YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
221. Ejekan Paling Mengena Di Hati


__ADS_3

"Jadi, cara apa yang sudah kamu dapatkan?" tanya Ronald pada Haidar. Haidar hanya menggembungkan kedua pipinya, menghembuskan napasnya degan sedikit kasar.


"Aku bingung," ucap Haidar, kepalanya terasa pusing memikirkan hal itu. Ronald tertawa kembali melihat Haidar yang seperti itu.


"Kalau begitu, selamat berjuang, kawan!" seru Ronald. Satu tangannya mengepal, menyemangati Haidar yang sedang memperjuangkan cintanya.


Haidar menatap Ronald dengan tatapan menghiba.


"Kamu gak mau gitu, bantu aku buat bujuk Papa Bima?" tanya Haidar pada Ronald.


"Eh, aku?" Ronald menunjuk pada dirinya sendiri.


"ya, kan kamu suami Tia, sahabat Yumna. Kali aja kamu dan Tia bisa itu bujukin kedua orang tuanya. Tia bujuk Mama Lily, kamu bujuk Papa Bima." Pinta Haidar.


"Aku gak sedekat itu dengan Pak Bima," ucap Ronald membuat Haidar menurunkan kedua bahunya, terlihat lesu pria itu kini.


"Kalau Tia mungkin bisa, tapi kalau untuk membujuk Pak Bima gak tahu deh." tambah Ronald.


Mendengar hal itu, Haidar menjadi semakin lesu. Justru di sini adalah Papa Bima yang sulit untuk di taklukan. Haidar menelungkupkan kepalanya pada tangannya di atas meja.


"Ahhh!!! Aku harus gimana, Nald. Aku bingung dengan Papa Bima," ujar Haidar. Tadi dia sudah menemukan cara untuk meluluhkan hati Bima, tapi kini dia tidak merasa yakin dengan caranya itu.

__ADS_1


Ronald menepuk pundak Haidar, memberikan tambahan kekuatan dengan doa dan sikapnya.


"Pasti ada satu cara, kamu hanya belum menemukan saja cara yang tepat saja."


"Ayo semangat, dong. Kemarin malam Yumna ke rumah loh," ujat Ronald.


Haidar mengangkat kepalanya, menatap Ronald atas ucapannya barusan.


"Eh, ke rumah kalian? Ada apa?" tanya Haidar bingung.


Ronald mengangkat kedua bahunya. Ingin membuat haidar kesal karena dia tidak menjawabnya.


"Dia kok gak pamit sama gue!" ujar Haidar sedikit kesal.


"Ngapain pamit sama elo? Elo bukan siapa dia." Ronald terkekeh mengatakan hal itu. Haidar hanya memanyunkan bibinya.


"Memang gue bukan siapa dia, tapi sebentar lagi akan jadi seseorang yang ada di dalam hidup dia!" ujar Haidar kesal.


Tawa Ronald semakin keras, "kalau iya di terima sama nyokap bokapnya!" ujar Ronald. Tawanya menggema di dalam ruangan itu.


Haidar mendelik sebal. Tadi dia memberi semangat, tapi kali ini kenapa semangat yang ada dia patahkan?

__ADS_1


"Elo itu sahabat gue bukan sih? Jahat banget, udah bikin hati gue melambung tinggi, sekarang ini elo hempaskan ke dasar jurang!" ujar Haidar kesal.


Ronald tidak menghentikan tawanya.


"Ya elo lucu aja. Dulu dia di sia-siakan, sekarang aja dikejar. Kan kalau menyesal jangan nangis," ejek Ronald.


"Gue gak nangis!"


"Dih, gak nangis? Segitu sampai melow dan bercucuran air mata gitu di bilang gak nangis?"


"Kata siapa?"


"Ben yang bilang!" Ronald semakin keras tertawa, melihat wajah Haidar yang merah dan kesal.


"Ya ampun, kenapa juga Bang Ben mesti bilang sih? Kan menjatuhkan harga diri gue!" ujar Haidar pelan, tapi masih bisa Ronald dengar dengan jelas.


"Harga diri? Astaga! Harga diri elo emang mahal sedari dulu, makanya elo beg*!" ujar Ronald lagi.


Haidar menggebrak meja dengan keras. Pria di depannya ini tidak peduli, dia masih tertawa sampai sakit di perutnya.


"Zaman dulu aja elo pertahanin Vio sampai rela jadi gembel. Kan gue juga udah bilang sama elo, kalau Vio bukan wanita yang baik, dia itu sund*l! Elonya aja yang gak mau denger. Kan apa namanya kalau bukan beg*?!"

__ADS_1


__ADS_2