
"Hamili Yumna!"
Haidar menatap Mitha dengan terkejut. Tidak menyangka dengan apa yang dikatakan ibunya tersebut.
"What! Mami gila!" ujar Haidar. Dia menatap Mitha dengan tidak berkedip, tidak menyangka dengan apa yang ada di dalam pemikiran sang ibu dan bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya. Sejenak Haidar berpikir, ibu macam apa yang memberikan solusi seperti ini? Amazing!
Mitha mencebik kesal dengan bibir yang mengerucut, dia bicara dengan Haidar, "Ya habis bagaimana? Mami cuma bisa mikirin itu buat kalian dapatkan restu," ujar Mitha. Dia tersenyum menyeringai menatap ke arah Haidar. "Jika memang tidak ada cara lain, apa salahnya mencoba kan?"
Haidar mengusap wajahnya dengan kasar. "Iya kalau aku gak digantung nanti sama mereka. Kalau di nikahkan sih gak jadi masalah, kalau pulang hanya tinggal nama? Mami mau anak Mami menjadi penghuni kuburan di dekat-dekat waktu ini?" tanya Haidar kesal.
"Ya, enggak. Tapi kan namanya juga usaha."
"Usaha, tapi kan gak gitu juga kali, Mi. Astaghfirullah! Sudah, kalau Mami datang ke sini hanya untuk menyampaikan hal yang gila, mendingan Mami pulang, deh!" usir Haidar. Haidar tidak setuju dengan apa yang Mitha katakan. Sejelek-jeleknya kelakuan dia selama ini, tapi dia tidak mau juga sampai menebar benih sembarangan meski dia melakukannya dengan orang yang dicintai tapi bukan istrinya.
Mitha menggaruk kepalanya dengan pelan. Datang untuk menjenguk sang putra malah kena usir! "Apa yang salah dengan hal itu? Banyak kok yang menikah setelah ketahuan berisi kecebong di dalam perut," ujar Mitha.
"Mi, hentikan! Jangan racuni aku dengan pikiran jahat itu! Aku gak mau anakku dicetak diluar pernikahan!" ujar Haidar kesal. Semakin lama Mitha bicara semakin ngaco di dengarnya. Apa lagi nanti? Akankah Mitha menyuruh Haidar menculik Yumna?
__ADS_1
Mitha akhirnya pulang, dia yakin jika Haidar kini sedang kesal terlihat dari raut wajahnya barusan.
"Memangnya kenapa? Bukankah zaman sekarang ini itu hal yang lumrah? Bisa saja, kan, kalau Mas Bima malah berikan izin untuk mereka menikah. Kan itu lebih bagus. Instan!" gumam Mitha sambil berjalan ke arah lift. Dia tidak peduli dengan beberapa orang yang sedang memperhatikannya karena bergumam sendirian.
Haidar mengusap wajahnya dengan kasar. Dia memikirkan ucapan Mitha tadi. Bagaimana bisa ibu yang dia hormati malah memberi saran yang menjijikkan seperti itu? Hamili anak orang? Bisa digantung terbalik dia!
Enak kalau cuma digantung terbalik, bagaimana kalau digantung hingga ajal menjemput? Oh, tidak! Dosa Haidar masih menumpuk dan belum luntur dari dirinya. Bagaimana kalau baru saja jasadnya dimasukkan ke liang lahat, para cacing sudah berkumpul dan siap untuk melahapnya?
Ngeri!
...***...
"Sedang sibuk?" tanya Lily.
"Tidak, Ma. Ada apa?" tanya Yumna balik.
Lily duduk di samping putrinya dan mulai bertanya akan sesuatu yang menjadi pemikirannya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Mama cuma mau bertanya sama kamu. tapi kamu jangan marah, ya?"
Yumna menatap sang ibu dengan heran. Ada apakah gerangan yang akan dikatakan Lily? Sepertinya serius sekali.
"Tanya apa?"
"Kamu dan Haidar. Hubungan kalian, bagaimana? Sudah sejauh mana?" tanya Lily dengan takut. Dia tidak enak hati juga bertanya secara langsung, tapi dia penasaran dengan hal itu.
"Eh, hubungan kami? Biasa saja. Datar," jawab yumna, kini gadis itu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dengan punggung beralaskan bantal.
"Biasa bagaimana? Apakah tidak ada itikad baik Haidar akan datang ke sini dan melamar kamu lagi?" tanya Lily, dia melirik Yumna yang kembali sibuk dengan hpnya.
Yumna menghentikan kegiatannya, dia menyimpan hpnya dan menarik napas lelah. "Bagaimana dengan Papa? Apakah Papa akan mengizinkan? Sedangkan selama ini saja, pandangan Papa terhadap Haidar seperti itu."
"Dia sudah berubah dan inginkan Yumna untuk jadi istrinya lagi. Dan Yumna yakin kalau dia bersungguh-sungguh sekarang ini. Hanya saja, tanggapan Papa seperti itu. Mau bagaimana Yumna bilang sama Haidar untuk datang kemari dengan benar dan meminta izin Papa? Malu lah, Ma, kalau sampai mereka datang dan akhirnya hanya penolakan yang mereka terima. Lebih baik jangan saja. Biarkan Yumna menikmati waktu Yumna saja yang seperti ini. Yumna ikhlas, kok."
Lily menatap putrinya ini dengan iba. Semakin hari sikap Yumna semakin terlihat dewasa. Dia hanya tersenyum kecil. Ucapan Yumna barusan mengingatkan dia akan masa lalunya dulu, saat dia memilih untuk mengalah dan pergi.
__ADS_1
"Mama akan coba yakinkan Papa, kalau memang itu yang akan buat kamu bahagia. Kamu yakin akan bahagia dengan dia?" tanya Lily sekali lagi. Yumna hanya bisa mengangkat bahunya.
"Aku tidak tahu ini adalah kebahagiaan atau bukan, tapi jika orang tuaku tidak bahagia, apakah aku pantas untuk bahagia sendirian?" Yumna tersenyum dengan kecut. Hal itu membuat Lily merasa hatinya sedikit tercubit. Begitu juga dengan seseorang yang diam-diam mendengarkan pembicaraan itu secara diam-diam.