teriak Yumna, lalu di detik kemudian dia terdiam. Bukan suara Haidar? Yumna menarik hpnya dan melihat nama yang tertera disana. Seno.
OMG!!
".... "
"Iya, aku sudah pulang ke Jakarta, maaf ya gak kasih kabar. Umm.. mendadak soalnya!"
"...."
"Maaf. Maaf."
"...."
"Beneran?"
"...."
"Oke, aku tunggu minggu depan!" ucap Yumna senang, lalu dia mematikan telfonnya.
...***...
__ADS_1
Haidar merasa kesal, hp Yumna tidak bisa dia hubungi. Tepatnya Yumna tidak mengangkat atau membalas pesan darinya.
Dadanya kembang kempis. Emosi. Pemikirannya kemana-mana.
Kemana Yumna? Apa yang dia lakukan? Siapa pria itu? Kenapa dia tidak angkat telfonku? Kenapa dia tidak balas pesanku?
Hanya seputar itu yang dipikirkan Haidar. Tak peduli dengan kakinya yang sudah pegal karna mondar mandir di dalam kamarnya semenjak siang tadi.
Dia menatap hpnya, hendak menghubungi Yumna sekali lagi. Tiba-tiba saja rasa kesalnya berlipat dua kali saat melihat tulisan online di bawah nama Yumna. Dia menekan tanda telfon, lalu...
"Heh Yumna, kemana aja kamu dari pagi. Pulang sekarang juga ke hotel!" teriaknya tanpa sadar. Ada kelegaan saat Yumna mengangkat telfon darinya.
"...."
"Elo di rumah? Maksudnya di rumah mana?" tanya Haidar, amarah di hatinya reda seketika.
"...."
"Pesan apa? Gak ada pesan ke hp gue!"
"...."
"Ya gue fikir elo pergi sama cowok elo! makanya gue..."
"...."
Tutt...tutt...
Telfon di matikan sepihak oleh Yumna, terdengar dari nada suaranya dia marah besar.
Haidar duduk di tepi ranjang. Amarah yang sedari tadi bergumul di hatinya mereda sudah.
Sebuah notif terdengar di hpnya. Dia tersenyum saat melihat dua foto yang dikirim Yumna. Benar, Yumna mengirim pesan padanya, tertera dari jam saat dia mengirimkannya pagi tadi. Lalu satu yang lain, foto sebuah ruangan dengan cat putih dan terlihat di dindingnya sebuah gambar besar, foto mertuanya saat mengenakan pakaian pengantin.
Haidar bernafas lega. Sedari pagi emosi, dan itu sia-sia! Dia terlalu jauh berfikir yang tidak-tidak pada Yumna.
"Harusnya aku tahu. Yumna gadis yang berpendidikan, dia tidak mungkin melakukan hal yang di luar dari batasannya!"
Haidar kembali menatap hpnya. Bagaimana bisa dia tidak membaca pesan itu? Kalau Yumna mengirimkan pesan padanya harusnya dia...
"Vio! Apa mungkin dia yang menghapus pesan itu?" gumam Haidar, sekali lagi dia melihat jam saat Yumna mengirimkan pesan. Kalau tidak salah ingat, setelah mandi dia menjemout Vio di kamarnya untuk sarapan.
__ADS_1
Haidar tertawa lirih.
"Kenapa Vio melakukan hal ini?!"