
"Yumna!" panggil Haidar. Masih terus mengoles dan meniupi luka di tangan Yumna.
"Hem?" Jawab Yumna. Berharap suaranya tidak terdengar bergetar seperti di dalam dadanya.
"Soal perceraian itu. Elo yakin?" tanya Haidar.
Kalau saja Haidar bisa mendengarkan sesuatu terasa ada yang patah di dalam hati Yumna apa mungkin semua akan baik-baik saja?
"Gue... Gue yakin! Sebelum kita gak bisa melepaskan diri masing-masing lebih baik kita selesaikan sekarang juga, bukan?" lirih Yumna lembut. Namun, terdengar seperti kilatan petir di susul dengan hujan badai bagi Haidar.
"Soal yang malam itu ya?"
"He-em!" Yumna menjawab singkat. Haidar melepaskan tangan Yumna.
"Maafin gue, karena udah buat elo ketakutan. Salah gue karena gak bisa jaga diri dan mengakibatkan elo hampir celaka." sesalnya.
"Justru itu Haidar. Elo punya Vio, dan gue suatu saat punya seseorang yang akan gue suka, gue cinta. Makanya, sekarang selagi kita masih aman sebaiknya kita selesaikan."
Ahh... harus menghalangi hatinya dengan tameng apa lagi? Pisau belati besar maupun kecil kini serasa menghujam hatinya. Bolehkah kalau Haidar menolak rencana ini? Tidak! Dia pasti akan di cap sebagai manusia paling serakah di muka bumi ini.
"Gue cuma takut. Keadaan kita bakalan lebih jauh dari ini. Lalu bagaimana hati kita? Apa kita siap untuk konsekuensinya? Hidup dengan orang yang gak kita cinta, sampai kapan itu akan bertahan? Kalau untuk saling menyakiti diri sendiri, gue rasa lebih baik kita selesaikan dari sekarang. Lagipula elo juga harus mempersiapkan diri untuk membawa Vio ke hadapan mami dan papi." Tahu bagaimana perasaan Yumna saat ini? Seperti ada yang retak pada hatinya lalu perlahan-lahan retakan itu jatuh ke jurang yang tak berdasar!
Haidar menghela nafasnya berat. Benar apa yang di katakan Yumna. Kalau sampai itu terjadi, bagaimana dengan sisa hidupnya? Bagaimana dengan Vio? Mungkin mami akan lebih menerima Vio jika dirinya gagal dengan Yumna. Tapi hatinya... akh... Sakit!
"Oke!" ucap Haidar menyandarkan dirinya pada sandaran kursi.
Yumna menoleh, menatap Haidar.
"Kita akan cerai, tapi tunggu cari alasan yang tepat buat bilang semua ini pada kedua orang tua kita."
Akh... entah harus senang atau apa. Nyatanya Yumna merasa semakin tak nyaman dalam hatinya.
Dan Haidar... perang di dalam batinnya membuat dia merasa bagai benang ruwet yang tak bisa lagi dia urai.
Hening.
Keduanya sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing. Merasa tak ada lagi yang bisa di bicarakan, Yumna bangkit berdiri.
"Gue ke kamar dulu deh. Kalau elo mau istirahat nonton tv, atau kalau mau rebahan di kamar atas ya!" Tanpa menunggu jawaban Haidar, Yumna membawa cangkir kopinya ke kamar.
Haidar menatap kepergian Yumna dengan tatapan yang entah apa. Rasanya ingin sekali dia memeluk Yumna erat, hingga gadis itu mengurungkan niatnya untuk bercerai? Haidar sudah gila memikirkan hal itu!
Sadar Haidar! Sadar! Meskipun Yumna istrimu tapi dia bukan milikmu seutuhnya!
Yumna duduk di tepi kasur, menyesal kopinya yang sudah menghangat. Pembicaraannya barusan membuat rasa laparnya menghilang entah kemana.
"Lagipula mau makan apa? Nasi uduk juga sudah habis dia makan!" bergumam kesal..
