
Haidar merasa bingung. Dia ingin sekali mendekati dan mendapatkan hati Bima agar bisa dekat kembali dengan Yumna. Apa yang Haidar lakukan kemarin adalah semata hanya ingin bisa lebih dekat dengan Yumna.
Haidar sedang berada di kantornya dia hanya tercenung, memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan ke depannya. Pasti ada saatnya jika dia akan diterima kembali di keluarga mantan istrinya tersebut.
"Haidar. Apa sedari tadi kerjaan kamu cuma melamun? Mama dan Papa kasih tanggung jawab perusahaan ini buat kamu kelola, bukan untuk kamu diam dan melamun seperti ini!" Mitha datang dan duduk dengan kesal, membuat Haidar terkejut karena tidak tahu kapan wanita yang telah melahirkannya itu datang. Tiba-tiba saja datang tak diundang dan pulang nanti tidak diantar.
"Mami. Kenapa tiba-tiba datang? Ada urusan apa?" tanya Haidar saat Mitha duduk di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa. Mami hanya mau ketemu saja sama kamu dan ngecek apakah kamu kerja dengan benar atau tidak! Kamu ini ya, Mami panggil sedari tadi tapi diam saja melamun. Kamu kenapa, sih?" tanya Mitha melirik Haidar yang selalu kelihatan kusut sedari kemarin. "Mikirin apa sampai kamu dari tadi gak nyahut sih?" kesal Mitha sekali lagi dengan nada geram.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Cuma sedang mikirin aja gimana caranya supaya orang tua Yumna setuju sama aku," ucap Haidar dengan lesu.
Mitha menghela napasnya dengan sedikit kasar. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dia duduki.
"Itu karena kesalahan kalian juga, coba kalau gak lakukan kesalahan dengan pernikahan pura-pura itu! Kan gak akan begini kejadiannya! Kalian masih akan terus bersama kalau kalian gak buat kesalahan. Kenapa juga harus berpura-pura juga menikah sih!" Mitha mulai bicara dengan panjang lebar dan nada yang kesal, mengingat apa yang putranya ini lakukan di masa lalunya.
"Itu karena Mami juga!" Haidar bicara tidak kalah kesalnya.
"Iya, kalau bukan Mami yang mau jodohin aku sama gadis yang Mami mau itu tuh, aku gak akan lakukan ini. Yumna juga sama, karena dia gak mau dijodohkan dengan lelaki lain. Heran, deh. Apa semua orang tua begitu ya? Gak mau tau asal umur anaknya dah cukup, main minta nikah dan jodohin gitu?" tanya Haidar dengan nada sarkas. Mitha melirik anaknya dengan kesal. Apa yang dia mau itu adalah supaya Haidar ada yang mengurusi dan menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Itu karena Mami dan Papi sayang sama kamu, dan capek urusin kamu yang bengal! Paham? Tidak pernah mau diatur, tidak pernah mau dengerin apa kata orang tua, kualat nanti!" bentak Mitha sambil menatap Haidar tajam dengan tatapan mautnya. Akan tetapi, Haidar tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan sang ibu, dia hanya bergumam kesal dengan suara yang sangat kecil sekali hingga Mitha tidak bisa mendengarnya sama sekali.
"Kamu mau dekat dengan Yumna dan dapatkan persetujuan dari Bima kan?" tanya Mitha dengan senyum seringaian di bibirnya.
Haidar mengerti akan pandangan dan senyuman dari maminya tersebut. Dia berpikir jika Mami Mitha mempunyai rencana yang lain.
"Apa? Mami punya rencana apa?" tanya Haidar.
"Hamili Yumna!"
__ADS_1
Haidar menatap Mitha dengan terkejut. Tidak menyangka dengan apa yang dikatakan ibunya tersebut.