
"Kenapa Papa bertanya lagi? Apa Papa masih merasa belum cukup dengan Haidar yang kini pergi menjalankan tugas dari papa?" tanya Yumna dengan kesal menatap sang ayah.
"Bukan seperti itu. Papa hanya ingin tahu saja. Apakah Haidar adalah orang yang tepat untuk kamu atau tidak. Papa hanya takut kalau dia melakukan hal yang sama seperti waktu dulu," ucap Bima pada putrinya.
"Papa gak percaya. Lalu kenapa Papa kirim Haidar untuk pergi jauh dengan syarat yang Papa berikan?" tanya Yumna lagi pada papanya.
Mendengar perkataan putrinya, hati Bima menjadi menciut. Persis seperti Lily jika sedang marah padanya.
"Oke. Papa harus percaya," ucap laki-laki itu lagi. Yumna merasa sedikit kecewa karena ucapan ayahnya tadi. Bagaimana bisa dia tidak percaya padahal kemarin saja ayahnya sangat bersemangat ingin memberi pelajaran terpenting di dalam hidupnya.
"Oke, sudah. Papa hanya bertanya saja. Tidak perlu kamu marah seperti itu, kan?"
Yumna tentu saja marah, kalimat yang ayahnya tanyakan tadi mengandung nada yang mengesalkan dia dengar.
"Bisakah Papa menjadi laki-laki yang memegang teguh ucapan Papa?" tanya Yumna dengan nada yang kesal.
__ADS_1
"Hei, Papa tentu saja memegang ucapan Papa, kan Papa hanya bertanya saja padamu. Apa salahnya?" tanya Bima dengan menatap anaknya dengan sedikit rasa bersalah, tapi tentu saja tidak mau dibilang lelaki yang tidak bisa memegang ucapannya.
"Sudahlah, aku mau kembali ke ruangan ku," ucap Yumna pada akhirnya dia memilih mengalah saja. Pikirannya sedang kalut, sedang lelah. Ingin sebentar pergi dari rutinitas yang ada di sini.
Yumna kembali ke ruangannya. Dia menelungkup kan kepalanya pada meja, sedikit terisak tanpa suara. Rasa rindu kepada Haidar dan rasa tidak percaya ayahnya serta kejadian tadi di luar membuat Yumna ingin kabur sekarang juga.
Sore sudah menjelang, Yumna segera pergi ke lantai atas untuk menyerahkan pekerjaannya kepada sekertaris Bima.
"Apa Papa tidak ada?" tanya Yumna pada sekretarisnya.
"Ah, tidak. Saya sekalian menitipkan surat pengunduran diri saya. Titip, berikan kepada Pak Bima nanti kalau beliau telah selesai," ucap Yumna sambil menyimpan kertas dengan sampul berwarna coklat pada sekretaris papanya itu.
"Eh, Mbak Yumna akan pergi?" tanya sekretaris dengan bingung.
"Aku cuma lelah dengan pekerjaan. Ingin istirahat sebentar," ucap Yumna dengan senyum tipis.
__ADS_1
Sekretaris menganggukkan kepalanya dan menerima amplop tersebut. Yumna pergi setelahnya.
"Enak sekali ya, jadi anak bos. Bisa keluar dan masuk kerja seenaknya," gumam sekretaris tersebut dengan menatap kepergian Yumna yang kini masih terlihat di ujung lorong.
Selang setengah jam kemudian, Bima telah kembali ke ruangannya. Sekretaris tersebut segera bangkit dan mengikuti Bima masuk ke dalam ruangannya.
"Pak Bima, ini tugas yang telah diselesaikan oleh Mbak Yumna, dan ini ...." Sekretaris tidak melanjutkan ucapannya, hanya menyodorkan amplop tersebut pada Bima. Bima menatap amplop coklat yang ada di sana, sudah bisa menebak apa isinya itu.
Helaan napas kasar terdengar di bawah hidung Bima, membuat sang sekretaris menundukkan kepalanya kini.
"Pulang lah. Saya juga akan pulang setelah ini," ucap Bima yang dijawab anggukkan kepala oleh wanita muda yang ada di hadapannya.
Bima menatap surat yang kini dia baca setelah kepergian bawahannya. Dia tertegun ketika melihat nama yang ada di sana.
"Yumna, apa Papa sudah buat kamu kecewa?" gumam Bima pelan.
__ADS_1