YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
161. Rasa takut Azkhan


__ADS_3

"Kak yang tadi itu siapa sih?" tanya Azkhan yang kini duduk diantara Yumna dan Syifa, sedangkan Arkhan duduk di single sofa yang ada disana. Arkhan juga kepo, tapi dia memilih diam karena sudah terwakilkan oleh adiknya itu.


"Teman," jawab Yumna dengan tenang. Yumna mengambil cemilan yang ada di depannya dan memakannya.


"Aku kira Kakak dan Kak Juan ada hubungan apa gitu." Azkhan juga mengikuti jejak kedua kakaknya mengambil makanan itu dan menikmatinya.


"Enggak, kita cuma teman biasa."


Mendengar Yumna mengatakan hal itu ada debar senang di dalam hati Syifa. Sudut bibirnya tersenyum kecil mendengar hal itu. Diam-diam, Arkhan memperhatikan raut wajah Syifa yang berbeda.


...****...


Arkhan dan Azkhan membantu Syifa untuk naik ke lantai atas. Malam semakin larut saat mereka memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mereka. Bima yang ingin berbicara banyak dengan Yumna juga tidak bisa keluar dari kamar. Dia sibuk meminta kejelasan kepada sang istri dan juga membujuk saat wanita pujaan hatinya itu marah dengan sikap Bima yang terlalu pencemburu.

__ADS_1


Aihh, Dasar wanita. Kalau tidak mau suami marah kenapa juga harus sebutkan semua yang perfect pada diri pria lain? Dan apa itu? harusnya aku yang marah. Kenapa jadi aku yang kalah?! batin Bima menatap sang istri yang kini tidur dengan memunggunginya.


...****...


Azkhan sudah keluar dari kamar Syifa, tinggallah Arkhan yang masih ada disana untuk membantu Syifa mengambilkan air minum dari dispenser yang ada di sudut ruangan. Arkhan menyerahkan gelas itu kepada kakaknya dan lalu duduk di tepi ranjang Syifa, menunggu gadis itu sampai selesai minum.


"Syifa, bagaimana menurut kamu soal teman Kak Yumna itu?" tanya Arkhan pada kakaknya itu.


"Siapa? Kak Juan?" Arkhan menganggukkan kepalanya.


"Dia baik. Kenapa?" tanya Syifa balik. Arkhan menggelengkan kepalanya dengan tanpa ekspresi. Dia melihat seulas senyum yang tertarik di bibir Syifa.


"Tidak ada." Arkhan berdiri sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Tanpa berkata apapun lagi dia melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan itu.

__ADS_1


Syifa menatap kepergian adiknya yang kini menghilang di balik pintu.


"Apa sih dia nggak jelas sekali!" sungut Syifa kesal. Syifa segera menarik selimutnya dan segera masuk ke alam mimpi.


Arkhan menatap pintu kamar Syifa, lalu kedua netranya juga beralih menatap pintu kamar Yumna. Semoga saja apa yang dipikirkannya tidak akan terjadi.


Jika Arkhan lihat, tatapan Juan pada Yumna dan juga tatapan Syifa pada Juan terlihat hampir sama. Dia mencoba untuk berpikir positif dan menepis semua yang ada di dalam kepalanya.


"Hei, Bro. Kenapa masih di situ?" suara Azkhan membuyarkan lamunan Arkhan. Arkhan mengalihkan tatapannya ke arah adiknya yang hanya menyembulkan kepala dari celah pintu.


"Gak pa-pa." Arkhan menjawab dengan singkat, lalu dia masuk ke dalam kamar bersama dengan Azkhan.


"Eh menurut Lo, Kak Juan gimana? Apa ada kemungkinan Kak Yumna suka dengan dia?" tanya Azkhan yang kini tidur dengan posisi tengkurap. Wajahnya menghadap Arkhan yang tidur tentang dengan kedua tangan terlipat di bawah kepalanya.

__ADS_1


"Gak tau, Lo tanya aja sama Kak Yumna besok." Tidak ingin membuka banyak suara, Arkhan membalikkan tubuhnya, memunggungi sang adik. Azkhan berdecak sebal. Semakin kesini kakak kembarnya itu semakin menyebalkan.


__ADS_2