__ADS_1
Yumna hanya terdiam beberapa saat di sana, duduk sambil melipat kedua kakinya di atas ranjang. Cangkir kopi ia dekap di kedua telapak tangan.
"Keputusan aku sudah bulat. Lagipula aku akan berjasa untuk dia karena menjauhkan dia dari dosa dengan pacar gelapnya!" geram memikirkan hal itu, Yumna meneguk sisa kopinya hingga habis. Bayangan Haidar yang selalu mesra dan dengan Vio, lalu bayangan mereka saat bermalam bersama.
Tangan Yumna bergerak naik dengan cangkir di tangannya. Memikirkan hal itu membuat dia ingin membanting barang yang ada di tangannya. Lalu kemudian urung dia lakukan, mengingat cangkir di tangannya adalah cangkir sejarah mama dan papanya.
Bahkan cangkir pun menjadi sejarah perjalanan cinta mereka. Cangkir dengan huruf dan gambar hati lumrah banyak dimana-mana. Tapi Lily pernah bilang baik Bima dan dirinya pasti memakai cangkir itu ketika minum. Jadi kesimpulannya tetap cangkir sejarah atau bukan?! Sweet kan mereka berbagi cangkir?
Haidar turun ke lantai bawah, dia menatap kamar Yumna yang tertutup rapat. Ini sudah hampir jam dua sore. Suasana rasanya sepi sekali. Dan sepertinya Haidar benci suasana sepi.
"Apa Yumna tidur?" gumamnya.
Haidar menyalakan tv, mungkin dengan menonton bisa membuatnya hilang rasa jenuhnya. Tapi hal itu tidak lama. Haidar lebih ingin mendengar celotehan Yumna. Haidar lebih bersemangat adu argumen dengan Yumna.
Sekarang saja sudah seperti ini apalagi nanti saat Yumna benar-benar tidak ada.
Merasa tak tahan. Haidar bangkit dan menuju ke arah pintu kamar. Dia tersenyum lebar, tak peduli jika si penghuni kamar akan marah-marah.
"Dia marah, masa bodoh! Sudah biasa marah-marah, kan?!"
Tok. Tok. Tok.
"Yumna!" panggil Haidar. "Yumna!" Tak mau menyerah sampai dia membuka pintu kamar. Selama pintu itu menutup Haidar akan terus melakukan aksinya.
Entah berapa lama Haidar berdiri dan mengetuk pintu itu, hingga dia merasa emosi dan kakinya terasa pegal. Kesal!
Haidar meraih handle pintu yang ternyata tidak di kunci. Pintu terbuka lebar. Di dalam sana terlihat Yumna yang sedang meringkuk di atas kasur dengan wajah kesakitan sedang memegangi perutnya. Wajahnya pucat. Haidar setengah berlari mendekat. Khawatir.
"Hei... Yumna. Hei... bilang sama gue, elo kenapa?" panik Haidar. Dia mengguncangkan bahu Yumna keras.
"Diem deh, Haidar. Gue gak bisa gerak. Kalau gerak perut gue sakit!" lirih Yumna. Dia kesal tapi tak ingin berdebat karena perutnya yang sakit.
"Sakit kenapa? Perih?" tanyanya lagi. Yumna hanya mengangguk. Haidar menatap cangkir bekas kopi masih berada di atas nakas. Dan ia ingat sesuatu, apa mungkin Yumna belum makan?
"Elo dari pagi makan gak?" Yumna menggeleng pelan.
"Hahh... pantes aja. Gak sarapan malah ngopi!" omelnya, lantas berdiri dan pergi keluar. Tak lama Haidar kembali dengan gelas berisi air hangat di tangannya. Dia menyimpannya di atas nakas, lalu berjalan mendekati tas yang tadi pagi ia simpan di dekat kopernya. Mencari obat yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Haidar mendekat ke arah Yumna, duduk di sampingnya dan meminta Yumna untuk menelan obat itu.
"Makan nih, terus minum." menyodorkan obat itu pada Yumna, namun Yumna hanya bergeming di tempatnya.
