
"Kenapa Syifa?" suara Yumna terdengar di belakang Syifa. Yumna sudah rapi dengan stelan kerjanya.
"Eh, kak! Gak pa-pa" jawab Syifa sedikit terkejut. Sekali lagi dia melirik ke arah Reyhan yang masih meniti satu persatu menuruni tangga.
"Ayo sarapan!" ajak Yumna, Syifa mengangguk lalu mereka berdua turun ke lantai bawah dengan Syifa yang bergelayut manja pada lengan kakaknya.
Mereka pun sarapan bersama. Nenek dan kakek, Bima dan istri, serta ke empat anaknya, dan Reyhan juga ada disana. Lily dan Bima juga sudah menganggap Reyhan sebagai putra mereka, maka tidak asing kalau Reyhan bisa berada satu meja dengan mereka.
Seperti biasanya, tidak ada aturan di meja makan. Mereka sarapan sambil berbincang ringan, canda dan tawa selalu memenuhi ruangan itu saat makan. Sesekali tertawa, terkadang Lily meradang karena si kembar terus saja menjahili Syifa.
Selesai sarapan, yang lain sudah beranjak pergi. Bima dengan Yumna, sedangkan si kembar sudah berlari ke arah luar bersama pak Naryo di belakangnya. Yang tinggal di meja makan hanya Lily dan Syifa.
"Syifa, kamu kenapa melamun?" tanya Lily yang sedang mengambil piring kotor dari atas meja.
"Gak ada ma!" jawab Syifa sambil menyerahkan piring kosong milikya. Lily menatap Syifa tak percaya, pasalnya Syifa adalah anak periang, tapi pagi ini seperti ada yang di fikirkan anak itu.
"Kamu gak enak badan?" tanya Lily, Syifa menggelengkan kepalanya.
"Syifa sehat kok! Cuma lagi bingung aja!" Lily menatap putri keduanya dengan lekat.
"Kenapa? Tugas kamu belum selesai?" tanya Lily lagi.
__ADS_1
"Udah kok!" jawab Syifa.
"Terus?"
"Syifa bingung deh ma, sejak kapan coba Syifa berjalan sambil tidur. Kan gak pernah kan ya?" tanya Syifa menatap sang mama. Lily menatap putrinya dengan bingung.
"Memang kenapa?" tanya Lily.
"Semalam kan Syifa tidur di sofa, tapi pas tadi bangun tidur Syifa kok ada di atas kasur!" jawab Syifa dengan polosnya. Lily hanya menggelengkan kepalanya, Syifa benar-benar sangat polos.
"Kok bisa ya ma, padahal kan Syifa gak pernah gitu ma, gak pernah tidur sambil jalan. Syifa gak...."
"Syifa cepetan udah siang!" teriaknya lagi. Syifa segera bangkit berdiri dan mengambil tangan sang mama dan menciumnya.
"Syifaaaa!!!"
"Iyaaa. Segera!!!" Syifa balas berteriak. "Syifa berangkat ya ma. Bye ma!" pamit Syifa lalu kemudian berlari keluar. Lily menatap kepergian putrinya sambil menggelengkan kepala. Lalu menyelesaikan pekerjaannya membereskan meja makan. Seorang asisten membantu mencuci piring di dapur.
Reyhan menuruni tangga dengan membawa tas miliknya. Satu jam lagi dia bersama kakek dan nenek akan berangkat ke Singapura.
"Rey!" panggil Lily. Reyhan berhenti dan mendekat ke arah Lily.
__ADS_1
"Kamu ya!" Lily mencubit lengan Reyhan sedikit keras hingga pria itu terpekik kesakitan.
"Apa sih ma?" tanya Reyhan bingung. Pasalnya dia baru saja datang dan sudah di hadiahi cubitan di lengannya.
"Kenapa gak bilang kalau kamu yang pindahin Syifa semalam? Syifa kan jadi kebingungan dia!" tutur Lily. Reyhan tertawa kikuk, dia merasa malu, tak di sangka gadis itu benar-benar...
'ya ampun!' batin Reyhan. 'Kenapa hal yang seperti ini di ceritakan juga? anak itu benar-benar..!
"Kan kasihan ma kalau Syifa tidur di sofa, lagipula salah aku juga kemarin bawa Syifa pergi sampai malam." Lily menggelengkan kepalanya.
"Semua persiapan sudah selesai?" tanya Lily. Reyhan mengangguk.
"Aku pamit dulu ma, mau tanya kakek, siapa tahu kakek butuh bantuan." ucap Reyhan. Lily mengangguk. Reyhan pergi ke kamar kakek.
Setelah semuanya beres, Lily mengantar tiga orang itu berangkat ke bandara.
...*...
...*...
...*...
__ADS_1