Haidar membantu Yumna untuk mengubah tidurnya. Dia tahu pasti apa yang Yumna rasakan saat ini, karena dia juga pernah merasakannya. Sering, malah. Penyakit lambung yang sering ia abaikan keberadaannya.
Yumna menolak saat Haidar lagi-lagi menyodorkan obat ke dekat mulutnya.
"Ini manis, gak pahit! Apa elo mau disuapin obat pakai cara lama? Gue sih seneng-seneng aja kalau elo mau pakai cara yang dulu, tapi jangan salahin gue kalau..."
__ADS_1
Grep... Yumna meraih obat itu dari tangan Haidar dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Tak mau jika Haidar benar-benar melakukan hal itu pada dirinya. Haidar tersenyum, ancamannya terbukti ampuh.
Yumna mengunyah obat manis dengan rasa mint itu di antara giginya. Haidar mengambil air dan memberikannya langsung pada Yumna.
"Kenapa elo gak makan?" tanya Haidar setelah menyimpan kembali gelas itu.
"Makanan gue kan, elo yang habisin!" Yumna masih berbicara dengan lirih, perutnya sudah terasa enak sedikit demi sedikit.
"Ya maaf. Gue gak tahu. Kirain elo tahu gue mau pulang dan sediakan sarapan itu buat gue!" ucap Haidar polos.
"Gue gak tahu elo mau pulang kapan. Gue kira elo bakal pulang nanti malam sama Vio."
Haidar membuka tutup kayu putih di tangannya, dia membubuhkan beberapa tetes kayu putih di telapak tangannya. Diangkatnya baju Yumna sedikit membuat Yumna terkejut dan mempertahankan bajunya.
"Mau ngapain lo?" tanya Yumna garang.
"Usapin ini ke perut. Kalau anget, cepet enakan!" tuturnya.
"Gak... Gak perlu biar gue sendiri aja!"
"Sayang ini udah ada di tangan gue! Sini. Daripada mubazir! Gak akan... Gue gak akan macem-macem. Janji!" ucap Haidar tahu akan ketakutan Yumna. Yumna melepaskan tangannya dari sana.
"Jangan di buka banyak-banyak! Tutup mata!" titah Yumna. Haidar mendengus kesal, tapi tak ayal dia lakukan juga.
Perlahan Haidar mengusap perut Yumna dengan kayu putih, dia mengusapnya dengan lembut. Berputar di sekitar perutnya membuat Yumna merasa nyaman, hangat. Juga merasa malu karena baru kali ini dia membiarkan Haidar bahkan menyentuh perutnya.
Yumna menatap Haidar, yang sedang menutup matanya. Terlihat teduh, tak menyangka, sungguh tak menyangka sisi lembut yang Haidar tunjukkan hari ini seperti membuat batinnya tak rela untuk berpisah.
Bahkan Yumna dengan lancangnya berfikir kalau setelah ini Haidar dan dirinya akan sama-sama mendekat, dengan saling pandang, dan lalu berci...
Aku sudah gila!! Yumna menepis pemikiran liarnya.
"Udah Haidar, jangan lama-lama! Jangan modus!!" Yumna mengingatkan. Padahal di dalam hatinya dia sungguh takut jika hal itu terjadi.
...****************...
Author: Takut apa Yumna?.
Yumna: Takut kecewa, Thor. Elu mah bikin gue dan mama Lily sengsara di cerita ini. Sebenernya yang jadi peran utama itu siapa sih?
Author: Udah jelas dari judulnya nama siapa?!
Yumna: Iya tapi elu mah keterlaluan! Bikin perasaan gue teraduk-aduk. Jadi gue sama siapa dong nantinya kalau bukan sama Haidar jangan bikin gue baper sama dia!
author: Ada deh, gak usah tau. Kalau di bocorin sekarang nanti para readers gak penasaran!!
Yumna: Awas aja kalau endingnya gak bahagia. 👊
__ADS_1
author: Makanya ajak para readers dong buat buat like dan komen!
Yumna: tuh denger gak para readers? dukung authornya biar lebih semangat namatin cerita ini oke 😉?!